Jumat, Juli 12Literasi Berkeadaban - Berbakti, Berkarya, Berarti


Reportase Bincang Petang 3: Serba-Serbi Cara Fundraising Rumah Cahaya

Bincang Ketiga Rumah Cahaya FLP

 

Forum Lingkar Pena – Divisi Rumah Cahaya Forum Lingkar Pena (FLP) menggelar acara Bintang (Bincang Petang) ketiga secara online.

Acara yang dilaksanakan pada Sabtu, 27 Januari 2024, pukul 19.00 hingga 21.00 WIB, dihadiri oleh perwakilan anggota FLP dari berbagai cabang se-Indonesia.

Dimoderatori oleh Yusi Yusuf, acara Bintang ketiga membahas tentang fundraising Rumah Cahaya dan menggaet Depita sebagai narasumber.

Sebagai penggagas Rumah Cahaya FLP Depok, Depita menceritakan pengalamannya mengelola Rumah Cahaya selama empat tahun.

Menurut Depita, Rumah Cahaya yang berfungsi sama dengan taman baca bukanlah sekadar tempat untuk membaca dan menulis, tapi lebih sebagai ruang pemberdayaan. Tidak hanya untuk anak-anak, tapi juga orang dewasa.

Membuat acara sosial bukan berarti tidak membutuhkan dana. Apalagi FLP yang notabenenya sebagai organisasi nonprofit. Maka fundraising adalah cara yang dipilih Depita untuk menjalankan roda kehidupan Rumah Cahaya.

Bagaimana cara memulai fundraising kreatif? Hal pertama kali yang harus dilakukan adalah kenali potensi lokal. Kenali SDM dan SDA. Mulai dari usaha kecil yang realistis. Usaha yang menghasilkan cuan, tidak hanya prestis.

Hal kedua yaitu kenali pasar. Pengelola Rumah Cahaya harus peka dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat sekitar. Sedangkan hal ketiga adalah jejaring.

“Kreatif sedikit bisa jadi cuan,” ungkap Depita.

Dia berkeyakinan bahwa definisi literasi tidak terbatas hanya pada membaca dan menulis saja. Akan tetapi, literasi juga dinyatakan sebagai pengetahuan atau keterampilan dalam suatu bidang atau aktivitas tertentu. 

Maka dengan mengutamakan pemberdayaan keahlian para anggota, sah-sah saja jika FLP membuka pelatihan berbayar selain menulis. Bisa berkebun, mengelola sampah, memasak, dan sebagainya.

Tentunya tidak hanya pelatihan saja yang menjadi fokus Depita dalam mengusahakan fundraising Rumah Cahaya. Saat masih mengelola Rumah Cahaya (2012-2014), dia juga membuat produk Rumah Cahaya berbahan daur ulang sampah yang dapat dijual sebagai merchandise.

Pada sesi sharing, Koko Nata memberi masukan bahwa tantangan saat ini berbeda dengan sepuluh tahun lalu. Menurutnya, era digitalisasi menjadi sebab utama jarangnya anak-anak menggemari aktivitas membaca dan menulis.

Oleh sebab itu, pengelola Rumah Cahaya harus peka terhadap keinginan para orangtua yang menginginkan anak-anaknya beraktivitas selain yang berhubungan dengan gadget.

Masukan dari Lindawati, Rumah Cahaya saat ini juga harus lebih kreatif menyajikan kegiatan yang sedang digandrungi oleh anak-anak. Contohnya membuat gelang manik-manik dan read aloud.

Menurut informasi yang dia terima, Balai Bahasa akan mengadakan Banem untuk TBM dengan memberikan dana bantuan bagi TBM yang memiliki kegiatan unik.

Kembali ke Depita, dia mengatakan bahwa Gen Z senang dengan hal yang praktis. Gen Z senang didatangi, maka pengelola Rumah Cahaya harus bersedia jemput bola. Buat kegiatan yang to the point.

Tarik minat anak-anak dengan mengadakan acara rutin, mendongeng misalnya. Kolaborasi dengan komunitas lain juga diperlukan untuk variasi acara.

Namun hal yang lebih penting lagi daripada mendirikan Rumah Cahaya adalah konsistensi dan branding. Tanpa melakukan dua hal tersebut, lebih baik tidak pernah memulai sama sekali daripada aktivitas Rumah Cahaya berhenti di tengah jalan.

*Ditulis oleh Winda Ariyanita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest

Share This