Senandika

Tadi Sore

Negeri para bedebah
Penghisap darah warga
Memeras hingga tak setitik terlupa.
Ludas sampai batas nyawa
Mencekik hingga sengal minim udara
Menginjak, hingga mereka terpelanting,
terkubur dalam lumpur kemiskinan.
Negeri pada bedebah.
Enyahlah

Tadi sore, lelaki itu jalan terpincang.
Kaki kanannya bengkak. Kelindas elf, katanya.
Sebulan istirahat di rumah. Sepuluh hari pertama
tak bisa menjejakkan kaki. Merangkaklah ke mana-mana.
Mulai bekerja karena lima anak perlu makan.
Ada BPJS tapi jika diperiksa takut ada apa-apanya.
Hanya dengan air hangat dan diurut, katanya.
Tulang yang pasti sebagian patah.
Di pelataran parkir, dia menarik sebelah tungkainya,
wajah sesekali mengerut menahan tikaman sakit.
Yang miskin, jangan sakit, kira-kira demikian pesannya.

Belum tentang pulau nun di sana….
Kayangan dunia, namun masih penuh luka.
Sedang salah satu wakilnya asyik
mencari untung darinya.

Pertama kali terbit tanpa judul di Facebook Maimon Herawati tanggal 14 September 2018

Related posts

Sastra yang Menggerakkan; Pendahuluan | Helvy Tiana Rosa

Helvy Tiana Rosa

Cinta: Sejati, Selingkuh, Sejenis, Sejuta Rasanya (5/5)

Sinta Yudisia

Tsabbit Qalbii

maimonh

Leave a Comment