Berlalu

1 menit baca |

picture from google
picture from google

 

Satu detik

Dua detik
Tiga detik
Empat detik
Lima detik
dan di penghujung detik yang ke-enam
waktu lambat berjalan
ketika kita habiskan waktu untuk menunggu
tak dapat menghindar dari tebasan pedang sang waktu
yang  kini telah menjadi benalu hidup
kesedihan, canda, dan tawa
jadi penghias bak pelangi yang menghiasi langit
tak kunjung jumpa dibatas waktu perpisahan
lagi dan lagi
aku bosan terus menangis
dan aku tak mau bila tangis ini hanya tangis palsu
ingin putar kembali
waktu yang telah lalu
yang kini tinggal kenangan
kini dan nanti tetap menjadi kenangan
aku tak berani ucap kita akan bertemu kembali
meski  tahu bisa jadi itu doa
untuk kemudian hari
dan … aku menangis … lagi
deras,
sederas hujan tak kunjung reda
bukan … bukan karna aku ingin selalu berada di sana
tapi … karna aku tersadar akan apa yang telah kulalui
kini penghujung waktu itu tiba
berulang kali kata maaf terucap dari  bibirbibir lemah
tetesan  bening itu sudah lama tumpah
tapi tak jua kujumpai satu insan pun
hayalkah?
nyata?
sungguh aku tak tahu
seperti lembaran baru
berbahagia untuk kita semua
terbang menggapai angan
melampaui batas samudra
lebih jauh lagi ke sana
hingga melewati tata surya
dan lebih jauh lagi … lebih jauh lagi dan lebih jauh lagi
hingga tersisa rasa syukur yang mengisi ruang hati
kita mampu karna kita bersama dan kita saling mendoakan satu sama lainnya
biarkan waktu berlalu namun jangan biarkan waktu hapus persahabatan yang pernah terjalin
Teruntuk manisnya persahabatan ini
Terima kasih atas segalanya,
SAHABAT
(Bandung, 17 September 2015)
*ARUNNI,  seorang siswi Madrasah Aliah kelas 12, domisili di Bandung.

Post Author: Kontributor FLP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *