Jumat, Januari 21Literasi Berkeadaban

Tag: jambi

Suatu Hari di Jambi (4/4): Masjid Seribu Tiang

Suatu Hari di Jambi (4/4): Masjid Seribu Tiang

Travelling
Nama masjid ini sebenarnya adalah Masjid Agung Al-Falah. Jumlah tiangnya sendiri bukan 1.000 tapi 256 tiang. Yang menarik, bangunan masjid ini disangga 256 tiang tersebut tanpa dinding sehingga membuat masjid selalu sejuk karena sirkulasi udara yang lancar. Saat malam hari masjid terlihat lebih indah karena pendaran cahaya dari lampu-lampu yang dipasang di tiap tiang. Masjid yang dibangun selama sembilan tahun ini mampu menampung jamaah hingga 10.000 orang. Saat hendak beranjak dari masjid, saya melihat seorang kakek tua berpakaian lusuh bahkan dekil tampak khusyuk berdoa sehabis shalat. Entahlah, rasa haru tiba-tiba menyeruak di dada saya. Meski tak banyak destinasi wisata yang dapat saya kunjungi selama 3 hari di kota Jambi, namun saya dapat melihat usaha-usaha pemda dan masyarakat Jam...
Suatu Hari di Jambi (3/4): Menara Gentala Arasy: Ikon Baru Kota Jambi

Suatu Hari di Jambi (3/4): Menara Gentala Arasy: Ikon Baru Kota Jambi

Travelling
Kembali ke pusat kota Jambi dari kawasan Candi Muaro Jambi, saya melihat bangunan tinggi di seberang Sungai Batanghari. “Itu bakal jadi ikon baru kota Jambi, Mbak,” kata rekan Berlian. Ya, Menara Gentala Arasy sedang digadang-gadang pemda kota Jambi sebagai landmark. Menara jam setinggi 32 meter ini berlokasi di kawasan cagar budaya Kota Seberang Jambi yang menjorok ke pinggiran Sungai Batanghari. Kita dapat mencapai menara tersebut dengan naik perahu ketek dari Taman Tanggo Rajo yang berlokasi di jantung kota Jambi. Di lantai dasar menara ini terdapat museum yang menuturkan sejarah masuk dan berkembangnya agama Islam ke kota Jambi. Tersedia lift yang dapat membawa kita pada ketinggian 25 meter untuk menikmati pemandangan kota Jambi dan sekitarnya. Pemda kota Jambi juga sedang membangun ...
Suatu Hari di Jambi (2/4): Polemik Sriwijaya

Suatu Hari di Jambi (2/4): Polemik Sriwijaya

Travelling
Sejak pemerintah RI mulai melakukan pemugaran kawasan candi pada tahun 1979, diikuti dengan penelitian arkeologis intensif yang dilakukan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dari tahun 1981, beberapa ahli sejarah mulai memunculkan fakta-fakta baru mengenai pusat Kerajaan Sriwijaya yang selama ini diyakini ada di Palembang. Kawasan Candi Muaro Jambi lah yang diyakini sebagai pusat Kerajaan Melayu dan juga pusat Kerajaan Sriwijaya. Salah satu hipotesis tentang ini adalah: pusat kerajaan Sriwijaya ada di Melayu, Melayu ada di Jambi, dan banyak jejak-jejak yang menampakkan bahwa Candi Muaro Jambi pernah menjadi pusat kerajaan. Kunjungan seorang pendeta Buddha Tiongkok bernama I-Tsing sekitar tahun 671 Masehi lah yang sempat memunculkan “Polemik Sriwijaya”. Ahli-ahli sejarah berbeda pendapat ...
Suatu Hari di Jambi (1/4): Candi Muaro Jambi; Venesia Rasa Melayu

Suatu Hari di Jambi (1/4): Candi Muaro Jambi; Venesia Rasa Melayu

Travelling
Bersepeda dari satu candi ke candi lain dengan pemandangan hutan atau kebun dengan sungai di sisinya? Rasanya di Indonesia hanya dapat dilakukan di Jambi. Kabut asap masih menyelimuti kota ini saat saya tiba Bandara Sultan Thaha. Beruntung, penerbangan dari Jakarta tidak dibatalkan, hanya delay sekian jam. Padahal hari-hari sebelumnya banyak penerbangan dibatalkan. “Beberapa waktu lalu lebih parah, Mbak,” kata Berlian Santosa, rekan yang menemani saya selama di Jambi. “Kami harus mengenakan masker. Beberapa kabupaten bahkan meliburkan sekolah-sekolah.” Kebakaran hutan memang masih menjadi pekerjaan rumah bagi negeri ini. Masyarakat di kawasan Sumatra, yang paling terkena dampaknya. Bahkan kabut asap bisa melaju hingga negeri jiran. Namun semangat menjelajah Jambi, meski hanya tiga hari, ...