Kamis, Mei 12Literasi Berkeadaban - Berbakti, Berkarya, Berarti

Tag: Sastra

Sastra yang Menggerakkan; Proses Kreatif: Dimensi Pembaca | Helvy Tiana Rosa

Sastra yang Menggerakkan; Proses Kreatif: Dimensi Pembaca | Helvy Tiana Rosa

Senandika
JAKARTA, FLP.or.id -- Memang terdapat karya sastra tertentu yang dianggap memiliki kemampuan “menggerakkan”, seperti  beberapa karya Charles Dickens yang mendorong pemerintah Inggris mengeluarkan undang-undang memperbaiki kondisi kaum buruh di negara tersebut atau Uncle Tom’s Cabin yang membantu menghapus perbudakan negro di Amerika Serikat, misalnya. [ Baca juga bagian sebelumnya Sastra yang Menggerakkan; Pendahuluan ] Saat bertemu dengan Harriet Becher Stowe, penulis Uncle Tom’s Cabin, Presiden Lincoln berkata, “Wah, jadi ini ya nyonya mungil yang yang menimbulkan perang besar ini,” Namun sebelum masuk ke narasi besar tersebut, saya terlebih dahulu berpikir mengenai perubahan dalam diri saya. Adakah sastra telah mengubah saya? Saya meninjaunya pada beberapa hal. Terutama menyangkut k...
Sastra yang Menggerakkan; Pendahuluan | Helvy Tiana Rosa

Sastra yang Menggerakkan; Pendahuluan | Helvy Tiana Rosa

Senandika
JAKARTA, FLP.or.id -- Kegelisahan masyarakat akan menjadi kegelisahan para sastrawan. Begitu pula harapan, penderitaan, aspirasi mereka menjadi bagian dari diri dan jiwa  sastrawan (Jakob Soemardjo) Pendahuluan Karya sastra sebenarnya selalu berbicara mengenai hal yang sama, yaitu kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah sebuah kenyataan sosial. Oleh karena itu baik karya sastra maupun pengarangnya tak akan pernah bisa menghindar dari berbagai problem sosial yang terdapat di dalam masyarakat, di mana sang pengarang adalah juga bagian dari masyarakat tersebut. Sebagaimana yang kita pahami, karya sastra sangat terkait dengan latar belakang sosiokultural sastrawannya, atau yang kita kenal dengan unsur ekstrinsik. Unsur-unsur ekstrinsik tersebut menyebabkan karya sastra memiliki tendensi...
Kiprah Migran dalam Dunia Sastra

Kiprah Migran dalam Dunia Sastra

Berita, Pilihan Editor
Taipei (Minggu, 10/4/16), bertempat di National Museum Nan Men Park, FLP Taiwan bersama Perpustakaan Asia Tenggara (Brilliant Time) dan PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Taiwan menggelar acara workshop kepenulisan. Menghadirkan penulis senior, Pipiet Senja, acara berlangsung mulai pukul 11 siang hingga pukul 4 sore. Acara Workshop yang mengambil tema; Kiprah Migran dalam Dunia Sastra, itu dibagi menjadi dua sesi, yakni sesi pagi dan sesi siang. Sesi pagi diisi beberapa acara, di antaranya pembacaan puisi oleh anggota FLP, Umi Sugiharti, tips dan trik mengikuti Lomba Sastra Migrant yang dibawakan oleh ketua FLP Taiwan, Justto Lasoo, serta bedah karya oleh Pipiet Senja dan FORMMIT (Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan). Kumpulan cerpen karya salah satu pengurus FLP Taiwan, Ryan Ferdi...
Menyikapi Konspirasi

Menyikapi Konspirasi

Opini
Sejak zaman pelayaran samudera yang dilakukan Portugis dan Spanyol untuk mencari rempah-rempah ke timur dengan membawa misi 3 G (gold, gospel, dan glory), tema konspirasi tidak pernah mati. Apalagi belakangan ditambah dengan pengakuan para tokoh yang terlibat dalam konspirasi—seperti John Perkins dalam bukunya Confessions of an Economic Hit Man (2004)—membuktikan bahwa konspirasi dalam bentuk kolonisasi ekonomi di negara-negara dunia ketiga memang ada. Tidak terlihat, tapi ada. Dalam konteks kasus Tolikara yang terjadi pada Idul Fitri 1436 Hijriyah yang lalu, aroma konspirasi juga kabarnya ada. Sebelum terjadi penyerangan kepada umat Islam yang akan menunaikan salat Idul Fitri, telah ada selebaran dari GIDI yang melarang umat Islam ‘membuka lebaran’ (salat Idul Fitri) di Kabupaten Tolikara...
Festival Sastra Migran Indonesia IV

Festival Sastra Migran Indonesia IV

Berita
CAUSEWAYBAY. Dalam rangka menggali potensi para migran Indonesia di bidang sastra, seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Forum Lingkar Pena Hong Kong mengadakan Festival Sastra Migran Indonesia IV pada hari Minggu, 19 Oktober 2014 di Ramayana Hall, Gedung KJRI Hong Kong. Acara dimulai jam 11.00 – 16.00. Dibuka secara resmi oleh Konjen RI di Hong Kong, Chalief Akbar. Acara utama adalah “Konser Penulis” yang dimeriahkan dengan kegiatan menulis serentak selama 3 menit. Perwakilan dari KJRI Hong Kong, perusahaan sponsor, perwakilan dari FLP Hong Kong menulis di depan para audience dengan menggunakan laptop. Begitu pula dengan peserta yang hadir, mereka turut serta menulis di kertas yang sudah disediakan panitia. Semuanya menulis dalam bingkai tema “Terapi Hati”. FSMI ini merupakan kegiatan...
O’Lord

