Selasa, Maret 17Literasi Berkeadaban - Berbakti, Berkarya, Berarti

Karya Anggota

KIMRI | Cerpen Topik Mulyana

KIMRI | Cerpen Topik Mulyana

Cerpen, Karya Anggota, Pilihan Editor
JIKA Tuan seorang ahli sejarah, Tuan pasti tahu nama Desa Cibintinu. Itulah desa kami dulu. Di sinilah pelajar Soekarno bertemu dengan salah seorang leluhur kami, petani Marhaen. Ketika pelajar Soekarno menjadi kian ternama, nama leluhur kami itu acapkali disebut-sebut dalam pidato-pidatonya. Sudah pasti, kami merasa sangat bangga. Berpuluh tahun lamanya kami hidup dalam kebanggaan semacam itu. Kemudian, peristiwa pada pertengahan tahun 60-an mengubah segalanya. Deru puluhan mobil jip dan gemuruh ratusan pasang sepatu lars yang sepanjang malam tak henti-henti itu seketika menghancurluluhkan kemegahan nama Marhaen dalam benak kami. Sejak itu, kami dibayang-bayangi rasa ngeri, terkucil, dan dicemooh orang-orang sekitar bahwa kami keturunan orang-orang pengkhianat dan biadab. Kami ditiadakan....
Brexit dan Tantangan Multikulturalisme di Britania Raya

Brexit dan Tantangan Multikulturalisme di Britania Raya

Karya Anggota, Opini, Pilihan Editor
Pada Jumat, 24 Juni 2016, hasil referendum masyarakat di Britania Raya dan Irlandia Utara tentang keanggotaan di Uni Eropa resmi diumumkan. Hasilnya, kubu Brexit memenangkan referendum dengan meraup 51.9% suara. Ini berarti, Britania Raya dan Irandia Utara menjadi negara pertama yang secara resmi akan keluar dari Uni Eropa. Perubahan ini tentu membawa banyak tantangan, salah satunya tentang masa depan multikulturalisme di Britania Raya. Britania Raya dan Irlandia Utara yang terdiri dari Inggris, Skotlandia, Wales dan Irlandia Utara memang memiliki pasang-surut dalam hubungannya dengan Uni Eropa. Perdebatan mengenai keluarnya Britania Raya dan Irlandia Utara dari Uni Eropa sebenarnya telah muncul sejak tahun 1973. Pada tahun 1975, dilaksanakan referendum untuk menentukan apakah Britania Ray...
FLP Maluku Utara: Di Balik Layar KMGP (Part 3)

FLP Maluku Utara: Di Balik Layar KMGP (Part 3)

Pilihan Editor, Travelling
Survey Lokasi Syuting 20 September 2015, Umar (Ketua Bidang PSDM FLP Wilayah Maluku Utara) bersama Andi Cahyadi (CO Produser), Firman Syah (Sutradara), Dodon (Asisten Kameramen)  dan Jeck (asisten Sutradara) berencana untuk mensurvey lokasi shooting Film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) di Weda, Halmahera Tengah. Berhubung Lokasi yang dituju harus menyeberangi laut dan jarak tempunya agak jauh, begitu pula para Pengurus FLP Malut yang harus mejalani aktivitas mereka seperti Ngantor, Ngajar ataupun masih kulia maka Umar yang diutus oleh FLP Malut untuk menemani perjalanan mereka menuju Lokasi.             Bertolak dari pelabuhan Speed Boat yang Berada di samping Mesjid Almunawwar Ternate, Umar, Para Crew Film KMGP dan Juga Staf Dinas Pariwisata Provinsi Maluku menuju Sofifi dengan menumpangi s...
FLP Maluku Utara: Di Balik Layar KMGP (Bagian 2)

FLP Maluku Utara: Di Balik Layar KMGP (Bagian 2)

