Rabu, Mei 11Literasi Berkeadaban - Berbakti, Berkarya, Berarti

Ketum

Kembali Fitri, Bukan Kembali Nol

Kembali Fitri, Bukan Kembali Nol

Ketum
  Oleh S. Gegge Mappangewa Ramadan sebagai titimangsa pasti akan berlalu, seperti kepastiaannya akan datang lagi meski tak ada jaminan kita akan bertemu kembali sebelas bulan ke depan. Namun, Ramadan sebagai bulan puasa akan selalu ada bagi yang terbiasa puasa sunnah. Ramadan sebagai bulan Al-Qur’an tak akan pernah pergi dari orang yang tetap punya waktu untuk mengaji. Ramadan akan selalu ada bagi jiwa yang karakternya senang berinfak. Di luar Ramadan masih bisa salat malam. Beberapa ladang-ladang pahala di bulan Ramadan tetap terbuka lebar untuk digarap di luar Ramadan. Bedanya hanya ada pada kelipatan pahala. Seperti kelipatan diskon belanja yang banyak promo di Ramadan. Jika di luar Ramadan kita tetap gila belanja meski tanpa promo diskon, sejatinya begitu pun dengan keta...
Sinta Yudisia: Pahlawan Bagi Diri Sendiri

Sinta Yudisia: Pahlawan Bagi Diri Sendiri

Ketum, Pojok
And then a hero comes along With the strength to carry on And you cast your fears aside And you know you can survive     So when you feel like hope is gone     Look inside you and be strong     And you'll finally see the truth     That a hero lies in you Anda mungkin pernah dengar penggalan lagu Mariah Carey berjudul Hero. Selain lagu; segala hal terkait hero atau pahlawan pernah kita tonton, baca, pelajari. Tak henti-henti Hollywood membuat berbagai macam film hero berdasar komik, lengkap dengan sekuel dan spin-offnya. Masing-masing negara membangun persepsi pahlawan tergantung budaya yang dimiliki. China sering menghadirkan pahlawan lewat tokoh-tokoh kungfunya. Korea menghadirkan pahlawan dalam dunia yang lebih realistis : lelaki yang diidamkan banyak orang karena kehalusan budi pek...
Sumpah Pemuda, Konflik Horizontal, Common Will

Sumpah Pemuda, Konflik Horizontal, Common Will

Ketum, Pojok
Oleh: Afifah Afra* Ketika baru memasuki bangku kuliah, lebih dari dua dekade silam, saya ditawari bergabung di sebuah organisasi mahasiswa yang berbasis daerah asal. Karena merasa membutuhkan informasi dari teman-teman sedaerah, penulis pun memutuskan untuk bergabung. Ternyata, organisasi semacam itu cukup banyak bertumbuhan di kampus, dan biasanya cukup eksis. Mulai dari Sumatera, Jawa hingga Maluku dan Papua. Ada pula yang berbasis suku, atau sub suku. Awalnya saya mengira hal tersebut wajar-wajar saja. Sampai pada suatu malam, ada sebuah siaran di radio yang menyentakkan kesadaran saya. Sang narasumber saat itu mengatakan, “Sungguh aneh mahasiswa saat ini. Jika dahulu, saat pergerakan nasional, organisasi-organisasi kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes dan sebagain...

Pin It on Pinterest