Selasa, Januari 20Literasi Berkeadaban - Berbakti, Berkarya, Berarti

Karya Anggota

Dari Meja Pengadilan Penulis (4/8): Puisi-Puisi Asep Dani, “Kau, yang Kupanggil RA”

Dari Meja Pengadilan Penulis (4/8): Puisi-Puisi Asep Dani, “Kau, yang Kupanggil RA”

Kritik Sastra
KRITIK KARYA, FLP.or.id - Untuk kepentingan penyebarluasan khazanah kepenulisan, Notulensi Pengadilan Penulis akan dimuat secara berseri di laman ini. Pertama dimulai dengan terdakwa H.D. Gumilang dan karyanya yang mengulas sejarah nabi. Kedua, ditampilkan catatan Pengadilan atas penulis Robi Afrizan Saputra dan buku "Sedang Memperjuangkanmu". Ketiga, merupakan isi notulensi atas karya M. Ginanjar Eka Arli. Kali ini, giliran catatan untuk puisi-puisi Asep Dani. Menurut penulis Nurbaiti Hikaru yang sempat menjalani pembinaan di FLP Bandung, Pengadilan Penulis mengingatkannya kepada acara rutin Kamisan FLP Cabang Bandung. Kegiatan dimaksud pada masanya biasa diadakan di selasar Masjid Salman ITB. "Salah satu tradisi Kamisan dulu ada pembantaian karya. Terus kitanya malah senang kalau karya ...
Suatu Hari di Jambi (2/4): Polemik Sriwijaya

Suatu Hari di Jambi (2/4): Polemik Sriwijaya

Travelling
Sejak pemerintah RI mulai melakukan pemugaran kawasan candi pada tahun 1979, diikuti dengan penelitian arkeologis intensif yang dilakukan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dari tahun 1981, beberapa ahli sejarah mulai memunculkan fakta-fakta baru mengenai pusat Kerajaan Sriwijaya yang selama ini diyakini ada di Palembang. Kawasan Candi Muaro Jambi lah yang diyakini sebagai pusat Kerajaan Melayu dan juga pusat Kerajaan Sriwijaya. Salah satu hipotesis tentang ini adalah: pusat kerajaan Sriwijaya ada di Melayu, Melayu ada di Jambi, dan banyak jejak-jejak yang menampakkan bahwa Candi Muaro Jambi pernah menjadi pusat kerajaan. Kunjungan seorang pendeta Buddha Tiongkok bernama I-Tsing sekitar tahun 671 Masehi lah yang sempat memunculkan “Polemik Sriwijaya”. Ahli-ahli sejarah berbeda pendapat ...
Dari Meja Pengadilan Penulis (3/8): Catatan untuk M. Ginanjar Eka Arli dan Atas Nama Buku; Memoar Teladan Para Pembelanja Buku

Dari Meja Pengadilan Penulis (3/8): Catatan untuk M. Ginanjar Eka Arli dan Atas Nama Buku; Memoar Teladan Para Pembelanja Buku

Kritik Sastra
KRITIK KARYA, FLP.or.id - Menurut penulis Nurbaiti Hikaru yang sempat menjalani pembinaan di FLP Bandung, Pengadilan Penulis mengingatkannya kepada acara rutin Kamisan FLP Cabang Bandung. Kegiatan dimaksud pada masanya biasa diadakan di selasar Masjid Salman ITB. "Salah satu tradisi Kamisan dulu ada pembantaian karya. Terus kitanya malah senang kalau karya kita yg dibantai. Kalau aku ambil baiknya, orang pada sibuk, masih pada sempat baca karya kita, baik hati kan," kata wakil Indonesia dalam workshop Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) Novel tahun 2016 itu pada Selasa (26/12/2017). Bertindak sebagai Hakim yakni M. Irfan Hidayatullah, Jaksa Penuntut Topik Mulyana, serta Pengacara Dedi L. Setiawan dan M. Dzanuryadi. Ada sebanyak 8 terdakwa dihadapkan ke meja tulis yaitu HD Gumilang, Rob...
Suatu Hari di Jambi (1/4): Candi Muaro Jambi; Venesia Rasa Melayu

Suatu Hari di Jambi (1/4): Candi Muaro Jambi; Venesia Rasa Melayu

Travelling
Bersepeda dari satu candi ke candi lain dengan pemandangan hutan atau kebun dengan sungai di sisinya? Rasanya di Indonesia hanya dapat dilakukan di Jambi. Kabut asap masih menyelimuti kota ini saat saya tiba Bandara Sultan Thaha. Beruntung, penerbangan dari Jakarta tidak dibatalkan, hanya delay sekian jam. Padahal hari-hari sebelumnya banyak penerbangan dibatalkan. “Beberapa waktu lalu lebih parah, Mbak,” kata Berlian Santosa, rekan yang menemani saya selama di Jambi. “Kami harus mengenakan masker. Beberapa kabupaten bahkan meliburkan sekolah-sekolah.” Kebakaran hutan memang masih menjadi pekerjaan rumah bagi negeri ini. Masyarakat di kawasan Sumatra, yang paling terkena dampaknya. Bahkan kabut asap bisa melaju hingga negeri jiran. Namun semangat menjelajah Jambi, meski hanya tiga hari, ...
Dari Meja Pengadilan Penulis (2/8): Menyoal Robi Afrizan Saputra dan “Sedang Memperjuangkanmu”

Dari Meja Pengadilan Penulis (2/8): Menyoal Robi Afrizan Saputra dan “Sedang Memperjuangkanmu”