Karya Anggota, Pilihan Editor, Travelling
Sabtu, 30 Mei 2015 mobil yang membawa HTR dan lainnya menuju Universitas Unkhair Ternate. Di sana FLP Malut yang bekerja sama dengan Go Pena, UMMU Press, dan Mesjid Al-Munawwar  membuat kegiatan seminar kepenulisan. Mengundang HTR sebagai pematerinya. Seminar ini dilaksanakan di dua tempat yaitu Universitas Unkhair dan Mesjid Al-Munawwar. Selain kegiatan seminar, juga dimeriahkan dengan Bazar Buku, diantaranya buku-buku yang ditawarkan ada buku karya HTR. Berbeda dengan di Unkhair, kegiatan di Mesjid Al-Munawwar Ternate para pesertanya adalah para wanita. Mereka sangat mendukung rencana Film KMGP bisa dikerjakan pembuatannya di Ternate. Seminar yang diadakan pagi hingga petang itu ditutup dengan foto bareng HTR. Selain itu juga ada sesi tanda tangan dadakan. Karena sebagian besar dari pese...
FLP Maluku Utara: di Balik Layar KMGP (Bagian 1)

FLP Maluku Utara: di Balik Layar KMGP (Bagian 1)

Karya Anggota, Pilihan Editor, Travelling
Jumat 29 Mei 2015, sekitar pukul 8 Pagi Helvy Tiana Rosa (HTR), Firman Syah (Sutradara Film Ketika Mas Gagah Pergi) dan Martin (ACT) tiba di Ternate. Mereka disambut hangat oleh Pengurus Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Maluku Utara (Malut), Putri Anggraini (Pupud) dan Asrul Lamunu (Asrul) di pintu penjemputan Bandar Udara Babullah Ternate. Kedatangan HTR di Ternate dalam rangka mensosialisasikan Film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP). Saat itu Pupud dan Asrul yang diutus untuk menemani perjalanan mereka. Asrul ditugaskan sebagai driver. Selepas dari Bandara Babullah Ternate mobil Avanza berwarna biru tosca yang membawa HTR dan lainnya menyusuri jalan disepanjang pantai Ternate hingga berhenti di Jembatan Resident. Di tempat itu HTR, Firman Syah dan Martin tidak membuang-buang waktu untuk meng...
5 Karakter di Jantung Sastra Santun

5 Karakter di Jantung Sastra Santun

Karya Anggota, Opini, Senandika
Menurut kamus, santun berarti halus dan baik budi bahasanya, tingkah lakunya. Santun juga bisa berarti sopan, sabar dan tenang, menaruh rasa belas kasihan, dan suka menolong. Santun tidak berarti kaku dan dogmatis. Terkadang, seseorang semaunya menggunakan dalil agama, tanpa mengindahkan kehalusan, kebaikan, kesabaran, dan ketenangan. Meskipun demikian, sastra santun juga tidak boleh hanya berbekal kehalusan budi bahasa sembari meninggalkan rekam jejak yang kurang baik bagi pembaca. T.S Elliot dalam Lathief (2008) mengatakan, bahwa ukuran karya sastra harus dilihat dari aspek etika dan agama. Bila ada gagasan atau semacam kesepakatan dalam suatu masyarakat tentang etika keagamaan, maka karya sastra haruslah ‘baik’ sesuai dengan etika keagamaan itu. Sumber etika maupun budaya adalah agama....
Proses Kreatif Nenek Mallomo, Lelaki itu, dan Sepotong Kayu yang Bersandar

