Suatu Hari di Jambi (1/4): Candi Muaro Jambi; Venesia Rasa Melayu

3 menit baca |

Bersepeda dari satu candi ke candi lain dengan pemandangan hutan atau kebun dengan sungai di sisinya? Rasanya di Indonesia hanya dapat dilakukan di Jambi.

Kabut asap masih menyelimuti kota ini saat saya tiba Bandara Sultan Thaha. Beruntung, penerbangan dari Jakarta tidak dibatalkan, hanya delay sekian jam. Padahal hari-hari sebelumnya banyak penerbangan dibatalkan. “Beberapa waktu lalu lebih parah, Mbak,” kata Berlian Santosa, rekan yang menemani saya selama di Jambi. “Kami harus mengenakan masker. Beberapa kabupaten bahkan meliburkan sekolah-sekolah.”

Kebakaran hutan memang masih menjadi pekerjaan rumah bagi negeri ini. Masyarakat di kawasan Sumatra, yang paling terkena dampaknya. Bahkan kabut asap bisa melaju hingga negeri jiran. Namun semangat menjelajah Jambi, meski hanya tiga hari, tak membuat semangat saya turun karena kabut asap. Akar Melayu daerah ini begitu menarik perhatian saya. Apalagi sejak Candi Muaro Jambi makin dikenal masyarakat dan dipublikasikan media. Maka Candi Muaro Jambi pun menjadi tujuan utama saya di kota yang bernama sama dengan provinsinya ini.

Sejak dibangunnya Jembatan Batanghari II, akses menuju Candi Muaro Jambi dari pusat kota Jambi semakin cepat dan mudah. Hanya setengah jam dari yang biasanya satu jam. Jalannya pun mulus. Tak heran pengunjung situs sejarah ini pun makin banyak. Perekonomian masyarakat sekitar terbantu. Sebagian dari mereka ada yang menjual makanan dan minuman, menyewakan tikar, menyewakan sepeda, hingga menyewakan rumah untuk pengunjung yang ingin menginap.

Tak jauh dari loket tiket masuk kawasan candi, kami sudah ditawari sepeda. “Capek kalau berjalan kaki, dari satu candi ke candi lain lumayan jauh,” kata Ibu yang menawari kami. Saya langsung mengiyakan, tapi Berlian menawar dulu. Setelah sepakat kami pun konvoi sepeda! Cara paling asyik menjelajah Muaro Jambi yang ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya (KCB) sejak 30 Desember 2013 ini memang mengayuh sepeda. Dengan area yang membentang sepanjang 7 km dan mencakup luas 17,5 km2, KCB Candi Muaro Jambi diklaim sebagai kawasan candi terluas di Asia Tenggara.

Angin semilir membelai wajah saya saat mulai menjelajah. Kabut asap tipis terlihat menyeliputi kawasan, membuat Candi Gumpung, candi pertama yang kami temui terlihat samar meski hanya dari jarak puluhan meter. Jalur bersepeda sudah rapi dengan konblok. Sebagian masih tanah, terutama jalur menuju kawasan candi di bagian dalam. Antara candi yang satu dengan yang lain banyak dihubungkan dengan sungai dan kanal-kanal. “Venesia dari Timur,” kata rekan saya. “Venesia rasa Melayu,” celetuk saya.

Dalam bukunya Memasuki Gerbang Situs Sejarah Candi Muaro Jambi, Fachrudin Saudagar menyebutkan hingga tahun 2003 telah teridentifikasi 110 bangunan candi, baik yang telah dipugar, belum dipugar, ataupun yang masih dalam bentuk manapo. Manapo adalah bentuk/gundukan tanah yang di atasnya telah tumbuh pohon-pohon besar dan di dalamnya ditemukan struktur bangunan candi yang telah runtuh.

Dari jumlah tersebut, ada sekitar 36 candi yang telah dipugar dan diberi nama. Jumlah 110 candi yang teridentifikasi itu pun belum final karena masih terus dilakukan penggalian. Terbayang luasnya kawasan candi ini. Sekitar 4 jam bersepeda saja kami hanya bisa menjejak sekitar 6 candi, yakni Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Kembar Bato, Candi Kedaton, Candi Gedong, dan Candi Astano.

Nah, di Candi Astano saya menemukan fakta menarik. Tadinya saya tidak menyadari, kalau Berlian tidak memberitahu, “Coba perhatikan tanah dengan teliti, Mbak.” Dan ya… banyak pecahan keramik di sekitar area Candi Astano. Beragam bentuk dan motif dengan ukuran pecahan yang beragam. Saat musim hujan lebat, area di sekitar Candi Astano akan terisi air dan menjadi kanal. Saat saya datang kondisi kawasan Candi Astano sedang kering sehingga saya bisa melihat pecahan-pecahan keramik tersebut. Bukan pecahan keramik sembarang.

Meski bukan orang yang mengerti keramik, tapi saya bisa merasakan kekhasan keramik-keramik tersebut. Makin menegaskan betapa kawasan ini pernah menjadi pusat aktivitas ratusan atau bahkan ribuan tahun lalu, juga adanya hubungan antara Kerajaan Melayu dan Sriwijaya dengan Tiongkok. Menurut Berlian juga, di beberapa aliran sungai Batanghari di pusat kota Jambi hingga sekarang masih sering ditemukan pecahan-pecahan keramik yang diduga berasal dari Tiongkok. Sayangnya saya tak sempat mengunjungi tempat tersebut. (BERSAMBUNG)

*Artikel ini pernah dimuat di Garuda in-flight magazine Colours

Post Author: Rahmadiyanti Rusdi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *