Selasa, Januari 20Literasi Berkeadaban - Berbakti, Berkarya, Berarti

Karya Anggota

O’Lord

O’Lord

Karya Anggota, Puisi
O'Lord Life's getting Harder... Nowadays. How how how can I get through this? O'Lord O'Lord, help me, help this Unperfect Creatures. Who doesn't know what to do and what to do and what to do... With all the universe, I'm asking for help... To make easier for this Unperfect Creatures, to get through this Darkness... to get out from this Cage... I'm not an Animal. Release me... Ohhh You The Greatest and who made this Greatest Universe. I know You'll Listen when Nobody's Listening. So listen to me... O'Lord O'Lord who owns The Universe. O'Lord, give me one thing, a Light when I'm lost... O'Lord O'Lord who owns The Past and The Future. Give me one thing, a Heart to Recover... For the Past I Run, for the Future I Walk, For The Universe I Wake Up, and... For This Unperfect Creatures... I ...
Mantra Penawar Bisa

Mantra Penawar Bisa

Cerpen
Tadi malam aku bermimpi yang sangat aneh. Aku sedang berjalan di depan rumah ketika seekor ular berwarna coklat menghentikan langkah kakiku. Semula tubuhnya hanya sebesar jempol kaki dengan panjang tidak lebih dari sejengkal orang dewasa. Ular yang biasa dikenal oleh orang kampungku dengan sebutan Ular Bodoh. Disebut begitu karena biarpun disenggol kaki, kecuali terinjak, ia tidak akan bereaksi. Diam seperti mati. Meski begitu, kalau menggigit bisanya terkenal mematikan dan ditakuti oleh warga pesisir di sekitar tempat tinggalku. Saat aku berusaha mengusirnya dengan sebuah kayu, tiba-tiba saja tubuhnya membesar dengan cepat. Dalam sekejap ukuran kami menjadi seimbang. Matanya menyala ketika menatapku. Melihat bahaya aku berusaha berlari ke dalam rumah. Berusaha berteriak memanggil ayah. Te...
Becak Daeng Baco

Becak Daeng Baco

Cerpen, Karya Anggota
“Bagaimana Daeng Baco, anda bersedia?” Pertanyaan yang sama untuk kedatangan yang kelima kalinya dari ketua Partai Kerikil. “Yakinlah Daeng Baco, anda memiliki kemungkinan sangat besar untuk terpilih. Saya sudah survei 3 kali dari lembaga yang berbeda. Kompetensi mereka tidak diragukan. Perhitungan mereka sangat akurat. Buktinya, seluruh survei Pilkada mereka tidak meleset.” Baco diam tertunduk memperhatikan lantai rumahnya yang hanya disemen seadanya, tanpa keramik, tanpa marmer. “Daeng Baco ragu? Tenang saja. Daeng Baco cukup iyakan, saya yang urus seluruh persiapan administrasi Daeng Baco.” Kali ini Baco memandang dinding rumahnya yang terbuat dari kayu triplek tipis dan berlubang sana-sini. “Bayangkan Daeng Baco, jika terpilih bukan hanya lantai baru yang bisa dibeli, bukan hanya dindi...
Visi Ketuhanan dalam Berkarya (bag 1)

Visi Ketuhanan dalam Berkarya (bag 1)

Karya Anggota, Kritik Sastra
Sebuah karya sastra tidak lahir begitu saja. Ia tidak muncul dari ruang yang kosong. Karya sastra yang kuat biasanya lahir dari penulis yang pula kuat visi atau pandangan kepengarangannya. Dalam esai singkat ini kita mencoba menyimak visi ketuhanan khususnya keislaman dalam karang-mengarang. Dalam esai ini kita antara lain akan membaca dengan singkat beberapa karya dan pemikiran sastrawan Islam. Kuntowijoyo, Sutardji Calzoum Bachri, dan Danarto adalah contoh sebagian sastrawan yang menjadikan Tuhan sebagai sahabat dalam berkarya. Judul karangan ini mengacu pada kalimat Hamdy Salad dalam buku Agama Seni: Refleksi Teologis dalam Ruang Estetik (2000). Sementara pembahasan karya sastrawan yang disebut di muka sebagian besar merujuk pada paparan-paparan Abdul Hadi WM dalam buku esainya Kembali ...
Menelisik Jejak Islam di Mezquita Cordoba

Menelisik Jejak Islam di Mezquita Cordoba

Karya Anggota, Travelling
Oh, holy place of Cordoba! From passion, your presence Passion wholly eternal In which there’s no going and coming … Sacred for lovers of art, you are the glory of faith, You have made Andalusia pure as a holy land[1]   Kedua mata saya mengembun tak lama setelah memasuki La Catedral De Cordoba alias Mezquita Cordoba alias Masjid Cordoba. Beragam rasa mengaduk. Rasa syukur karena bisa menjejak tempat yang sejak saya kecil telah begitu lekat di pikiran dengan segala keagungan dan rangkaian kisah yang ada di baliknya. Takjub dengan ratusan pilar-pilar yang masih berdiri kokoh, khas dengan garis-garis merah di tiap lengkungannya. Dan, ini yang mungkin yang paling membuat batin saya tercekat hingga kemudian meneteskan air mata, rasa sedih bahwa saya tak bisa shalat di “masjid” ini. Bahw...
Sastra Islam dan FLP

Sastra Islam dan FLP

Karya Anggota, Opini
Apakah Sastra Islam benar-benar ada? Kalau ada seperti apa batasannya? Apakah sama Sastra Islam dengan Sastra Islami? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu masih menjadi polemik dalam dunia kesusasteraan Indonesia Selama ini istilah Sastra Islam masih disebut secara “malu-malu” dan terselubung oleh para sastrawan Islam. Taufik Ismail menyebut Sastra Dzikir, Kuntowijoyo memakai istilah Sastra Profetik, Danarto menggunakan istilah Sastra Pencerahan, M. Fodoli Zaini  menyebutnya sebagai Sastra yang terlibat dengan dunia dalam, sementara Sutardji Caloum Bachri memberi istilah Sastra Transenden dan Abdul Hadi W.M. mengistilahkan Sastra Sufistik, untuk karya-karya mereka yang berakar dari wacana keimanan atau religiusitas yang dibawanya. Namun selain Abdul Hadi W.M. tak satupun sastrawan di atas yan...
Tantangan Penulis Muslim

Tantangan Penulis Muslim

Opini, Senandika
SAAT INI, dunia Melayu—yang termasuk dalam benua Asia—tengah bangkit. Kebangkitan ini terjadi dalam banyak hal, tidak hanya masalah ekonomi, tapi juga kebudayaan. Kishore Mahbubani, pemikir kebijakan publik dari Singapura, dalam bukunya The New Asian Hemisphere, menulis, “Dulu, bangkitnya Barat mengubah dunia. Bangkitnya Asia sekarang akan membawa perubahan signifikan yang serupa.” Dalam buku tersebut, Mahbubani mengutip sebuah narasi dari Larry Summers yang menulis, “Kebangkitan Asia, berikut semua ikutannya akan menjadi kisah-kisah sukses dalam buku-buku sejarah yang akan ditulis 300 tahun dari sekarang, dengan Perang Dingin dan bangkitnya Islam sebagai kisah-kisah pengiringnya.” Kata ‘bangkitnya Islam’ yang disinyalir Larry Summers itu tidak bisa dilepaskan dari bangkitnya sastra dan b...
Nu-Ra-Ni

Nu-Ra-Ni

Cerpen, Karya Anggota
Lelaki itu termangu. Lama. Dia tahu teman-temannya pasti akan mencibir dia habis-habisan jika hari ini dia memutuskan untuk tidak ikut. Cibiran itu mungkin akan lebih dalam jika mereka tahu alasannya. Kini sudah dihabiskannya dua cangkir kopi meski hari masih terlalu pagi untuk ngopi. Suasana senyap. Dingin. Dia sudah di ruangannya, sementara teman-temannya mungkin masih di jalan atau masih melingkar dibalik selimut, atau memeluk anak istri. Diliriknya jam, empat jam lagi. Kini dia melihat jarum detik yang berdetak maju. Mendengarkan suara ketukan yang entah kenpa mendadak jadi sangat keras.  Hidup itu bergeser Japri! Dia memaki dirinya sendiri. Lalu merenung-renung tak jelas. Setengah jam yang lalu masih dirasakannya kopi panas dan pisang goreng Bu Leha, masih ditepuknya bahu Kang Samron—...
Visi Ketuhanan dalam Berkarya (bag 4 )

Visi Ketuhanan dalam Berkarya (bag 4 )

Karya Anggota, Kritik Sastra
Danarto (lahir di Sragen, Jawa Tengah, 27 Juni 1940) meyakini bahwa sastra merupakan alat untuk menerima dan memberikan pencerahan. Salah satu karya sastranya adalah cerpen “Lempengan-lempengan Cahaya” yang disiarkan pertama kali di Horison, Juni 1988, lalu dimuat dalam buku kumpulan cerpen Setangkai Melati di Sayap Jibril (2001). Menurut Abdul Hadi WM, “Lempengan-lempengan Cahaya” berhasil memadukan dimensi sosial dan dimensi transendental yang diidamkan setiap penulis sufistik. “Lempengan-lempengan Cahaya” memilih tempat di Palestina ketika pasukan Israel bentrok dengan orang-orang Palestina yang melancarkan intifadah. Cerpen ini dibuka dengan percakapan antara Surah al-Fatihah, Ayat Kursi, dan Surah Ali Imran ayat 18-19 sebelum ketiganya diwahyukan kepada Nabi Muhammad dan kemudian ters...
Visi Ketuhanan dalam Berkarya (bag 3)

Visi Ketuhanan dalam Berkarya (bag 3)

Karya Anggota, Kritik Sastra
Sutardji Calzoum Bachri (lahir di Renggat, Riau, 24 Juni 1941) dalam khazanah kesusastraan Indonesia barangkali lebih terkenal dengan kredo puisinya yang kontroversial dan menghebohkan pada tahun 1970-an. Menurutnya, “Kata (dalam puisi) harus dibebaskan dari beban pengertian.” Tapi dalam perjalanan kepenyairannya ia terus melakukan pengembaraan dan pencarian spiritual. Tidak heran terdapat juga nada sufistik atau mistikal dalam sajak-sajaknya yang awal (terhimpun dalam buku O dan Amuk) yang cenderung nihilistik. Menurut Abdul Hadi WM, gejala itu semacam kerinduan penyair akan sastra transendental. Dalam kumpulan puisinya ketiga, Kapak, kecenderungan sufistik semakin jelas. Kapak secara umum merupakan kumpulan puisi berisi renungan akan maut dan kefanaan manusia. Renungan yang mendalam akan...

Pin It on Pinterest