Proses Kreatif Nenek Mallomo, Lelaki itu, dan Sepotong Kayu yang Bersandar

Cerpen, Karya Anggota, Pilihan Editor
Kemenangan saya di Lomba Penulisan Cerita Rakyat Kemendikbud 2015, membuat saya menerima banyak pertanyaan terutama seputar tips menulis cerita rakyat. Banyaknya pertanyaan yang muncul, mungkin karena peserta lomba yang diselenggarakan Kemendikbud ini, memang hampir menembus angka 3000 peserta lomba. Saya pun kaget campur senang ketika pertama kali saya dihubungi masuk 8 besar dan diundang ke Jakarta untuk tahap verifikasi naskah. Judul cerita rakyat saya yang terpilih sebagai pemenang pertama adalah Nenek Mallomo, Lelaki Itu, dan Sepotong Kayu yang Bersandar. Dari judulnya saya sudah berusaha untuk memunculkan satu tips bahwa, sebuah cerita rakyat tidak harus berjudul jadul. Saya tak memilih judul Legenda Nenek Mallomo, karena menurutku terlalu lazim. Saya berusaha untuk mencari sesuatu y...
Di Hadap-Mu

Di Hadap-Mu

Karya Anggota, Kritik Sastra, Puisi
Di Hadap-Mu Oleh Aulia Prasetioadi Aku salah satu dari mereka hamba-Mu yang berlumuran dosa Aku salah satu dari mereka hamba-Mu yang jarang menekukkan kaki menyembah kepada-Mu Aku salah satu dari mereka hamba-Mu yang terlalu asyik dengan dunia-Mu Aku salah satu dari mereka hamba-Mu yang terkadang lupa bersyukur kepada-Mu... Tetapi, dibalik semua itu... Kau masih memberikan kesabaran yang melimpah kepadaku, Masih memberikan kepercayaan  kepadaku, Masih mengingatkanku untuk senantiasa bersyukur, Kesempatan untuk merasakan dan menikmati semua kenikmatan darimu kepadaku, Menuaikan mimpiku yang tertanam kepadaku, Tak hentinya menyiram dan menanam cinta didalam hatiku. Sesungguhnya, Wahai Kau Sang Maha Sempurna dan Maha Penyayang, aku berterimakasih kepada-Mu dari dalam lubuk hati seorang yang p...
Apakah Barat Anti-Islam? (Bagian 2-habis)

Apakah Barat Anti-Islam? (Bagian 2-habis)

Karya Anggota, Opini, Pilihan Editor
Apakah Barat anti-Islam? Jika konsep 'Barat' itu kita letakkan minimal pada warga yang tinggal di tiga benua tersebut--Amerika, Eropa, dan Australia--maka secara general orang-orang yang tinggal di sana apapun latar belakangnya adalah barat. Dan, jika kita berpatokan pada asumsi bahwa Barat membenci Islam atau saat ini terjadi konflik antara Barat dan Islam, maka semua yang jadi warga di tiga benua itu dianggap berperang atau membenci Islam. Padahal, di tiga benua itu orang Islam-nya juga ada, bahkan terus meningkat. Tambahan lagi, walau tidak beragama Islam, di tiga benua itu juga banyak dari mereka yang bersimpati kepada Islam, bahkan menjadi pembela Islam dan mengkampanyekan pentingnya perdamaian. Danielle Loduce, dalam tulisannya Living Islam in the West: Is it Easy?, menulis, "Not onl...
Berlalu

Berlalu

Pilihan Editor, Puisi
  Satu detik Dua detik Tiga detik Empat detik Lima detik dan di penghujung detik yang ke-enam waktu lambat berjalan ketika kita habiskan waktu untuk menunggu tak dapat menghindar dari tebasan pedang sang waktu yang  kini telah menjadi benalu hidup kesedihan, canda, dan tawa jadi penghias bak pelangi yang menghiasi langit tak kunjung jumpa dibatas waktu perpisahan lagi dan lagi aku bosan terus menangis dan aku tak mau bila tangis ini hanya tangis palsu ingin putar kembali waktu yang telah lalu yang kini tinggal kenangan kini dan nanti tetap menjadi kenangan aku tak berani ucap kita akan bertemu kembali meski  tahu bisa jadi itu doa untuk kemudian hari dan ... aku menangis ... lagi deras, sederas hujan tak kunjung reda bukan ... bukan karna aku ingin selalu berada di sana tapi...

Pin It on Pinterest