Ambilkan Bulan, Bu!
“Aku tak mau lagi bermain denganmu!” kataku marah sambil melemparkan boneka-boneka kain dan rumah-rumahan kertas ke luar jendela. Kaca rumah masih berembun, buram dan berkabut setelah hujan menyambangi rumah kecil di tepi kota. Sunyi masih mengitari sudut-sudutnya dan bercak basah di langit-langit masih menitiki kamar tidurku yang dingin.
“Lho, bukannya tadi kita mau main rumah-rumahan? Kok bonekanya dibuang?” tanya Bi Imah sambil mengelus kepalaku. Sayang.
“Aku bosan. Aku mau main lompat tali dan ayunan di luar,” jawabku seraya menjauhkan kepalaku dari jangkauan tangannya. Entah kenapa, aku bosan dielus oleh Bi Imah. Bila aku tidak mau makan, Bi Imah membujukku sambil mengelus kepalaku. Bila aku tidak mau mandi, Bi Imah mengajakku bermain kucing dalam air juga sambil mengelus kepalaku. Da...