O’Lord

Karya, Puisi
O'Lord Life's getting Harder... Nowadays. How how how can I get through this? O'Lord O'Lord, help me, help this Unperfect Creatures. Who doesn't know what to do and what to do and what to do... With all the universe, I'm asking for help... To make easier for this Unperfect Creatures, to get through this Darkness... to get out from this Cage... I'm not an Animal. Release me... Ohhh You The Greatest and who made this Greatest Universe. I know You'll Listen when Nobody's Listening. So listen to me... O'Lord O'Lord who owns The Universe. O'Lord, give me one thing, a Light when I'm lost... O'Lord O'Lord who owns The Past and The Future. Give me one thing, a Heart to Recover... For the Past I Run, for the Future I Walk, For The Universe I Wake Up, and... For This Unperfect Creatures... ...
Visi Ketuhanan dalam Berkarya (bag 1)

Visi Ketuhanan dalam Berkarya (bag 1)

Karya, Kritik Sastra
Sebuah karya sastra tidak lahir begitu saja. Ia tidak muncul dari ruang yang kosong. Karya sastra yang kuat biasanya lahir dari penulis yang pula kuat visi atau pandangan kepengarangannya. Dalam esai singkat ini kita mencoba menyimak visi ketuhanan khususnya keislaman dalam karang-mengarang. Dalam esai ini kita antara lain akan membaca dengan singkat beberapa karya dan pemikiran sastrawan Islam. Kuntowijoyo, Sutardji Calzoum Bachri, dan Danarto adalah contoh sebagian sastrawan yang menjadikan Tuhan sebagai sahabat dalam berkarya. Judul karangan ini mengacu pada kalimat Hamdy Salad dalam buku Agama Seni: Refleksi Teologis dalam Ruang Estetik (2000). Sementara pembahasan karya sastrawan yang disebut di muka sebagian besar merujuk pada paparan-paparan Abdul Hadi WM dalam buku esainya Kembali ...
Hukum Menulis Cerpen

Hukum Menulis Cerpen

Kepenulisan, Pojok
Sebagai penikmat sastra –dan kadang-kadang iseng menulis karya sastra– pernah terlintas di benak saya bagaimana hukum menulis cerpen (apalagi novel)? Bukankah ada seperti unsur membohongi gitu? Menulis cerpen itu kan mengarang (insya') dan mengarang itu kan mengada-ada –heheh–, apa nggak "ngapusi", membohongi? Kan tokoh-tokohnya, kejadiannya, latar belakangnya, tempat kejadiannya; bias jadi rekaan semua,walau diangkat dari kejadian sehari-hari dengan merubah pelakunya. Hal ini pernah merisaukan pikiran saya lumayan agak lama, sebelum saya mendiskusikannya dengan beberapa Guru-Guru Besar saya yang masing-masing memberikan jawaban berbeda sesuai dengan wijhah nadhor (sudut pandang) masing-masing, meski inti jawaban adalah sama. Cerpen, dalam istilah Arab disebut "Riwayah" atau "qisshoh q...
Sastra Islam dan FLP

Sastra Islam dan FLP

Karya, Opini
Apakah Sastra Islam benar-benar ada? Kalau ada seperti apa batasannya? Apakah sama Sastra Islam dengan Sastra Islami? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu masih menjadi polemik dalam dunia kesusasteraan Indonesia Selama ini istilah Sastra Islam masih disebut secara “malu-malu” dan terselubung oleh para sastrawan Islam. Taufik Ismail menyebut Sastra Dzikir, Kuntowijoyo memakai istilah Sastra Profetik, Danarto menggunakan istilah Sastra Pencerahan, M. Fodoli Zaini  menyebutnya sebagai Sastra yang terlibat dengan dunia dalam, sementara Sutardji Caloum Bachri memberi istilah Sastra Transenden dan Abdul Hadi W.M. mengistilahkan Sastra Sufistik, untuk karya-karya mereka yang berakar dari wacana keimanan atau religiusitas yang dibawanya. Namun selain Abdul Hadi W.M. tak satupun sastrawan di atas ya...
Visi Ketuhanan dalam Berkarya (bag 4 )

Visi Ketuhanan dalam Berkarya (bag 4 )

Karya, Kritik Sastra
Danarto (lahir di Sragen, Jawa Tengah, 27 Juni 1940) meyakini bahwa sastra merupakan alat untuk menerima dan memberikan pencerahan. Salah satu karya sastranya adalah cerpen “Lempengan-lempengan Cahaya” yang disiarkan pertama kali di Horison, Juni 1988, lalu dimuat dalam buku kumpulan cerpen Setangkai Melati di Sayap Jibril (2001). Menurut Abdul Hadi WM, “Lempengan-lempengan Cahaya” berhasil memadukan dimensi sosial dan dimensi transendental yang diidamkan setiap penulis sufistik. “Lempengan-lempengan Cahaya” memilih tempat di Palestina ketika pasukan Israel bentrok dengan orang-orang Palestina yang melancarkan intifadah. Cerpen ini dibuka dengan percakapan antara Surah al-Fatihah, Ayat Kursi, dan Surah Ali Imran ayat 18-19 sebelum ketiganya diwahyukan kepada Nabi Muhammad dan kemudian ter...

Pin It on Pinterest