Minggu, Juni 16Literasi Berkeadaban - Berbakti, Berkarya, Berarti

Karya

Puisi-Puisi Karina Anggara

Puisi-Puisi Karina Anggara

Karya, Pojok
  Hidup atau Mati? oleh Karina Anggara   Mereka: saudara-saudariku Namun, aku hanya termangu Tatkala mereka diperlakukan secara keji Hingga telah banyak yang mati Tentara zionis Israel tak pedulikan hati nurani Tua-muda: rakyat Palestina harus bertaruh nyawa Genangan darah laiknya bait do’a-do’a yang berserah pada Maha Kuasa Tiap kali dentuman menggelegar Gema takbir bergaung dalam kalbu Anak itu menangis kebingungan Kedua tangannya tak henti gemetar ketakutan Anggota keluarga mana yang terkapar? Mungkinkah temanku? Tetanggaku? Atau bahkan, saudara kandungku? (2023) ***   Harapan Semu oleh Karina Anggara   Adalah ketika aku kehilangan saudaraku Adalah ketika aku menyaksikan ia sedang tidak beruntung Selongsong peluru ...
Membaca Afifah Afra

Membaca Afifah Afra

Karya, Pojok
  Membaca Afifah Afra Oleh Bambang Kariyawan Ys Divisi Karya BPP FLP   “Aku sangsi, betulkah ada bangsa asing yang tulus membantu perjuangan negeriku tanpa ada pamrih apa pun?” (De Hoop Eiland h. 15).   Menyebut kata “sejarah” selalu terkesan eksotik dan misterius. Kata sejarah mengandung sejuta tanya dan gairah karena mengungkap tabir yang telah berlalu. Tabir sejarah bila berhasil diungkap akan memunculkan energi berkarya luar biasa. Berbagai medium dapat dihasilkan dari tabir sejarah yang terungkap seperti puisi dan prosa, termasuk novel sejarah. Pengakuan akan eksistensi diri dianggap puncak tertinggi dari teori kebutuhan menurut Maslow. Setiap profesi mendambakan capaian-capaian terbaik dalam menjalani tahapan berkarirnya. Penulis pun memiliki c...
Membaca Bugis dan Kekuatan Lokalitas

Membaca Bugis dan Kekuatan Lokalitas

Karya, Pojok
  Oleh Bambang Kariyawan Ys. Divisi Karya BPP FLP   “Aku terkulai. Lemas. Dulu Semmang pasti seluka ini perasaannya. Bedanya, aku tak merasa Rindi adalah pencuri tulang rusukku. Aku masih bujang. Entah sampai kapan. Mungkin hingga umur emasku yang kelima puluh tahun. Aku bergidik.” (Bujang Emas, h. 131) Ketika ada tantangan membuat antologi puisi bertema budaya Sulawesi Selatan, saya langsung mengingat rekan S. Gegge Mappangewa yang biasa menulis cerita tentang Bugis. Karya-karya Daeng yang sebelumnya pernah saya baca adalah Sajak Rindu, Sabda Luka, dan Hampir Malam di Yogya. Saat membaca kumpulan cerpen “Hampir Malam di Yogya” dan membuka halaman 63, terbaca sebuah cerpen yang berjudul “Nenek Mallomo, Lelaki itu, dan Sepasang Kayu yang Bersandar”. Cerpen tersebut pada du...

Pin It on Pinterest