Rabu, Mei 11Literasi Berkeadaban - Berbakti, Berkarya, Berarti

Hikmah

Belajar Lebih Ikhlas di Idul Adha

Hikmah, Opini
Flp.or.id,- Idul Adha adalah bulan pengorbanan. Kisahnya dimulai ketika Nabi Ibrahim as bermimpi bahwa dalam mimpinya ia menyembelih anaknya. "Maka, bagaimana pendapatmu?" tanya beliau pada anaknya, Ismail as. "Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu," jawab Ismail as, "Insya Allah engkau akan mendapati aku dalam keadaan yang berserah diri. Tidak mudah bagi seorang ayah untuk mengorbankan anaknya, apalagi itu anak yang telah lama ditunggu-tunggu kehadirannya. Asal ceritanya dari mimpi. Mungkin ada yang bertanya, kenapa harus percaya mimpi? Dalam Islam, mimpi juga bisa menjadi sarana untuk menyampaikan kebenaran. Nabi Yusuf as, misalnya, pernah bermimpi ketika ia berkata kepada ayahnya bahwa "saya melihat "ahada 'asyara kaukaban" (sebelas bintang) dan matahari dan bulan sujud kepad...
Konde Nenek

Konde Nenek

Hikmah, Pojok
Oleh SRI WIDYASTUTI, FLP.or.id -Konde dan Syariah agama. Tidak ada yang salah pada konde. Pun pada kebaya. Bertahun lalu, nenekku memakainya setiap hari. Konde kecil dari gelungan rambutnya yang panjang yang semakin menipis. Diselendangkannya sehelai kerudung menutupi rambutnya yang mulai memutih. Dia duduk di tempat tidurnya sambil menghadap al qur'an usai shalat duha. Kebaya dan kain batik mempercantik tubuhnya yang renta. Nenekku setiap hari membaca Al Quran dengan berpakaian kebaya dan konde kecil di kepalanya. Dibalut kerudung panjang berhias sulaman tangannnya. Setiap tiga hari khatam al quran. Nenek tak pernah benci suara adzan sebab itulah suara yang paling disukainya. Adzan semacam penjaga yang senantiasa mengingatkannya pada waktu waktu bertemu dengan Tuhannya. Kidung nenek, k...
Mengenang Ibu

Mengenang Ibu

Hikmah, Pojok
Oleh GANJAR WIDHIYOGA, FLP.or.id - Ibu saya adalah perempuan kelahiran tahun 1950. Merasakan masa-masa sulit negeri ini, kadang bercerita pada kami tentang antrian beras dan minyak yang mengular kala itu. Bukan untuk berkubang di masa lalu melainkan agar kami bersyukur dengan masa kini. Ibu saya istimewa. Kala masyarakat saat itu belum peduli pendidikan, Ibu telah menjadi mahasiswi IKIP Yogyakarta. Merantau, membuka cakrawalanya dan kemudian mengabdi menjadi guru selama puluhan tahun. Meski tak mendapatkan sertifikasi guru karena syaratnya yang aduhai tak mampu dipenuhi Ibu yang telah menua. Ibu saya istimewa karena mengijinkan mbak saya memakai jilbab. Ini tahun 1990-an, ketika mengenakan jilbab masih asing di masyarakat. Kala orang tua lain khawatir anak perempuan yang pakai jilbab aka...
Binar Aksara pada Sore yang Tak Penjara

Binar Aksara pada Sore yang Tak Penjara

Hikmah, Pojok
Kisah nyata yang dialami anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Makassar, Azure Azalea, 16 November 2017 kemarin. Syahdu sekali. Sila disimak baik-baik. - Andi Batara Isra Menyentuh sekali. Salah satu kebahagiaan tak terhingga itu, ketika bisa menjadi pintu kebaikan bagi orang lain. - Ibnu HS Siang tadi, ketika matahari perlahan meredup, saya kedatangan seorang tamu di rumah. Supaya lebih dramatis, iya, ia memang seorang tamu lelaki. "Di sini FLP?" Ia bertanya, sungkan. Saya mengiyakan dan menyilakannya masuk. Memang alamat sekretariat FLP Makassar masih tercatat di alamat rumah, saya maklum. Kami mengobrol basa-basi, sebelum berkenalan secara resmi. "Saya, sebenarnya, baru keluar rutan, beberapa waktu lalu." Sampai di sini, mata saya justru berbinar. Terlebih setelah mendengar penga...
Pengalaman di Tiongkok; Istinja Tanpa Air, Apa Jadinya?

Pengalaman di Tiongkok; Istinja Tanpa Air, Apa Jadinya?

Hikmah, Pojok
ADA banyak negara pada umumnya menggunakan air ketika bersuci, terlebih itu negara-negara Islam yang memang menjadi anjuran agama sebagai alat utama ketika bersuci. Air menjadi sumber kehidupan manusia di dalam memenuhi berbagai aspek kehidupan, tidak saja untuk bersuci dari hadas besar dan kecil. Air bahkan menjadi suatu hal yang tak dapat dipisahkan dalam keseharian kita. Mulai dari bangun sampai tertidur lagi kita membutuhkan air. Ketika haus kita membutuhkan air sebagai pelega dahaga, untuk mengolah makanan kita juga membutuhkan air, begitu juga dalam urusan bercocok tanam, dan lain sebaginya. Bahkan hewan dan tumbuhan juga membutuhkan air untuk hidup. Sungguh tak dapat disangkal, air memang memiliki arti yang sangat penting dalam realita kehidupan kita. Saya memiliki sedikit cerita u...
Empat Tips Menulis Buku

Empat Tips Menulis Buku

Hikmah, Kepenulisan, Pojok
“JIKA kau ingin hidupmu berhasil, kau harus membangunnya,” begitu kutipan sebuah film, judulnya Runner Runner di layar lebar. Dalam konteks menulis,  kutipan tadi bisa diubah menjadi, “Jika kau ingin jadi penulis, kau harus menulis!” Konon, ada yang pernah bertanya kepada budayawan Kuntowijoyo, bagaimana cara jadi menulis. Kata beliau, cara menjadi penulis itu cuma tiga: 1. Menulis, 2. Menulis, dan 3. Menulis! Ternyata, tetap sama, menulis-menulis juga jawabannya. Hampir sama dengan dua kutipan di atas, novelis Stephen King punya nasihat untuk mereka yang ingin menulis. “Kunci untuk menjadi penulis,” kata King, dalam Stephen King On Writing, ada dua cara yang intinya: 1. Banyak-banyak membaca, dan 2. Banyak-banyak menulis! Bagaimana cara menulis buku? Ada empat tips yang bisa kita perhati...
Adakah yang Lebih Besar?

Adakah yang Lebih Besar?

Hikmah, Pojok
Allahu Akbar… Allahu Akbar Suara azan berkumandang, terlantun dengan mesra setiap hari sebanyak lima kali. Namun, masih banyak manusia yang tak menyadari bahkan berpura-pura tak mendengarnya. Adakah yang lebih besar dari-Nya? Jika tidak ada, mengapa diri ini selalu menganggap kecil ketika panggilan-Nya telah tiba sehingga berani meremehkan walau sesaat. Apakah yang kita lakukan pada saat azan berkumandang? Apakah bergegas menuju panggilan-Nya ataukah tetap berdiam diri dengan aktivitas dunia? Jika kita tetap melaksanakan aktivitas dunia padahal panggilan itu telah dating, berarti kita masih menganggap panggilan itu adalah hal yang kecil.Tetapi, jika kita bergegas menuju panggilan-Nya ini berarti kita menyadari bahwa kita sedang menuju urusan yang besar. Bagaimana mungkin kita dapat merasak...
Obat yang Paling Dekat

Obat yang Paling Dekat

Hikmah
Selama ini kita sering tak menyadari. Salah satu yang tak disadari yakni obat yang paling dekat dengan diri kita sendiri. Apakah obat itu? Apakah ada yang mengetahuinya? Bahkan seorang Farmasis pun terkadang tak menyadari kehadirannya. Obat yang satu ini mengalahkan dari jutaan obat yang pernah ditemukan di dunia ini.  “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.”  (Quran Surah Al Isra’ ayat 82)  Obat yang paling dekat dengan diri kita itu adalah Quran. Quran yang selama ini terabaikan sehingga tak terasakan salah satu dari sekian banyak mukjizat dari Al Quran adalah sebagai penyembuh (As-Syifa). Terlalu lama Quran terbaikan sehingga tiap-tiap manusi...
Pemimpin Juga Perlu Nasihat

Pemimpin Juga Perlu Nasihat

Hikmah
“.... serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran" (potongan ayat ketiga surah Al-Asr) Orang yang beriman disebutkan dalam surah Al-Asr yakni melakukan tiga perkara. Satu perkara untuk diri sendiri sedangkan dua perkara lainnya untuk diri sendiri dan orang lain. Apakah dua perkara tersebut? Seperti yang tertera di potongan ayat di atas yaitu saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. Kita sebagai manusia dianjurkan untuk saling menasihati pada kebenaran dan kesabaran. Dimana saling menasihati tersebut dengan berbagai cara yang diajarkan oleh agama. Salah satu nasihat yang sering terlontarkan dan tak disadari berupa kritik. Kritik yang bersifat membangun dan dalam rangka sebuah perbaikan menuju lebih baik lagi. Jikalau tidak b...
Bagai Debu di Padang Pasir

Bagai Debu di Padang Pasir

Hikmah
Pernahkah kita melihat debu? Bagaimanakah bentuknya? Kecilkah atau besarkah? Itulah gambaran manusia yang tinggal di muka bumi ini. Manusia hanyalah sebatas debu yang bertebaran di padang pasir. Debu diantara debu-debu. Masih adakah rasa ingin berbangga hati dan sombong dengan kondisi manusia? Belum sadarkah kita dengan kondisi ‘debu’ diri ini? Manusia tak ada apa-apanya antara satu dengan yang lainnya. Bahkan kita semua pun sama. Sama-sama dikaruniakan kelebihan dan kekurangan dan pada dasarnya dihadapan-Nya kita tetap sama bagaikan debu di padang pasir yang tiada berarti. Bagaimanakah cara kita menjadikan diri ini untuk lebih berarti? Tentu, dengan kesadaran diri bahwa memang kita ini kecil, hina, tak ada apa-apanya sehingga dari sini kita mengakui kebesaran-Nya yang mutlak Dia miliki. P...

Pin It on Pinterest