Karya Kritik Sastra

Visi Ketuhanan dalam Berkarya (bag 2)

Sumber: agung-on-sastra.blogspot.com
Sumber: agung-on-sastra.blogspot.com

Menyimak Kuntowijoyo kita mendapatkan bahwa untuk sebuah sastra transendental yang terpenting ialah makna, bukan semata-mata bentuk. Oleh karenanya ia lebih bersifat abstrak, bukan konkret; spiritual, bukan empiris; dan yang di dalam, bukan yang di permukaan. Dalam esai “Saya Kira Kita Memerlukan Juga Sebuah Sastra Transendental” Kuntowijoyo menyatakan pembebasan pertama yang harus dilakukan oleh pengarang, berhubungan dengan sastra, adalah menyangkut bahan penulisan. Para pengarang selama ini, menurut dia, selalu terikat dan tergantung pada aktualitas. Keterikatan dan ketergantungan semacam ini harus dilepaskan agar seorang pengarang bisa mendapatkan sebuah gagasan murni tentang dunia dan manusia. Dengan cara demikian angan-angan dan pikiran kita sanggup mencipta sebuah “dunia tersendiri”  yang tidak dibatasi oleh ruang, waktu, dan peristiwa keseharian. Pembebasan kedua bertalian dengan pendekatan sastra. Pembebasan semacam ini mendorong kita tidak hanya menjadi juru bicara gejala (fenomena) tangkapan indra, akan tetapi yang lebih penting ialah pengungkapan gejala yang berada di balik gejala tangkapan indra. Ini berarti kita menjadi wakil dari sebuah dunia yang penuh makna. Cara kita mendekati objek-objek sastra ialah seperti kita menangkap hakikat segala sesuatu.

Demikianlah bagi Kuntowijoyo sastra tak lebih dari simbol. Menurut dia manusia mentransformasikan lingkungan dan kehidupannya ke dalam simbol. Simbol ialah dunia baru. Salah satu bentuk ikhtiar mentransformasikan lingkungan dan kehidupan ialah sastra. Karena sastra merupakan simbol, maka dunia yang disajikan bukanlah realitas sebagaimana yang hanya dapat dicerap pikiran dan indra, melainkan suatu dunia yang telah dibentuk oleh gagasan dan pemikiran penulisnya. Segala sesuatu yang dipaparkan seorang pengarang dalam karyanya tidak selalu dapat dirujuk kepada peristiwa dan kejadian tertentu dalam sejarah, tetapi suatu hasil penafsiran pengarang berdasar pemahaman dan gagasan tertentu. Menurut Kuntowijoyo, sastra ialah konsepsi tentang sesuatu; kadang-kadang sastra ialah sublimasi, proyeksi, atau katharsis atas suatu kejadian.

Dalam perjalanan kepengarangan dan kecendekiaannya Kuntowijoyo (lahir di Sanden, Bantul, Yogyakarta, 18 September 1943) mengemukakan juga konsepsi sastra profetik. Beberapa pekan sebelum meninggal dunia pada 22 Februari 2005, Kuntowijoyo menulis esai “Maklumat Sastra Profetik: Kaidah, Etika, dan Struktur Sastra”  yang kemudian dimuat majalah Horison Edisi Mei 2005. Dalam esai tersebut dia menuangkan kaidah-kaidah sastra profetik dan etika profetik yang antara lain diilhami pemikiran Muhammad Iqbal dalam bukunya Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam. Etika Profetik itu sendiri dia temukan dalam Al-Quran, 3: 110, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah kemunkaran, dan beriman kepada Allah.” Menurutnya, setelah menyatakan keterlibatan manusia dalam sejarah (ukhrijat linnas) ayat itu berisi tiga hal, yaitu ‘amar ma’ruf (menyuruh kebaikan, humanisasi), nahi munkar (mencegah kemunkaran, liberasi), dan tu’minuna billah (beriman pada Tuhan, transendensi).

Lanjut Kuntowijoyo, Etika Profetik yang berisi tiga hal (humanisasi, liberasi, dan transendensi) menjadi pelayan bagi seluruh umat manusia, rahmatan lil ‘alamin. Liberalisme akan memilih humanisasi, Marxisme memilih liberasi, dan kebanyakan agama cenderung pada transendensi. Etika Profetik menginginkan ketiga-tiganya. (Tidak hanya dalam sastra Kuntowijoyo menyarankan Etika Profetik, tapi lebih luas dalam ilmu sosial humaniora. Ini tertuang terutama dalam bukunya yang terbit 1991, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi.)

Dari sekian banyak karya cerpen Kuntowijoyo, menurut Abdul Hadi WM, terdapat tiga yang benar-benar sufistik dan menerapkan gagasan “sastra sebagai simbol”—dan lebih lanjut Etika Sastra Profetik. Tiga cerpen itu—diterbitkan dalam kumpulan Dilarang Mencintai Bunga-bunga (1992)—berjudul “Sepotong Kayu untuk Tuhan”, “Dilarang Mencintai Bunga-bunga”, dan “Burung Kecil Bersarang di Pohon”. Pokok permasalahan yang dikemukakan Kuntowijoyo dalam cerpen-cerpennya itu jarang dikemukakan oleh pengarang lain. Sekalipun bisa dipandang sebagai “cerpen ide” cerpen-cerpen itu sangat hidup dan menarik, sublim dengan dialog-dialog yang dalam serta pelukisan yang rinci dan puitik. Kuntowijoyo pun begitu halus menyelipkan pesan moral dan kerohanian dalam karya-karyanya, begitu pula kritiknya yang tajam terhadap kehidupan yang terkungkung materialisme.

Melebihi cerpen-cerpennya, perwujudan estetik gagasan Kuntowijoyo mengenai sastra transendental dan sastra profetik paling ketara dalam novel Khotbah di atas Bukit. Novel ini menceritakan Barman, seorang pensiunan diplomat, meluangkan waktu tuanya di sebuah bukit bersama Poppy, perempuan cantik, yang diatur oleh Bobi dan Dosi, putra dan menantu Barman. Tapi alih-alih mendapatkan semacam kebahagiaan sejati di sebuah tempat yang jauh dari hibuknya kota, Barman tua pelan-pelanyang agaknya sudah terpendam lama, yakni tentang kebahagiaan hidup itu sendiri, the will to meaning.

Melalui novel ini sastra benar-benar disajikan sebagai simbol, tamsil, atau konsepsi mengenai rentetan peristiwa tertentu. Di antara penggunaan simbol penting dalam novel ini ialah perjalanan tokoh utama ke gunung atau tempat tinggi di mana ia berpeluang melakukan penyucian dan pertemuan dengan gambaran dirinya yang hakiki. Penyucian dalam novel ini dipaparkan secara simbolik melalui perjalanan tokoh ke sungai yang jernih airnya. Perjumpaan tokoh dengan diri hakiki dilukiskan melalui perjumpaannya dengan tokoh yang menyerupai dirinya, tapi dengan watak berbeda. Pemakaian simbol semacam itu untuk menggambarkan perjalanan spiritual atau mistikal terdapat banyak dalam karya-karya mistikal Jawa dan para sufi Melayu dan Persia. Di sini secara simbolik manusia digambarkan melakukan kenaikan spiritual dari tempatnya yang rendah menuju kedudukannya yang sebenarnya. Adapun pengalaman unio-mystica atau fana (penyatuan diri dengan Yang Transenden) dilukiskan oleh Kuntowijoyo melalui penerbangan tokoh dengan kuda putihnya di atas jurang di mana ia menemui kematiannya. Dalam novel Khotbah di Atas Bukit Kuntowijoyo memakai banyak unsur kesusastraan Jawa untuk mendukung narasinya yang bertujuan menyampaikan pesan moral dan spiritual secara estetik dan hermeneutik.

Khotbah di Atas Bukit dapat disebut sebuah upaya pengarangnya menjelajah tema yang beragam tentang transedensi. Lebih kurang kita dapat menyebutnya sebagai novel bertema transendensi nonteistik. Bila transendensi teistik adalah kesadaran ketuhanan yang menyangkut institusi agama, maka transendensi nonteistik adalah kesadaran terhadap makna apa saja yang melampaui batas kemanusiaan. Berkaitan dengan hal ini, dari Khotbah di Atas Bukit kita melihat keuniversalan konsep sastra transendental/profetik. Mengutip Abdul Hadi WM, Islam sebagai sistem kepercayaan dan peribadatan tidak mesti dipahami hanya sebagai doktrin ketuhanan dan teologi, melainkan juga sebagai sistem yang mencakup keseluruhan aspek kehidupan. Di jantung ajaran Islam terkandung sistem ontologi, eskatologi, kosmologi, epistemologi, etika, estetika, psikologi, antropologi, dan lain-lain. Ini membuat Islam dapat dan mampu meresapi serta melandasi hampir setiap aspek kehidupan penganutnya, termasuk kesenian dan kesusastraan.

bersambung ke bag 3

Related posts

Dari Meja Pengadilan Penulis (4/8): Puisi-Puisi Asep Dani, “Kau, yang Kupanggil RA”

admin

Di Hadap-Mu

Kontributor FLP

Petaka Tanah Manusia

Azzura Dayana

Leave a Comment