Berita

12 Tips Menang Lomba Blog

Flp.or.id – Blogger pemilik ajopiaman.com dan udafadli.web.id ini telah 19 kali memenangkan lomba blog. Tak sedikit pula karya tulisnya yang telah dipublikasikan di berbagai media. Dia adalah lulusan S3 Ilmu Pertanian Unand Awardee beasiswa PMDSU Batch 2 2015 asal Padang, Dr. Fadli Hafizulhaq, ST.

Ketika menjadi pemateri Kulwap yang digelar Forum Lingkar Pena (FLP) bekerja sama dengan Blogger FLP dan ACT, bertema Tips Menang Lomba Blog, ia membagikan tips-tips menang lomba blog kepada peserta.

“Beberapa tips yang saya lakukan agar bisa “memaksa” juri memilih saya sebagai salah satu blogger yang menaiki podium, adalah sebagai berikut,” terangnya.

Pertama, baca informasi lomba dengan seksama. Perhatikan secara baik, jangan sampai ada yang terlewat. Bahkan kalau perlu salin-tempel ke dokumen dan simpan di penyimpanan laptop atau di mana pun. Ada kalanya orang ikut lomba blog, konten mereka bagus, tapi karena tidak baca dengan baik informasi lombanya akhirnya ada persyaratan yang kurang. Karenanya ia tidak bisa menang, kalau lolos adminstrasi saja tidak.

Dalam lomba ada yang memberikan syarat khusus antara lain:

  1. Blog harus menggunakan top level domain (TLD) seperti .com, .net, .info. Jika menggunakan blogspot.com atau wordpress.com tidak ada kesempatan menang.
  2. Usia blog minimal harus 3 bulan, 6 bulan atau setahun. Jangan nekat untuk ikut lomba jika usia blog yang baru dibuat atau belum cukup umur.

Yang perlu digaris bawahi, menceritakan pengalaman lebih dahulu disebutkan daripada menulis opini. Maka besar kemungkinan cerita pengalaman akan lebih disukai daripada opini. Biar lebih nonjok tulisannya, padukan saja pengalaman dan ditambah dengan secukupnya opini di ujung tulisan.

Kedua, kenali penyelenggara lomba tersebut. Apakah itu instansi pemerintah atau swasta, apakah LSM/NGO atau pelaku bisnis dengan produk ini dan itu. Kenapa perlu tahu penyelenggaranya? Karena setiap penyelenggara punya orientasi yang berbeda. Pertanyaannya, di mana bedanya? Bedanya itu kalau instansi pemerintah kerap mengadakan lomba untuk mencari ide atau gagasan tentang topik atau masalah tertentu. Sedangkan swasta itu lebih kepada branding (di dalamnya juga butuh yang namanya backlink)

Ada juga lomba blog yang harus diundur-undur deadline-nya karena pesertanya sedikit, bahkan ada yang terang-terangan buat info kalau lomba bakal diundur sampai peserta cukup “sekian” orang. Tapi baik instansi pemerintah atau pun swasta, mereka punya 1 kebutuhan yang sama lewat lomba blog yang diadakan. Apa itu? Mereka butuh yang namanya exposure, sederhananya mereka ingin “diiklankan”.

Jadi usahakan (kalau dalam Islam hukumnya sunah muakad ini) untuk mengendorse atau menyebutkan kebaikan dari penyelenggara lomba. Atau keunggulan dari produk jika lombanya berupa review. Kenali dengan baik penyelenggaranya, soalnya saya punya pengalaman ikut lomba blog, saya bilang kalau penyelenggaranya itu lembaga pemerintah, padahal sebenarnya swasta, ya jelas kalah lombanya.

Ketiga, kenali juri dari lomba tersebut. Kenapa perlu mengenali juri? Ya karena keputusan juri tidak dapat diganggu gugat, kemenangan seseorang tergantung dari selera jurinya. Sederhananya begini, kalau jurinya dari kalangan akademisi maka buatlah artikel yang semi-ilmiah. Kenapa tidak ilmiah sekalian saja? Karena ini lomba blog, bukan lomba karya tulis ilmiah. Blogger itu tugasnya menyederhanakan bahasa ilmiah agar bisa dimengerti khalayak umum. Namun jika jurinya bukan dari kalangan akademisi atau jurnalis atau apa gitu, katakanlah dari pihak entertainer maka buatlah artikel dengan bahasa yang longgar atau lebih supel.

Kalau ada lomba yang tidak mencantumkan siapa jurinya, cara terbaik adalah buat artikel yang mengendorse penyelenggaranya, entah itu produk atau apa pun yang jadi temanya, biasanya ini yang adakan pihak swasta.

Jika sudah tahu siapa nama jurinya, silakan kepoin akun media sosialnya, blog/webnya jika ada. Cari tahu tulisan seperti apa yang disukai oleh yang bersangkutan agar kita bisa membuat tulisan yang sekiranya cocok dengan selera mereka.

Keempat, lakukan riset yang cukup sebelum menulis artikel yang mau di lombakan. Metode risetnya banyak, bisa dengan wawancara, kajian pustaka, survei dan macam-macam, tergantung kreativitas. Saya pribadi adalah tipe blogger yang suka melakukan riset dengan melakukan kajian pustaka tentang tema yang dilombakan. Itu kalau temanya serius, contohnya ada lomba dari Kalahkan Kanker tentang imunoterapi kanker. Alhamdulillah saya juara 3.

Argumentasi yang mau kita tulis di artikel harus disokong dengan data. Misalnya kalau temanya berkaitan dengan internet, bisa mengutip data dari BPS tentang pengguna internet. Dalam lomba Imunoterapi Kanker itu saya mengutip data dari WHO.

Selain mengutip data, bisa juga dengan membawa fakta yang terjadi di lapangan. Misalnya untuk lomba Dompet Duafa, bisa membawa kisah inspiratifdari hikmah berbagi di tengah masyarakat. Atau wawancarai saja siapa yang cocok. Silakan lakukan ATM (amati, tiru, modifikasi) dan lain-lain, asal jangan di salin-tempel.

Rahasiasaya dalam melakukan riset, kalau mencari rujukan suka mencari jurnal ilmiah agar argumen valid dan nyaris tak terbantahkan. Saya biasanya mencari di scholar.google.com atau situs jurnal internasional lain.

Kelima, berikan perhatian penuh pada 100 kata pertama. Saya selalu berpikir keras tentang bagaimana baiknya saya memulai tulisan. Kalau dalam istilah jurnalistik ini namanya “lead” atau teras. Ada banyak jenis lead dan kita bisa terapkan itu juga dalam menulis artikel blog. Jenis lead bisa cari di internet. Kita mesti membuat lead yang baik dan menarik agar para juri mau membaca tulisan kita hingga selesai. Tugas paragraf pertama itu mengantarkan pembaca ke paragraf kedua dan begitu seterusnya. Kalau paragraf awal kita gagal maka itu kerugian yang sangat besar.

Tapi kalau saat menulis di blog, paragrafnya tak sama seperti paragraf di esai apalagi karya ilmiah. Satu paragraf bisa 2 kalimat saja, atau bahkan cuma 1 kalimat. Makanya saya tulis berikan perhatian penuh pada 100 kata pertama. Kalau kita sukses di sini, insya Allah tulisan kita akan menarik.

Bagaimana cara terbaik untuk membuka tulisan? Bisa dengan menuliskan kutipan, menulis cerita pengalaman, atau bahkan menuliskan berita atau data terkait dengan tema lomba.

Berikut contoh kata pembuka, Dia masih gadis saat itu, ketika memutuskan untuk berangkat ke Merauke selama 5 bulan penuh dalam sebuah misi kerelawanan. Namanya NS—sengaja ditulis inisial sesuai permintaan narasumber—teman sekelas saya saat kuliah program sarjana dulu. Memang dari awal kuliah saya merasa ia adalah perempuan yang anti mainstream. Bagaimana tidak, ia memutuskan untuk masuk jurusan teknik mesin dan menjadi 1 dari 4 mahasiswi dari total 100 lebih mahasiswa. Maka tatkala saya menemukan berita aktivitas kerelawanannya di Papua, meskipun takjub saya dapat memaklumi bahwa itu adalah passion-nya.

Apakah harus narasi? Tidak, bisa lead seperti deskripsi dan lainnya, tergantung selera dan pastikan ditulis dengan sangat baik. Saya pribadi juga membuka tulisan saya dengan berbagai cara.

Keenam, all out, jangan pelit dengan jumlah kata. Kalau mau menang harus all out. 500 kata itu adalah jumlah yang sedikit banget untuk menuliskan hal-hal yang perlu ditulis. Jadi jangan pelit dengan kata. Kalau baiknya menurut saya itu sekitar 1000- 2000 kata. Kalau dalam A4 kira-kira 4-7 halaman.

Dalam menulis sebaiknya dilakukan di MS Word/Libre/WPS terlebih dulu, jangan langsung di blog, karena rawan hilang. Pastikan file word rutin disimpan. Pada saat menulis ini teman-teman bisa menyisipkan backlink sesuai dengan kata kunci yang diberikan panitia lomba. Jangan sampai lupa, karena kalau lupa enggak bisa menang.