Kritik Sastra
KRITIK KARYA, FLP.or.id - Bertindak sebagai Hakim yakni M. Irfan Hidayatullah, Jaksa Penuntut Topik Mulyana, serta Pengacara Dedi L. Setiawan dan M. Dzanuryadi. Ada sebanyak 8 terdakwa dihadapkan ke meja tulis yaitu HD Gumilang, Robi Afrizan Saputra, M. Ginanjar Eka Arli, Asep Dani, Sri Wahyuni Sastradiharjo, Aya NH, Tuti Frutty, dan Windra Yuniarsih. Itulah susunan petugas dalam Pengadilan Penulis 2017. FLP Wilayah Jawa Barat mencatatkan sejarah dengan menghidupkan kegiatan tersebut. Persidangannya diselenggarakan pada Sabtu, 24 Desember 2017 di Sekolah Alam Jatinangor. Kegiatan itu diadakan di antara rangkaian acara Musyawarah Wilayah ke-5 FLP Jabar. Kendati semula direncanakan berlangsung selama 1 jam, tetapi serunya persidangan membuat pengadilan digelar hingga lebih dari 2 jam. Menu...
Dari Meja Pengadilan Penulis (1/8): Tentang HD Gumilang dan Selayang Pandang Sirah Nabawiyah

Dari Meja Pengadilan Penulis (1/8): Tentang HD Gumilang dan Selayang Pandang Sirah Nabawiyah

Kritik Sastra
KRITIK SASTRA, FLP.or.id - FLP Wilayah Jawa Barat mencatatkan sejarah dengan menghidupkan kegiatan Pengadilan Penulis. Persidangannya diselenggarakan pada Sabtu, 24 Desember 2017 di Sekolah Alam Jatinangor. Kegiatan itu diadakan di antara rangkaian acara Musyawarah Wilayah ke-5 FLP Jabar. Kendati semula direncanakan berlangsung selama 1 jam, tetapi serunya persidangan membuat pengadilan digelar hingga lebih dari 2 jam. Bertindak sebagai Hakim yakni M. Irfan Hidayatullah, Jaksa Penuntut Topik Mulyana, serta Pengacara Dedi L. Setiawan dan M. Dzanuryadi. Ada sebanyak 8 terdakwa dihadapkan ke meja tulis yaitu HD Gumilang, Robi Afrizan Saputra, M. Ginanjar Eka Arli, Asep Dani, Sri Wahyuni Sastradiharjo, Aya NH, Tuti Frutty, dan Windra Yuniarsih. Menurut penulis Nurbaiti Hikaru yang sempat men...
Petaka Tanah Manusia

Petaka Tanah Manusia

Karya Anggota, Puisi
Merindu katup-katup pintu tertutup sayu tersebab malu pada gulita yang merayap sejengkal demi sejengkal di akhir tiap angka almanak. Menunggu bayang sang kepayang petantang pulang kala petang. Bawakan sesuap nyawa demi nyawa yang tadinya tersangkut di kawat-kawat perbatasan. Batas antara hidup dan mati. Batas manusia dan manusia yang tak jua dimanusiakan. O, tingginya kenang alang-kepalang Ilusi memata-mata sepenuh bayang Sungguhnya tercatat nasib tercacat malang Tanah kita sudah lupa cara berkebun dan bercocok tanam angka-angka nominal di kertas berharga yang diperdagangkan pada pangkal tiap angka almanak. Jiwa-jiwa telah dipasung oleh ribu peluru yang tertanam di halaman semua rumah, sebagai tapal batas antara air mata dan darah. Tanpa jalan pintas berujung selamat. Mimpi anak-anak me...
Terimakasih, FLP

Terimakasih, FLP

Karya Anggota, Puisi
terik matahari bukan panas bumi elok kata hati peredam panas kepala ridho hujan kepada kota yang belum berilmu inapkan rezeki langit menjadi bencana bumi manusiakan pemikir untuk jadi pengolah panas sang surya adabkan pekerja keras untuk tetap bersyukur di kala topan badai kita bersama sebagai manusia, berkumpul sebagai pengasah yang tumpul adalah kita yang berjuang di tangan kanannya pena dan di tangan kirinya kitab suci segala hormat kita berjalan menuju keandalan ingatkan segala kita tidak saling mengandalkan hidupi hidup dengan saling menguatkan visi Forum Lingkar Pena telah merumahi mereka yang bersungguhsungguh, lalu meneduhkan lelahkan hari dan hati mereka untuk dicintai Allah, sebagai hamba penulis dan pejuang keras padamu, aku berterima kasih, FLP Kab. Bandung, 6 November 2017 ...
HIKAYAT

HIKAYAT

Karya Anggota, Puisi
Pagi dibuka lembaran kaku berisi separuh namamu Katakata yang pernah mampir di gendang telinga membiru sudutnya Cerita cita yang tiarap kedap bersama ujung hayat Melihatmu lambai gemulai: senyap gegas terbentang Bahwa hikayat kita serupa hujan terhalang angin Lantas melipir pada takdir yang salah tempat Rinai tiada sempat berpamit pada telapak yang kugenggam Kita diamdiam berselimut muram bermuka masam Apa yang kita tuang di siang hari menukar nasib di rembang petang Lantas sengketa adalah kisikisi tiap kelana Menusuk rusuk gulita meraja Gelagat segala rupa luka Senja dimulai saat engkau datang kelang Rinai kita berjatuhan di dedaun kenang Janji tak jua tertopang hingga pagi bersuci Hikayat terberai lagilagi Demang Lebar Daun, 05/11/17 Azzura Dayana

Pin It on Pinterest