Rabu, Mei 11Literasi Berkeadaban - Berbakti, Berkarya, Berarti

Puisi

Koleksi Puisi tentang Perempuan Serta Puisi Inspiratif

Koleksi Puisi tentang Perempuan Serta Puisi Inspiratif

Puisi
  Perempuan Sendiri dan Lukisannya Sendiri oleh Ika Y. Suryadi di galeri kita bertukar getar, dipisah lorong padat para pengunjung yang kerap tersesat di waktu yang sebentar dan bersicakap apa yang lebih abstrak garis magis, detail mistis, atau kita sendiri   rindu itu adalah kau, yang dilukis habis seniman dalam kuas yang berujar, dan terburai ia terlampau setuju menarik pagi di setiap garis-guratan namamu; dan kau bukan lagi sepi jadi di warna mana kau terkesan? rindu itu adalah kau yang terlampau bosan dan beranjak pulang, tanpa sempat kau temukan, wajah siapa dalam bingkai.¬† dan di dalam galeri asing pinggir jalan ini, kita berpencar. tapi mengapa, nasib kita masih saling melambai? Jambi, 2018   Mengap...
Maka Istighfarlah

Maka Istighfarlah

Puisi
Oleh AFIFAH AFRA Istighfarlah agar sumbatan kebaikan terbuka. Seperti Ibnul Qayyim Al Jauziyah pernah berkata dosa itu menyumbat tujuh puluh kebaikan. Sedang istighfar bisa membuka itu sumbatan. Ulama selalu menyarankan nasihat agar kita ingat buat beristighfar saat menghadapi masalah, ringan ataupun berat. Perkara uang, terbelit hutang, maka istighfarlah. Jiwa resah, gundah, cemas, maka istighfarlah. Jodoh tak segera datang, maka istighfarlah. Masalah keluarga, anak nakal, pasangan zalim, maka istighfarlah. Kekeringan, panen gagal, maka istighfarlah. Semua masalah insya Allah bisa diatasi dengan istighfar dalam lisan dan hati. Jika istighfar sudah tak diabai tapi masalah belum selesai Maka istighfarlah terus... Istighfarlah terus... Sampai Allah membukakan jalan Dan setelah masalah te...
Puisi-puisi Ibnu HS “Porong Suatu Saat, Antara Sungai dan Hujan yang Lain”

Puisi-puisi Ibnu HS “Porong Suatu Saat, Antara Sungai dan Hujan yang Lain”

Puisi
Suatu Saat suatu saat akan kutemukan perahu itu menjenguk ikan dan karang-karang di lautan dengan membawa sekeranjang doa yang dihanyutkan ke muara dan jika kau menemukanku saat itu mungkin aku sudah bahagia sebagai sebutir pasir yang tercecer di telapak kaki seorang musafir Sukamara, 2016-2018 === Porong kemana mesti menagih harapan yang terbenam dalam genangan perih air mata yang mendidih meluap sudah segala resah tapi tak kunjung muara sebab janji-janji membatu di lampau waktu serupa jerit tertahan di kerongkongan lalu kembali ke jantung sebagai tenung mengekalkan nasib murung kemana menjengkal pandang jika sebaris nyeri hanya ditafsir sebatas puisi Bandara Juanda 07-1-2018 === Sungai jauh di hulu waktu pohon-pohon bersikukuh merawat cinta menjala doa di ujung muara ada sep...
Puisi-puisi Ibnu HS “Seperti Ikan, Kopi Adalah Senja yang Meninggalkan Kita”

Puisi-puisi Ibnu HS “Seperti Ikan, Kopi Adalah Senja yang Meninggalkan Kita”

Puisi
  Seperti Ikan seperti ikan hias kau-aku terpenjara dalam gelas waktu yang terbatas berputar-putar tanpa tahu dimana pangkal semua berasal menuju muara yang dangkal sebatas sesal Sukamara, 12-02-2018 === Puisi Secangkir Kopi meski fana, tertinggal juga pahit di ujung bibir, begitu getir seperti ingatan yang tergigit engkaukah itu? menyeduh masa lalu serupa candu serupa puisi tak pernah selesai kutafsir sebagai sihir atau sebaris nyinyir mari seduh sebaris puisi ampasnya biar tertinggal di cangkir mungil bersama mimpi yang mulai menggigil Sukamara, 2016-2018 === Senja Yang Meninggalkan Kita senja yang meninggalkan kita itu tak pernah merasa sendiri dibawanya serta ingatan tentang cahaya semerbak bunga, atau pelangi dan kita yang tak pernah bisa menahannya berlalu hanya me...
Petaka Tanah Manusia

Petaka Tanah Manusia

Karya, Puisi
Merindu katup-katup pintu tertutup sayu tersebab malu pada gulita yang merayap sejengkal demi sejengkal di akhir tiap angka almanak. Menunggu bayang sang kepayang petantang pulang kala petang. Bawakan sesuap nyawa demi nyawa yang tadinya tersangkut di kawat-kawat perbatasan. Batas antara hidup dan mati. Batas manusia dan manusia yang tak jua dimanusiakan. O, tingginya kenang alang-kepalang Ilusi memata-mata sepenuh bayang Sungguhnya tercatat nasib tercacat malang Tanah kita sudah lupa cara berkebun dan bercocok tanam angka-angka nominal di kertas berharga yang diperdagangkan pada pangkal tiap angka almanak. Jiwa-jiwa telah dipasung oleh ribu peluru yang tertanam di halaman semua rumah, sebagai tapal batas antara air mata dan darah. Tanpa jalan pintas berujung selamat. Mimpi anak-anak me...
Terimakasih, FLP

Terimakasih, FLP

Karya, Puisi
terik matahari bukan panas bumi elok kata hati peredam panas kepala ridho hujan kepada kota yang belum berilmu inapkan rezeki langit menjadi bencana bumi manusiakan pemikir untuk jadi pengolah panas sang surya adabkan pekerja keras untuk tetap bersyukur di kala topan badai kita bersama sebagai manusia, berkumpul sebagai pengasah yang tumpul adalah kita yang berjuang di tangan kanannya pena dan di tangan kirinya kitab suci segala hormat kita berjalan menuju keandalan ingatkan segala kita tidak saling mengandalkan hidupi hidup dengan saling menguatkan visi Forum Lingkar Pena telah merumahi mereka yang bersungguhsungguh, lalu meneduhkan lelahkan hari dan hati mereka untuk dicintai Allah, sebagai hamba penulis dan pejuang keras padamu, aku berterima kasih, FLP Kab. Bandung, 6 November 2017 ...
HIKAYAT

HIKAYAT

Karya, Puisi
Pagi dibuka lembaran kaku berisi separuh namamu Katakata yang pernah mampir di gendang telinga membiru sudutnya Cerita cita yang tiarap kedap bersama ujung hayat Melihatmu lambai gemulai: senyap gegas terbentang Bahwa hikayat kita serupa hujan terhalang angin Lantas melipir pada takdir yang salah tempat Rinai tiada sempat berpamit pada telapak yang kugenggam Kita diamdiam berselimut muram bermuka masam Apa yang kita tuang di siang hari menukar nasib di rembang petang Lantas sengketa adalah kisikisi tiap kelana Menusuk rusuk gulita meraja Gelagat segala rupa luka Senja dimulai saat engkau datang kelang Rinai kita berjatuhan di dedaun kenang Janji tak jua tertopang hingga pagi bersuci Hikayat terberai lagilagi Demang Lebar Daun, 05/11/17 Azzura Dayana
BANDUNG NOVEMBER ’17

BANDUNG NOVEMBER ’17

Karya, Puisi
Senja masih basah di kotaku Tatkala mereka datang dari berbagai penjuru Dengan pesawat bus kereta dan kapal laut Dengan wajah riang dan mata syahdu Dengan hati senang dan bertumpuk rindu Malam mengekalkan rindu di kotaku Tatkala mereka bersalaman berpelukan dan bercengkerama seru Tentang agama keluarga dan karya terbaru Juga berbincang haru Tentang Rohingya dan Traktat Balfour Lalu merekamnya dalam buku-buku Pagi masih menuliskan buku di kotaku Dengan pena sebatang perdu Dengan tinta bertetes embun Menuliskan janji suci Berjuang bersama demi ridha ilahi Siang bernaung mendung di kotaku Menjadi semacam ayat-ayat cinta Yang memandu langkah mereka Menuju haribaan Allah Ta'ala  
Di Hadap-Mu

Di Hadap-Mu

Karya, Kritik Sastra, Puisi
Di Hadap-Mu Oleh Aulia Prasetioadi Aku salah satu dari mereka hamba-Mu yang berlumuran dosa Aku salah satu dari mereka hamba-Mu yang jarang menekukkan kaki menyembah kepada-Mu Aku salah satu dari mereka hamba-Mu yang terlalu asyik dengan dunia-Mu Aku salah satu dari mereka hamba-Mu yang terkadang lupa bersyukur kepada-Mu... Tetapi, dibalik semua itu... Kau masih memberikan kesabaran yang melimpah kepadaku, Masih memberikan kepercayaan  kepadaku, Masih mengingatkanku untuk senantiasa bersyukur, Kesempatan untuk merasakan dan menikmati semua kenikmatan darimu kepadaku, Menuaikan mimpiku yang tertanam kepadaku, Tak hentinya menyiram dan menanam cinta didalam hatiku. Sesungguhnya, Wahai Kau Sang Maha Sempurna dan Maha Penyayang, aku berterimakasih kepada-Mu dari dalam lubuk hati seorang yang ...

Pin It on Pinterest