Senin, Januari 19Literasi Berkeadaban - Berbakti, Berkarya, Berarti

Karya Anggota

Branding FLP, Gerakan Bahagia Ber-FLP, dan Lainnya

Branding FLP, Gerakan Bahagia Ber-FLP, dan Lainnya

Humas, Opini, Pojok
Di antara tantangan keorganisasian FLP ialah meningkatkan loyalitas, kebanggaan, dan daya tarik FLP. Sering kali agenda branding (penjenamaan) luput diarahkan ke sana. Kami mendorong Humas untuk membawa paradigma employer dan employee branding, daripada sekadar corporate branding yang selama ini dijalankan. Employer, Employee, dan Corporate Branding Employer branding sebenarnya adalah teori yang sudah muncul di dunia manajemen sejak tahun 1996. Tim Ambler & Simon Barrow pertama kali menulis ini dalam papernya berjudul “The employer brand” di Journal of Brand Management. Ambler dan Barrow memandang bahwa manajemen sumber daya manusia, atau dalam konteks perusahaan: Human Resources Development (HRD), pada saat itu dianggap hanya memiliki fungsi administratif, dan sisi lain branding ...
FLP dan Literasi Berdaya, Sebuah Cita-Cita untuk Indonesia

FLP dan Literasi Berdaya, Sebuah Cita-Cita untuk Indonesia

Karya Anggota, Ketum, Opini, Pojok
  Catatan: Nafi’ah al-Ma’rab (Ketua Umum Forum Lingkar Pena)   Dimulai sejak Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) FLP pada 22-23 November 2025 di Jakarta lalu, Forum Lingkar Pena secara resmi menetapkan #LiterasiBerdaya sebagai tagline berikutnya untuk menyempurnakan gerakan panjang #LiterasiBerkeadaban yang sudah digaungkan sejak delapan tahun yang lalu. Memasuki usia 29 tahun, FLP mestilah harus makin mengukuhkan posisinya dalam barisan peletak fondasi peradaban Indonesia. Tidak lagi bermain di tepi-tepi, tidak lagi bekerja untuk diri sendiri. Organisasi ini harus kian melebar, menjadi rumah bersama untuk perbaikan peradaban literasi di Indonesia. Semenjak dulu sebagai pelopor, dan semestinya di era kini harus makin inovatif dalam menggaungkan kerja-kerja. Memakn...
Belajar dari Gelas China, Keberanian untuk Hadir Menyelesaikan Masalah

Belajar dari Gelas China, Keberanian untuk Hadir Menyelesaikan Masalah

Ketum, Opini, Pojok
Catatan Nafi’ah al-Ma’rab (Ketua Umum Forum Lingkar Pena) Pernahkah kita memerhatikan bentuk gelas China? Ya, gelas ini tidak memiliki gagang di bagian tepinya. Dibiarkan bulat begitu saja dan diisi dengan cairan hangat atau panas untuk dinikmati. Pada umumnya gagang pada cangkir atau gelas digunakan untuk menjadi isolator panas pada cairan yang ada di dalam bulatan cangkir. Supaya bisa panas tidak begitu terasa, dipegang lebih aman, dan cairan bisa diminum perlahan-lahan. Namun, tidak demikian dengan gelas China. Tidak ada gagang, jadi kalau mau minum ya terpaksa harus dipegang bagian bulatannya. Panas akan terasa secara langsung tanpa adanya isolator di bagian tepinya. Apa maknanya? Gelas China ini mengajarkan kita untuk berani hadir merasakan sesuatu secara langsung. Saat tanga...
Revisi Undang-Undang Sisdiknas, Sastra Belum Masuk Sekolah

Revisi Undang-Undang Sisdiknas, Sastra Belum Masuk Sekolah

Ketum, Opini, Pojok
  Catatan Nafi’ah al-Ma’rab (Ketua Umum Forum Lingkar Pena)   Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI saat ini sedang dalam proses revisi Undang-Undang Sisdiknas No 20 tahun 2003. Pengesahan undang-undang kabarnya akan ketok palu pada 10 Desember 2025 mendatang. Ada hal menarik yang perlu dicermati dalam salinan undang-undang yang beredar dan bisa diakse publik tersebut yakni pada Pasal 37 ayat 1 menyebutkan poin-poin pelajaran apa saja yang diwajibkan di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Ada sebanyak 10 pelajaran yang diwajibkan di sana, tetapi secara tersurat tidak ada poin ‘sastra’. Pada poin C tertulis pembelajaran ‘bahasa’ yang idealnya dihubungkan dengan sastra, menjadi ‘bahasa dan sastra’. Sebagai penggiat sastra di Indonesia, kita tentu saja mengharapkan r...
Koleksi Puisi tentang Perempuan Serta Puisi Inspiratif

Koleksi Puisi tentang Perempuan Serta Puisi Inspiratif

Puisi
  Perempuan Sendiri dan Lukisannya Sendiri oleh Ika Y. Suryadi di galeri kita bertukar getar, dipisah lorong padat para pengunjung yang kerap tersesat di waktu yang sebentar dan bersicakap apa yang lebih abstrak garis magis, detail mistis, atau kita sendiri   rindu itu adalah kau, yang dilukis habis seniman dalam kuas yang berujar, dan terburai ia terlampau setuju menarik pagi di setiap garis-guratan namamu; dan kau bukan lagi sepi jadi di warna mana kau terkesan? rindu itu adalah kau yang terlampau bosan dan beranjak pulang, tanpa sempat kau temukan, wajah siapa dalam bingkai.  dan di dalam galeri asing pinggir jalan ini, kita berpencar. tapi mengapa, nasib kita masih saling melambai? Jambi, 2018   Mengapa se...
Sastra di Belantara Digital Milik Siapa?

Sastra di Belantara Digital Milik Siapa?

Opini
Sastra di Belantara Digital Milik Siapa?  Oleh M. Irfan Hidayatullah* Pada setiap pergantian era tampak selalu ada keterancaman, dalam bidang apa pun (Yang dirasakan sehari-hari biasanya dalam ranah politik, bahkan untuk hal yang satu ini tampak seperti adanya huru-hara yang memakan korban) walaupun secara logika perpindahan ini memiliki proses yang panjang. Terdapat dialektika di dalamnya. Lebih dari itu, bahkan sebenarnya istilah pergantian itu pun perlu dipertanyakan karena yang sebenarnya ada hanyalah sebuah momen perubahan yang dirayakan. Berkenaan dengan hal ini saya melihat adanya sebuah paradoks. Saya contohkan (tentu saja kebetulan) melalui dua kata yang memiliki arti yang diametral secara leksikal dalam salah satu konstruksi morfemis tidak memilliki perbedaan sama sekali. Dua ka...
Cerpen Lita Lestianti : Pria yang Disebut Keluarga

Cerpen Lita Lestianti : Pria yang Disebut Keluarga

Cerpen
"Mana orang yang kamu percaya itu?" Mata seorang wanita melotot sambil menjulur-julurkan kepalanya ke arah barat rumah. Seolah-olah orang yang dibicarakan itu ada di barat rumah. "Kita bisa makan, dia tidak urus. Kita tidak bisa makan, dia juga tidak peduli. Kita sekarat sekalipun juga dia tidak urus. Tidak lagi menghubungimu semenjak suaramu kalah!" Kepulan asap rokok yang keluar dari mulut pria di depan wanita itu menyesakkan ruangan. Hembusan nafasnya sengaja dikeraskan agar asap yang terbebas dari rongga mulutnya itu segera menutup pandangan amarah istrinya. "Dulu saja. Datang setiap hari ke rumah. Saat lebaran hari raya kurban, diajak jalan sampai ke Thailand. Sekarang? Melewati rumah kita saja seperti melewati kuburan. Kemana pria yang kau sebut keluarga itu?" Istrinya sudah kesal...
Tips Bijak Menggunakan Media Sosial

Tips Bijak Menggunakan Media Sosial

Opini
flp.or.id - Siapa sih yang tidak mengenal media sosial? Siapa pun dan dari kalangan manapun di era digitalisasi ini pasti sudah mengenalnya. Baik dari lingkungan perkotaan hingga pedesaan. Apa Itu Media Sosial? Media sosial diartikan sebagai media digital yang digunakan untuk berinteraksi dan bersosialisasi. Lebih jelas lagi, para ahli mendefinisikannya sebagai teknologi digital yang bertumpu pada interaksi atau user generated content. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa media sosial juga berkaitan dengan bagaimana pengguna berinteraksi dengan pengguna lainnya. Sehingga, merupakan kewajiban bagi setiap pengguna untuk bijak menggunakan media sosial. Lantas, seperti apa semestinya bersikap di media sosial? Sebelum membahas ini lebih lanjut, mari mengetahui terlebih dahulu apa saja etik...
Resensi Novel Renggenis : Altitude 3088

Resensi Novel Renggenis : Altitude 3088

Resensi
Perjalanan Mengajarkan Arti Persahabatan Oleh : Oleh: Danz Chisaemaru Judul : Rengganis : Altitude 3088 Penulis : Azzura Dayana Tebal Halaman : 232 halaman Penerbit : Indiva Media Kreasi Tahun Terbit : Agustus 2014 ISBN : 978-602-1614-26-6 Aku cuma kehilangan secuil daging kaki karena disayat batu. Sementara yang sedang kita cari ini adalah satu tubuh utuh dari seorang sahabat. Mana yang lebih penting? ” Rengganis : Altitude 3088, hal. 189. Kalimat ini begitu menyentuh hati ketika saya sedang asyik membaca lembar demi lembar novel karya Azzura Dayana. Padasaatitudiceritakanbahwa salah satu teman Dewo dan Fathur hilang di puncak gunung yang baru diketahui saat fajar menyapa. Dewo yang kakinya terluka saat pendakian tetap kekeuh tanpa istirahat untuk mencari sahabatnya hingga ditem...
Cerpen: Karma Karya Mazdar Zainal

Cerpen: Karma Karya Mazdar Zainal

Cerpen
Oleh: Mashdar Zainal Kami menggambarkan kondisi ibu seperti ini: ruh yang sudah terlanjur pamit pada jasad, namun tak bisa benar-benar pergi dari jasad yang sudah dipamitinya lantaran ada satu persyaratan yang urung ia tunaikan. Dan kami semua mengira bahwa satu persyaratan itu adalah selafas kata maaf dari nenek yang telah pergi mendahuluinya. Ini memang sedikit rumit. Coba katakan, bagaimana cara mendapat maaf dari seseorang yang telah lama dikubur. Tak ada satu hal pun yang bisa kami upayakan, kecuali doa yang mungkin sia-sia. Ibu telah terbaring di kasurnya selama sepuluh tahun. Ibu sudah sangat tua—sangat tua. Tak ada satu pun dari kawan sebaya ibu yang masih menghirup napas di muka bumi. Dan jika kami memaparkan kembali bagaimana kondisi ibu, hal itu hanya akan membuat kami miris da...

Pin It on Pinterest