Menelisik Jejak Islam di Mezquita Cordoba

8 menit baca |

73229642Cordoba1Oh, holy place of Cordoba!
From passion, your presence
Passion wholly eternal
In which there’s no going and coming

Sacred for lovers of art, you are the glory of faith,
You have made Andalusia pure as a holy land[1]

 

Kedua mata saya mengembun tak lama setelah memasuki La Catedral De Cordoba alias Mezquita Cordoba alias Masjid Cordoba. Beragam rasa mengaduk. Rasa syukur karena bisa menjejak tempat yang sejak saya kecil telah begitu lekat di pikiran dengan segala keagungan dan rangkaian kisah yang ada di baliknya. Takjub dengan ratusan pilar-pilar yang masih berdiri kokoh, khas dengan garis-garis merah di tiap lengkungannya. Dan, ini yang mungkin yang paling membuat batin saya tercekat hingga kemudian meneteskan air mata, rasa sedih bahwa saya tak bisa shalat di “masjid” ini. Bahwa setelah 450 tahun berdiri, masjid ini kini adalah sebuah katedral….

 

Menuju Cordoba
Untuk menghemat waktu, saya dan teman menggunakan kereta Renfe Altaria dari kota Madrid ke Cordoba. Tiket seharga 57 euro kami beli sehari sebelumnya di stasiun Madrid Atocha. Jarak Madrid-Cordoba sejauh 400 km ditempuh hanya dalam waktu 2 jam. Sampai di stasiun Cordoba Central jam 10 pagi kami langsung mencari pusat informasi turis. Setelah membeli peta seharga 1 euro dan mendapat penjelasan cara menuju ke Mezquita, kami menitipkan koper di luggage left. Seorang pria baya tinggi besar dengan ramah menyambut kami dan berkata, “From Indonesia?”. Ah, jarang sekali dalam perjalanan Eropa kami ada yang menebak dengan tepat bahwa kami berasal dari Indonesia. Biasanya kami ditebak sebagai orang Malaysia. Pria itu kemudian bercerita kalau dia punya teman baik dari Indonesia bernama Indira. Setelah membayar biaya titip tas, si Bapak memberi kami cokelat, dan kami pun bergegas menuju halte bus yang akan membawa kami ke Old City. Tujuan utama kami adalah The Mezquita of Cordoba, Masjid Agung Cordoba.

Mendung yang sempat membuat kami khawatir saat tiba di stasiun kereta, menyingkir saat kami sampai di Old City. Panas menyengat. Langit begitu biru dan bersih. Sepuluh menit berjalan dari halte bus, kami sampai di perbatasan antara gerbang dan Jembatan Romawi yang melintasi sungai Guadalquivir. Menara Mezquita, yang sekarang menjadi bell tower, terlihat di kejauhan. Alunan biola menyambut kami. Seorang gadis cantik berdiri tepat di sisi kanan gerbang, memainkan lagu riang dari biolanya. Sejenak kami menikmati gesekan biola si gadis. Banyak turis yang menikmati gesekan biola sang gadis, memasukkan euro ke kotak biola yang terbuka di hadapan si gadis. Tak jauh dari gerbang yang desainnya begitu Romawi tersebut, sebuah toko suvenir tampak ramai oleh turis. Wah, belum apa-apa saya sudah tertarik melihat-lihat. Tapi kemudian saya sadar kalau waktu kami cukup terbatas di Cordoba. Jam 4 sore kami harus berada di terminal bus, untuk menuju Granada.

 

The Mezquita
1226 tahun lalu Mezquita Cordoba dibangun sebagai sebuah masjid, tepatnya pada tahun 786 Masehi, atau 75 tahun setelah pasukan Islam pertama kali menguasai Spanyol. Khalifah Bani Umayyah, Abdurrahman III, yang memulai pembangunan masjid yang ditopang 1293 pilar-pilar kayu berukir. 19 pintu berlapiskan perunggu juga dihiasi ukiran yang menakjubkan. Hiasan dindingnya diwarnai unsur flora dan inskripsi dari Al-Qur’an dalam bentuk ukiran kapur, kaca, marmer, dan mozaik emas. Panjang Mezquita Cordoba saat ini mencapai 175 meter dengan lebar 134 meter, dan tinggi 20 meter. Sebelum Christian Reconquista atau Penaklukan Kembali Spanyol pada tahun 1236, Masjid Cordoba mengalami 7 kali perluasan di bawah kekuasaan Islam.

