Sastra yang Menggerakkan; Pendahuluan | Helvy Tiana Rosa

1 menit baca |

JAKARTA, FLP.or.id — Kegelisahan masyarakat akan menjadi kegelisahan para sastrawan. Begitu pula harapan, penderitaan, aspirasi mereka menjadi bagian dari diri dan jiwa  sastrawan (Jakob Soemardjo)

Pendahuluan

Karya sastra sebenarnya selalu berbicara mengenai hal yang sama, yaitu kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah sebuah kenyataan sosial. Oleh karena itu baik karya sastra maupun pengarangnya tak akan pernah bisa menghindar dari berbagai problem sosial yang terdapat di dalam masyarakat, di mana sang pengarang adalah juga bagian dari masyarakat tersebut.

Sebagaimana yang kita pahami, karya sastra sangat terkait dengan latar belakang sosiokultural sastrawannya, atau yang kita kenal dengan unsur ekstrinsik. Unsur-unsur ekstrinsik tersebut menyebabkan karya sastra memiliki tendensi berupa amanat, unsur-unsur yang mendidik serta makna kearifan hidup (etika) yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca, tanpa mengabaikan unsur estetikanya. Secara komplit Kuntowijoyo menyatakan bahwa karya sastra terbangun atas strukturisasi pengalaman, struksturisasi imajinasi dan strukturisasi nilai yang diolah oleh sang pengarang.[3]

Pertanyaannya kemudian, sejauhmana karya sastra mampu menggerakkan suatu perubahan sosial? Di mana posisi sastrawan sebagai agen perubahan? Bisakah seorang sastrawan mengakomodir problema masyarakatnya,  mengangkatnya dalam karya sastra yang tak lepas dari kaidah estetik, lalu karya tersebut menginspirasi sebuah perubahan sosial?

Sesuai permintaan panitia, dalam kesempatan ini saya akan memaparkan makalah mengenai bagaimana respon dan sikap pengarang terhadap problem–problem sosial budaya masyarakat, berdasarkan pengalaman saya sebagai pengarang.

bersambung

Sumber: sastrahelvy.com. Pertama kali disampaikan pada Seminar Nasional Sastra dan Perubahan Sosial yang diadakan   Fakutas Sastra dan Seni Rupa,  Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 17 April 2010.

Post Author: Helvy Tiana Rosa

Helvy Tiana Rosa lahir di Medan 2 April 1970. Ia menyelesaikan S1 dan S2 di Fakultas Sastra/ Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Selain dikenal sebagai sastrawan, ia Dosen Fakultas Bahasa dan Seni, UNJ. Helvy menulis lebih dari 50 buku, antara lain Juragan Haji (2014), Tanah Perempuan (2009), Segenggam Gumam (2003) dan Mata Ketiga Cinta (2012). Beberapa karyanya telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Arab, Jepang, Swedia dan Persia. Ia sering diundang berbicara serta membacakan karya-karyanya di dalam dan luar negeri, seperti Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand, Hong Kong, Jepang, Turki, Mesir, hingga Amerika Serikat.

3 thoughts on “Sastra yang Menggerakkan; Pendahuluan | Helvy Tiana Rosa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *