Hikmah

Bagai Debu di Padang Pasir

gurunPernahkah kita melihat debu? Bagaimanakah bentuknya? Kecilkah atau besarkah? Itulah gambaran manusia yang tinggal di muka bumi ini. Manusia hanyalah sebatas debu yang bertebaran di padang pasir. Debu diantara debu-debu. Masih adakah rasa ingin berbangga hati dan sombong dengan kondisi manusia?

Belum sadarkah kita dengan kondisi ‘debu’ diri ini? Manusia tak ada apa-apanya antara satu dengan yang lainnya. Bahkan kita semua pun sama. Sama-sama dikaruniakan kelebihan dan kekurangan dan pada dasarnya dihadapan-Nya kita tetap sama bagaikan debu di padang pasir yang tiada berarti.

Bagaimanakah cara kita menjadikan diri ini untuk lebih berarti? Tentu, dengan kesadaran diri bahwa memang kita ini kecil, hina, tak ada apa-apanya sehingga dari sini kita mengakui kebesaran-Nya yang mutlak Dia miliki.

Pernahkah kita terbayang bagaimana jika debu-debu itu berkumpul? Kita lihat dengan jelas apabila debu-debu itu berkumpul maka akan terbentuk gumpalan-gumpalan yang memadat. Namun, apakah menjadi mulia jika debu itu berkumpul? Tidak. Sahabat. Debu akan tetaplah menjadi debu. Dimanapun dia berada dia akan tetap sebagai debu.

Begitu pula dengan manusia. Berkumpul dengan sesama manusia. Tetaplah menjadi seorang manusia yang tak memiliki kuasa atau bahkan mampu meninggikan diri diantara yang lainnya. Tak sadarkah kita dengan hal tersebut?

Apapun yang dimiliki oleh debu dengan berbagai macam partikel yang mencampurnya. Dia tetaplah debu yang hina, kecil dan kotor. Manusia memiliki apapun yang dia kehendaki di dunia ini. Berlimpah harta dan memiliki tahta yang tinggi sekalipun, tetap dirinya seorang manusia yang kecil, hina, kotor dan tak kuasa berbuat apa-apa tanpa kehendak-Nya.

Ada dua hal pembeda antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Hal  itu bukan banyaknya harta, tingginya tahta ataupun kemolekan rupa. Tapi, dua hal itu adalah taqwa dan kesucian jiwa. Dimana tingkat ketaqwaan (amal) dan kesucian jiwa (hati) kitalah yang akan dinilai oleh Dia sebagai tolak ukur perbedaan diantara sesama manusia.

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupamu dan hartamu, tetapi Dia melihat pada hatimu dan amalanmu” (Hadits Shahih Riwayat Imam Muslim)

Berawal dari ketaqwaan dan kesucian jiwa itulah yang akan menempa diri kita menuju keridhoan-Nya. Dari ketaqwaan itulah yang akan berbuah manisnya surga.

Bertaqwa dengan hati yang suci tentu menjalankan segala syariat yang diperitahkan-Nya dan menjauhi segala syariat yang dilarang oleh-Nya. Telihat begitu mudah. Tapi, saat aplikasi dalam kehidupan sehari-harilah akan kita temukan jawabannya. Apakah kita sudah mengaplikasikannya?

Bersyukurlah. Jika kita sudah termasuk dalam golongan orang yang bertaqwa dan memelihara kesucian jiwa. Dengan senantiasa meningkatkan amal ibadah dan kebaikan yang kita lakukan agar kita tetap terjaga dan terkendali walaupun terkadang harus berhadapan dengan iman yang kadang naik dan kadang turun.

Beristighfarlah. Jika kita belum termasuk dalam golongan orang yang bertaqwa dan memelihara kemurnian jiwa. Setidaknya, kita ada kemauan untuk menjalankannya. Bukan berarti masih berdiam diri dalam keburukan yang menempel pada diri ini. Berusaha untuk bisa memaksimalkan diri  dalam kebaikan merupakan salah satu cara kita mendapatkan limpahan rahmad dan kasih sayang-Nya.

Bertaubatlah. Jika kita tidak termasuk dalam golongan orang bertaqwa dan menjernihkan jiwa. Malah sebaliknya, kita termasuk dalam golongan ahli maksiat yang senantiasa melanggar larangan-Nya dan tetap bergigih hati menentang Dia.  Tentu, taubat yang kita lakukan adalah sebenar-benarnya taubat yakni taubatan nasuha. Apalah artinya menentang syariat-Nya jika kita ini hanya debu yang tak berguna?

Masih belum sadarkah kita dengan siapa diri kita? Jikalau kita masih berani menantang-Nya. Jikalau kita masih tetap berada di lembah keburukan. Kapankah kita akan tersadar? Apakah harus menunggu ujian dan bencana yang menimpa diri kita kemudian baru kita tersadarkan diri? Ataukah kita mulai menyadari diri kita dari sekarang dan berusaha untuk bangkit dari keterburukan diri yang tak lepas dari keburukan?

Dua cara dilakukan untuk menyadarkan hamba-Nya. Cara yang pertama yakni dengan cara yang indah yaitu dengan menyadarkan diri hamba-Nya melalui terbukanya pintu hidayah dan cara yang kedua adalah dengan cara yang buruk, berbagai hal buruk akan menimpa diri hamba-Nya entah itu cobaan, ujian ataupun bencana yang akan diterima agar sang pemilik diri menyadari dirinya yang sebenarnya.

Cara manakah yang akan kita pilih? Tentu, cara yang pertama lebih kita harapkan. Jika, kita mengharapkan cara yang pertama, mulai sekarang kita menyadarkan diri kita tentang hakikat diri yang sesungguhnya sehingga kita tak terlena dan terbawa arus yang akan bermuara pada seburuk-buruk tempat yakni neraka.

Dengan menyadari diri kita ini hanyalah sebatas debu yang kecil, hina, kotor dan tak memiliki apa-apa. Jalan inilah yang akan menyadarkan diri kita menuju jalan-Nya untuk terbiasa berbuat kebaikan dihiasi akhlaq diri yang dapat menjadi teladan.

Lebih baik menjadi debu dengan kebaikan daripada menjadi debu dengan keburukan. Walapun debu itu sudah buruk tetapi kebaikanlah yang akan menutupi keburukannya. Tapi, bagaimanakah jadinya jikalau debu yang buruk ditutupi oleh segala hal yang buruk? Apakah hasilnya akan menjadi baik?

Debu itu kecil, buruk, hina, kotor dan tak kuasa berbuat apa-apa. Debu hanya bisa berdiam diri jika tak ada angin yang menerbangkannya. Inilah suatu pembuktian bahwa ada Zat Yang Maha Besar, Maha Bersih, Maha Indah dan Maha Kuasa.

Dari sini terlihat jelas bahwa manusia harus menyadari keberadaan-Nya. Dari menyadari keberadaan-Nya itulah yang akan menuntun kita untuk patuh atas segala yang Dia perintahkan dan menjauhi atas segala yang Dia larang agar kelak kita menjadi insan yang beriman. Aamiin.

Related posts

Pemimpin Juga Perlu Nasihat

Ganjar Widhiyoga

Mengenang Ibu

Ganjar Widhiyoga

Begitu Sedikitkah Nikmat Dari-Nya?

Ganjar Widhiyoga

Leave a Comment