Ketujuh, terapkan story telling dan soft selling sebisa mungkin. Saya ingin jelaskan tentang hal ini, bahkan hingga skemanya. Sebagai pejuang lomba blog, kita mesti paham psikologi penyelenggara. Jadi kita mesti tahu apa yang lebih mereka inginkan dari yang mereka inginkan. Mereka ingin orang berpartisipasi dalam lomba blog yang diadakannya, itu benar. Mereka ingin dapat exposure dari kawan-kawan blogger itu benar. Tapi yang lebih daripada itu, mereka ingin dipromosikan tapi kesannya natural. Dari sini lah kenapa menerapkan kaidah soft selling itu. Sederhananya, soft selling itu kegiatan menjual sesuatu tapi tidak dengan gamblang. Tidak sekonyong-konyong bilang belilah, beli dong, tapi awalnya kita menawarkan value kepada pembaca kita.

Value atau nilaiyang ditawarkan adalah informasi penting yang bisa menambahkan khasanah pembaca. Kita contohkan lagi ke lomba blog DD. Karena temanya “Menebar Kebaikan”, di awal-awal manjakan pembaca (juri juga pembaca) dengan informasi mengenai mengapa berbagi atau berbuat baik itu sangat penting. Apa saja keutamaannya dan sebagainya. Bisa melalui kisah, bisa juga dengan opini. Setelah itu baru kita merujuk pembaca kepada Dompet Dhuafa.

Misalnya “…. Menebar kebaikan saat ini bukanlah hal yang sulit, pasalnya banyak lembaga filantropi yang bisa membantu kita dalam melakukannya, Dompet Dhuafa misalnya. Dompet Dhuafa sudah berdiri sejak …..” Setelahnya sudah bisa ditebak. Promosikan DD, dan arahkan pembaca yang mau berbagi bisa ke Dompet Dhuafa.

Kedelapan, lengkapi dengan call to action. Call to Action (CTA) ini adalah elemen penting lainnya dalam menulis artikel lomba. Kenapa? Karena artikel lomba itu umumnya artikel bersponsor, jadi arahkan pembaca kepada sponsor.

Contoh kalimat CTA: Ingin berbagi kebaikan dan membantu sesama dengan kelebihan yang ada padamu, kontak saja Dompet Dhuafa yang siap menjadi penyambung kebaikanmu. Jadi dalam CTA kita mengajak atau mempersuasi pembaca untuk melakukan suatu tindakan. Hampir di semua tulisan lomba saya yang menerapkan CTA. Kalau misalkan lomba itu berupa review produk/layanan/merek, ajak pembaca untuk membeli/mencoba/mengenal yang di review tersebut.

Tapi kalau lombanya berupa opini, misalkan lomba Literasi Zakat Wakaf itu, ajak pembaca untuk berzakat atau berwakaf. Intinya libatkan pembaca dalam tulisan kita.

Selanjutnya, soal story telling. Ini trik “ampuh” lainnya. Penyelenggara dan juri lomba lebih suka tulisan yang berkaitan dengan pengalaman pribadi dalam menggunakan layanan/produk/merek yang dilombakan. Kalau tak punya pengalaman menggunakan, teman- teman bisa menanyakan pada orang yang pernah menggunakannya.

Kalau tidak punya juga bagaimana? Review pengalaman pengguna mereka di kolom testimonial. Intinya story telling itu berarti menulis seperti bercerita. Cerita itu ya narasi. Jadi sejauh ini, teks narasi yang paling saya rekomendasikan untuk dibuat di banyak lomba blog yang ada.

Faktanya sebagian besar lomba blog berjenis review. Hanya satu dua yang meminta gagasan kita terkait masalah tertentu. Balik lagi ke soal exposure.

Kesembilan, siapkan ilustrasi berupa foto, infografis atau video sebaik mungkin. Sekarang saatnya menyiapkan pemanis untuk artikel kita. Dalam menulis artikel lomba usahakan menambahkan ilustrasi minimal 1. Tapi jangan mau yang minimal-minimal, bisa lebih banyak asal dibutuhkan.

Saya pribadi menyiapkan ilustrasi berupa infografis yang stoknya saya dapatkan dari berlangganan Freepik premium. Tak harus premium, akun gratis pun bisa download tapi mesti mencantumkan kredit ya.Saya mengolah infografis dengan software desain grafis berbasis vektor bernama Inkscape. Teman-teman bisa gunakan software apa pun yang teman-teman bisa. Baik di laptop atau di HP. Satu aplikasi yang saya rekomendasikan jika tidak bisa menggunakan software desain di laptop adalah Canva. Selain itu bisa pakai PowerPoint juga, bisa apa pun, tergantung kreativitas masing-masing. Kalau ada yang bisa bikin komik itu lebih bagus lagi.

Untuk ide desain bisa dengan mudah dicari di Pinterest. Selain infografis, bisa juga pakai foto. Kalau foto gratis bisa dicari di Pixabay, Unsplash, Pexelsdan sebagainya. Atau foto yang diambil sendiri, asal jangan asal comot foto orang yang mungkin saja ada perlindungan hak ciptanya.

Untuk video itu opsional, bisa dibuat sendiri atau melampirkan video dari penyelenggara lomba. Istilah di-embed, dari YouTube dan sebagainya.

Saya sarankan untuk ikut lomba blog yang kecil dulu, sembari belajar. Terus kalau bisa kirim artikel cepat, karena sebagian lomba blog ada yang memberikan hadiah bagi pengirim tercepat.

Kesepuluh, baca ulang konten (tulisan dan media pendukung) dan revisi bagian yang salah, cocokkan kembali dengan syarat dan ketentuan lomba

Setelah konten selesai, baca lagi, revisi lagi bagian yang ada salah-salahnya. Oleh karena itu, saya sarankan untuk menyiapkan konten mulai sekitar H-7 dari deadline agar waktu kita senggang dalam mengerjakan dan mengevaluasi naskahnya.

Tapi kalau misal takut idenya ditiru, karena ide itu mahal, bisa ditahan dulu artikelnya di draf, dan diposting di hari terakhir lalu submit. Cuma jangan sampai kelupaan.

Kesebelas, posting dan tingkatkan engagement postingan lomba tersebut. Di tahap ini kita sudah mengirimkan link artikel ke panitia lomba. Lombanya mungkin juga sudah ditutup. Tapi sebaiknya, meskipun tidak diminta, tingkatkan engagement dari artikel tersebut.

Ada dua cara yang bisa dilakukan. Cara pertama, posting link artikel di media sosial dan mention akun penyelenggara. Dapatkan banyak interaksi di postingan tersebut.

Cara kedua, perbanyak interaksi di dalam postingan tersebut, bisa dengan melakukan blogwalking, biar lebih mudah ikut gabung saja sama grup blogwalking. Sering kali interaksi ini jadi poin penilaian juga, meskipun tidak disebutkan tentu tak ada ruginya kalau banyak yang mengomentari postingan kita.

Tapi hati-hati, moderasi komentar di blog, kalau misal ada komentar negatif yang masuk jangan diterima, apalagi komentar yang menjelek-jelekkan penyelenggara lomba blog yang kita ikuti atau yang menyinggung soal Sara dan perpolitikan.

Keduabelas, banyak berdoa dan tunggu pengumuman hasil lomba. Mohon dipastikan juga desain blog kita itu memberikan pengalaman terbaik bagi pengguna. Pastikan fontnya ramah terhadap mata, mulai dari jenis, ukuran sampai warna font. Selain itu, pastikan desain blog tidak menyakiti mata juga, seperti warna latar yang normal sampai resolusi ilustrasi yang cukup.

Terkait bagaimana seharusnya membuat grafik dan foto untuk postingan blog, grafik atau foto sebaiknya jadi suplemen atau pendukung tulisan, jadi kalau tulisan kita bercerita tentang indahnya Papua sebagai destinasi wisata, masukkan bukti foto kalau Papua itu memang indah. Lalu bagaimana dengan grafis?

Sebagian blogger membuat grafis hanya untuk mengulang subjudul atau poin yang ia jelaskan, dan saya tidak suka dengan cara itu, karena itu tidak menambah nilai dari tulisan kita. Bagus, tapi itu mengulang informasi. Grafik yang baik harusnya menjelaskan apa yang belum dijelaskan di dalam artikel dengan baik.

Misalnya data-data yang tak mungkin disebutkan semuanya, jadi bisa tampilkan di grafik, nanti dirujuk di dalam artikel, data lengkap bisa dilihat di infografik. Jangan jadikan grafik atau foto tempelan semata, tapi foto atau grafik harus bicara. <>

Related posts

Rakernas Yang Bernas

Aries Adenata

Lafaz Cinta; Gronigen dan Perasaan Cinta Yang Tak Pernah Padam

admin

Menyikapi Pandemi Virus Korona

admin

Leave a Comment