Pada masanya, keagungan dan kehebatan Masjid ini mencerminkan kemakmuran dan kesejahteraan Andalusia. Cordoba yang saat itu merupakan ibukota Kekhalifahan Bani Umayyah menjadi pusat perdagangan dan ilmu pengetahuan. Masjid bukan sekadar tempat ibadah, tapi pusat segala aktivitas. Khalifah menggratiskan anak-anak fakir miskin untuk belajar di sekolah yang ada di Masjid. Ada 170 wanita yang berprofesi sebagai penulis Al-Qur’an. Kesemarakan Masjid ditandai dengan 4700 buah lampu yang menerangi Masjid saat malam hari, dan membutuhkan 11 ton minyak per tahun. Perpustakaan Masjid Cordoba menjadi ladang bagi orang-orang yang haus ilmu pengetahuan. Setiap tahun perpustakaan dikunjungi lebih dari 400.000 orang. Tak hanya Muslim, tapi kaum non Muslim pun turut mereguk ilmu dari perpustakaan. Salah satunya adalah Paus Sylvester II, pemimpin kaum Katholik. Ada begitu banyak ulama dan ilmuwan besar yang “lahir” dari Masjid Cordoba, di antaranya Ibnu Rusyd (ahli fikih, filsuf, dan dokter), Ibnu Hazm (sastrawan, ahli fikih, juga pakar studi perbandingan agama), Al-Qurthubi (ahli tafsir), Ibnu Bajjah (ahli matematika), Ibnu Thufayl (dokter dan filsuf), Al-Zahrawi (ahli bedah), hingga Al-Idrisi, seorang kartografer dan geographer.

Setelah Penaklukan Kembali, Masjid Cordoba langsung diubah menjadi gereja. Tak hanya mengubah semua masjid menjadi gereja, kekuasaan Kristen di bawah kepemimpinan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella juga mengubah semua sendi-sendi kehidupan yang berbau Islam. Kaum Muslim diharuskan menjadi penganut Kristen. Tak terhitung Muslim yang tewas dibunuh karena mempertahankan keyakinannya. Tak boleh ada simbol-simbol Islam. Kaum Muslim yang selamat dan tak memeluk Kristen, menyembunyikan diri dan identitasnya sebagai Muslim. Tragis. Kekuasaan yang dibangun selama 500 tahun lebih pun runtuh.

 

Pohon Jeruk
Deretan pohon jeruk, dengan buahnya yang masih hijau bergelantungan, langsung menyambut pengunjung saat memasuki pintu utama The Mezquita. Patio de los Naranjos, atau Kebun Jeruk, terbuka untuk umum dan setiap hari menjadi taman publik. Sebelum antre membeli tiket seharga 8 euro untuk masuk ke Mezquita Cordoba, saya dan teman sengaja duduk di bawah pohon jeruk, menikmati semilir angin sambil mengamati menara masjid. Dari informasi yang saya baca, teryata deretan pohon jeruk ditanam simetris dengan deretan pilar-pilar yang ada di dalam Masjid Cordoba. Wow. Bangsa Moor sangat menyukai jeruk dan menanamnya di banyak tempat. Salah satunya saya lihat dua hari kemudian di halaman Katedral di Granada. Pohon-pohon jeruk berderet, tapi buahnya sudah menguning.

Pencahayaan remang-remang membuat mata saya sedikit menyipit saat memasuki Mezquita, karena sejak tadi terpapar sinar terang matahari. Pencahayaan itu ternyata disengaja untuk menimbulkan efek dramatis, sebelum kita mendapati cahaya cukup terang di sisi tengah Mezquita, dan kemudian meredup kembali di bagian selanjutnya. Saya sempat melihat petugas yang sedang memperbaiki pencahayaan Mezquita. Ternyata bukan lampu, tapi semacam petromaks atau lentera. Tak heran cahayanya remang. Lebih tepat lagi sendu, menurut saya.

Deretan pilar dengan sisi atas melengkung seperti tapal kuda dan garis warna merah begitu mirip dengan pilar-pilar yang ada di Masjid Nabawi, Madinah. Alhamdulillah, kekhasan ini tidak diubah oleh penguasa Spanyol saat mengubah masjid ini menjadi katedral. Di beberapa sisi yang merapat ke dinding, beberapa ruangan kecil sengaja disekat dan menjadi kapel-kapel untuk berdoa. Patung-patung dan desain yang berbeda tampak di ruangan tersebut. Semakin ke dalam dan sampailah kami di bagian tengah, yang kini menjadi tempat utama untuk misa. Ada dua sisi di area ini. Sisi kanan adalah ruang dengan bangku-bangku tinggi berukir dan sisi kiri adalah ruang agak terbuka yang menjadi pusat tempat misa. Patung-patung dan lukisan di bagian depan dengan podium agak tinggi, tempat pendeta melakukan pidato. Di beberapa sisi saya melihat ukiran-ukiran dan bagian yang sengaja ditambahkan saat masjid diakuisisi menjadi gereja. Ada sebuah lukisan yang lagi-lagi membuat mata saya mengembun, yakni lukisan yang menggambarkan takluknya penguasa terakhir Kekhalifahan Islam di Spanyol. Beberapa sosok bersorban, sepertinya sultan saat itu, dilukiskan merunduk, menyerahkan kunci kepada Raja yang berdiri angkuh.

 

Mihrab Cantik
Semakin dalam menyusuri Mezquita, akhirnya kami sampai di bagian Mihrab, yang dahulu merupakan bagian sentral Masjid Agung Cordoba. Di sinilah imam memimpin shalat kaum Muslim, menghadap kiblat di Makkah. Pada masanya, sepuluh ribu lebih kaum Muslim dapat termuat di masjid ini. Bagian Mihrab ini begitu cantik. Ukiran khas Arab dengan warna cerah. Aduhai, rasanya begitu gatal saya ingin shalat dan bersujud di sisi ini. Namun, banyak petugas melakukan pengawasan, dan memang melakukan shalat di masjid-masjid yang kini menjadi gereja, terlarang hukumnya. Ini juga yang sebenarnya tengah diperjuangkan kaum Muslim di Spanyol. Sebelum berangkat ke Eropa, saya sempat membaca berita tentang kaum Muslim Spanyol yang giat berkampanye agar diizinkan beribadah bersama orang-orang Kristen di Mezquita-Katedral Cordoba. Menurut Mansur Escudero, pemeluk Islam asli Spanyol, Mezquita Cordoba penting bagi setiap orang di Spanyol, dan upaya mereka untuk dapat shalat di sana adalah paradigma indah tentang  toleransi, pengetahuan, dan budaya. Agar orang-orang dari agama yang berbeda hidup bersama. Spanyol sendiri saat ini adalah rumah bagi 1 juta Muslim.

Namun Uskup Cordoba, Demetrio Fernandes, menolak upaya kaum Muslim tersebut. Menurutnya hal itu seperti berbagi istri antara dua suami.  “Apakah mereka akan senang untuk melakukan hal yang sama di masjid mereka?” katanya seperti dikutip CNN. “Sama sekali tidak. Karena aku mengerti perasaan keagamaan mereka dan mereka harus memahami kita juga. Perasaan religius adalah satu terdalam dalam hati manusia, sehingga tidak mungkin untuk berbagi.”

Bulan April lalu, sekitar seratus Muslim melakukan aksi dengan membawa karpet dan menggelarnya di dalam Masjid untuk melakukan shalat. Namun aparat keamanan mengusir dan menangkap dua orang pimpinan aksi.

 

Semoga…
Tak jauh dari Mihrab, terdapat ruangan yang menyimpan artefak-artefak, batu-batu dari berbagai zaman, pedang-pedang yang sepertinya digunakan untuk reconquista, dan berbagai artefak lain. Dan, perjalanan menyusuri masa keemasan Islam di Spanyol yang terwujud dalam bentuk Masjid Cordoba pun berakhir saat cahaya terang menyembul dari salida alias pintu keluar. Deretan pohon jeruk kembali menyambut kami. Sebelum kembali ke Cordoba Central, saya menyempatkan mampir ke beberapa toko suvenir yang bertabur di dekat pintu keluar masjid. Kaos dengan tulisan bahasa Arab banyak dijual. Sayang harganya lumayan mahal buat kantong saya. Hanya satu kaos terbeli dan beberapa kartu pos serta magnet khas Cordoba.

Matahari masih bersinar garang saat kami menyusuri dinding luar Mezquita. Kembali tangan saya tak henti memencet shutter kamera. Begitu juga saat kami kembali ke gerbang, Roman Bridge alias Jembatan Romawi kami susuri sejenak hingga setengah jalan. Gerbang Roman Bridge menjadi fokus latar foto kami.

Satu doa utama saya saat menapak kembali jalan menuju halte bus, semoga suatu hari nanti saya dan umat Muslim lain dapat kembali shalat di Masjid Agung Cordoba, seperti yang kini masih diperjuangkan oleh kaum Muslim Spanyol. Aamin.

  


Catatan perjalanan Rahmadiyanti Rusdi


[1] Puisi “The Mosque of Cordoba” oleh Allama Muhammad Iqbal

Post Author: Wildan Nugraha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *