Sabtu, Agustus 29Literasi Berkeadaban - Berbakti, Berkarya, Berarti

Divisi Rumah Cahaya Menyapa, Hadirkan TBM Rumah Aksara dalam “Ngobrol Santai Bareng Rumcay”

Bermula dari kegelisahan sederhana, ‘bagaimana jika buku-buku ini nanti ikut dihisab di hari akhir?’, akhirnya lahirlah TBM Rumah Aksara yang dirintis oleh anggota Forum Lingkar Pena (FLP) di Kepulauan Anambas.

Cerita tentang lahirnya TBM Rumah Aksara tersebut menjadi pembuka obrolan dalam kegiatan Divisi Rumah Cahaya Menyapa: “Ngobrol Santai Bareng Rumcay” yang diselenggarakan oleh Divisi Rumah Cahaya BPP FLP, Sabtu (29/8/2026) malam. Kegiatan yang berlangsung secara daring tersebut menjadi ruang berbagi cerita dan pengalaman tentang bagaimana sebuah Rumah Cahaya atau TBM dirintis, dikelola, dan dihidupkan dari langkah-langkah sederhana.

Hadir sebagai bintang tamu dalam kegiatan tersebut Larasati Aryani, Ketua FLP Anambas, dan Renny Puspa Sari, Ketua TBM Rumah Aksara Anambas. Keduanya berbagi cerita mengenai perjalanan awal mendirikan dan mengembangkan Rumah Aksara yang usianya masih sangat muda.

Kegiatan dimoderatori oleh Sukma, pengurus BPP FLP, dan diikuti oleh sejumlah pengelola TBM dan Rumah Cahaya yang merupakan anggota FLP dari berbagai daerah.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wiwiek Sulistyowati, Ketua Harian II Forum Lingkar Pena; Relly Nasia, Ketua FLP Kepulauan Riau; Aida, Sekretaris FLP Kepulauan Riau; serta sejumlah pengelola TBM dan Rumah Cahaya dari berbagai wilayah.


Divisi Rumah Cahaya Menyapa, “Ngobrol Santai Bareng Rumcay”

Berawal dari Buku-Buku yang Tersimpan di Rumah

Bagi Renny, mendirikan TBM bukanlah sebuah gagasan yang lahir dari perencanaan panjang. Salah satu pemicunya justru datang dari koleksi buku yang dimilikinya secara pribadi.

“Saya punya beberapa koleksi buku pribadi, takutnya nanti menjadi sesuatu yang turut dihisab di akhirat, makanya itu salah satu motivasi mendirikan TBM,” ujar Reny dalam sesi obrolan santai.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu bagian menarik dalam perbincangan malam itu. Buku-buku yang selama ini tersimpan sebagai koleksi pribadi akhirnya menemukan kemungkinan baru, dibaca lebih banyak orang dan menjadi bagian dari gerakan literasi di tengah masyarakat.

Rumah Aksara pun kemudian hadir sebagai sebuah ikhtiar sederhana untuk membuka akses bacaan sekaligus menghadirkan ruang literasi di Kepulauan Anambas.

Namun, sebagaimana lazimnya sebuah rumah baca yang baru berdiri, Rumah Aksara juga masih menghadapi berbagai keterbatasan. Salah satunya adalah koleksi buku. Saat ini, sebagian besar koleksi Rumah Aksara masih didominasi buku untuk segmen remaja hingga dewasa. Sementara itu, buku bacaan anak-anak masih sangat terbatas.

Cerita Rumah Aksara menunjukkan bahwa sebuah taman bacaan tidak harus menunggu semuanya sempurna untuk mulai bergerak. Ia bisa dimulai dari apa yang ada, dari buku yang tersedia, dari ruang yang dimiliki, dan dari orang-orang yang bersedia membuka pintu untuk masyarakat.

 

Setiap Rumah Cahaya Punya Cerita

Kegiatan “Ngobrol Santai Bareng Rumcay” memang sengaja dikemas dalam suasana yang ringan. Tidak ada presentasi panjang atau materi yang harus diikuti secara formal. Para peserta diajak duduk bersama secara virtual, mendengarkan cerita, bertukar pengalaman, sekaligus membicarakan berbagai kemungkinan kegiatan yang dapat dilakukan di Rumah Cahaya.

Bagi Divisi Rumah Cahaya BPP FLP, ruang semacam ini penting karena kondisi setiap Rumah Cahaya tidaklah sama. Ada yang telah bertahun-tahun berjalan dengan berbagai program dan koleksi buku, tetapi ada pula yang baru mulai dirintis dan masih mencari bentuk.

Perjumpaan antarpengelola menjadi kesempatan untuk saling belajar. Pengalaman satu Rumah Cahaya bisa menjadi inspirasi bagi Rumah Cahaya lainnya. Persoalan yang dihadapi sebuah TBM pun bisa jadi pernah dialami oleh pengelola di daerah lain.

Karena itu, kegiatan Divisi Rumah Cahaya Menyapa dirancang bukan sekadar sebagai agenda silaturahmi, tetapi juga sebagai ruang untuk mempertemukan cerita-cerita dari berbagai penjuru FLP.

Rumah Aksara Anambas menjadi salah satu cerita tentang bagaimana cahaya itu bisa dimulai. Tidak besar, tidak sempurna, tetapi berani menyalakan langkah pertama.

Bagi pengelola Rumah Cahaya lainnya, cerita tersebut juga mengingatkan bahwa keberadaan taman bacaan tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak buku yang dimiliki. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana buku-buku tersebut dapat menemukan pembacanya dan bagaimana ruang yang tersedia dapat menghadirkan kegiatan yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Divisi Rumah Cahaya Menyapa, Hadirkan TBM Rumah Aksara dalam “Ngobrol Santai Bareng Rumcay”

 

Seleksi Naskah Antologi “Aku dan Rumah Cahaya”

Di penghujung kegiatan, Koordinator Divisi Rumah Cahaya BPP FLP, Uda Agus, menyampaikan satu agenda baru yang akan segera dijalankan oleh Divisi Rumah Cahaya, yakni penyusunan antologi bertema “Aku dan Rumah Cahaya.”

Antologi tersebut akan menghimpun kisah-kisah inspiratif dan penuh makna dari anggota FLP yang pernah bersentuhan dengan TBM atau Rumah Cahaya. Tulisan tidak hanya diperuntukkan bagi pengelola Rumah Cahaya atau yang memiliki TBM saja, tapi terbuka untuk seluruh anggota FLP yang pernah menjadi relawan, berkunjung, mengikuti kegiatan, berinteraksi dengan anak-anak di TBM, atau memiliki pengalaman lain yang berkaitan dengan Rumah Cahaya.

Melalui antologi tersebut, Divisi Rumah Cahaya ingin mengabadikan pengalaman-pengalaman yang mungkin selama ini hanya tersimpan sebagai kenangan personal.

Ketentuan lengkap mengenai seleksi naskah antologi “Aku dan Rumah Cahaya” akan diumumkan melalui media sosial FLP pada awal September 2026.

Kegiatan “Ngobrol Santai Bareng Rumcay” pun berakhir dengan semangat yang sama ketika ia dimulai, bahwa menghidupkan Rumah Cahaya tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Bisa jadi ia hadir dari kegelisahan seseorang yang ingin agar buku-bukunya tidak hanya tersimpan, tetapi menjadi manfaat bagi orang lain. Dan seperti TBM Rumah Aksara di Anambas, setiap Rumah Cahaya memiliki jalan ceritanya sendiri untuk terus menyala. (*)

 

*) Uda Agus (Koordinator Divisi Rumah Cahaya BPP FLP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest

Share This