Berita Kabar Karya

Oleh-oleh dari Celebes! Ini 4 Tips Menulis Lokalitas Menurut Gegge Mappangewa

JAKARTA, FLP.or.id — Lokalitas, lokalitas, lokalitas. Tema lokalitas seperti makin menarik untuk dieksplorasi. Seorang penulis FLP yang dikenal rajin menggarap tema tersebut ialah S. Gegge Mappangewa. Dalam kesempatan Training of Writing and Recruitment (ToWR) FLP Sulsel pada akhir Juli 2016 lalu, selain membagikan materi menulis cerpen, Daeng Gegge juga menyampaikan tips mengenai tema lokalitas.

Menurut pria yang biasa dipanggil Daeng Gegge tersebut, ada 4 tips dalam menulis cerita yang mengangkat lokalitas.

1. Sorry, Google
Observasi atau riset atau penelusuran, dikenal lazim dalam proses penulisan. Kehadiran akses internet, mempermudah observasi sehingga lebih hemat waktu dan hemat ongkos. Tetapi Daeng Gegge menegaskan catatan penting, justru “observasi jangan hanya via Google.” Poin-poin berikutnya akan tambah menjelaskan tips nomor satu ini.

2. Penggunaan Bahasa
Sudah biasa ketika menulis tema lokalitas, penulis berusaha menampilkan dialog dalam bahasa lokal (tempatan). Tak hanya dialog, tapi istilah-istilah bahasa daerah juga diangkat. Tetapi hati-hati, karena jebakannya justru di sana. Daeng Gegge mengingatkan, “tulisan tema lokalitas, bukan sekadar bahasanya yang lokal kemudian diberi catatan kaki berupa terjemahan.” Kalau sekadar memperbanyak kata terjemahan, salah-salah bisa terjerumus semata jadi ‘kamus’ tanpa relevansi dengan cerita yang dikisahkan.

3. Kebaruan
Karya sastra bisa juga menjadi penghiburan atau penguatan jiwa. Tetapi lebih dari itu menjadi sarana tersebarnya pengetahuan dan terbentuknya kesadaran. Nah, Daeng Gegge memberikan tips, “tulisan tema lokalitas sebisa mungkin memberi wawasan baru untuk pembaca.” Apa bentuk nyata dari wawasan baru itu? Tak  adalah dalam hal isinya yang “tak bisa ditemui hanya dengan cari di Google,” demikian Daeng Gegge menerangkan. Tips ini menguatkan tips nomor satu tadi.

4. Observasi Langsung
Masih berkaitan dengan tips nomor pertama dan nomor tiga, maka Daeng Gegge mengemukakan tips terakhir, yakni pentingnya observasi langsung. “Jika semua data dari Google, pembaca juga bisa dapat,” kata Daeng Gegge. Observasi langsung itu di antaranya bisa dengan meninjau lokasi di lapangan, menyimak cerita penduduk setempat, mencatat kisah-kisah dari para tetua, atau membuka arsip-arsip tua di perpustakaan.

Demikian itu tips menulis tema lokalitas dari Daeng Gegge. Bagi kamu anggota FLP yang pernah pengalaman menulis tema lokalitas, dapat juga membagi proses kreatifmu kepada kami. Setiap proses kreatif biasanya dapat dijadikan pelajaran ataupun inspirasi.

Adapun buat kamu yang punya passion menulis dan berdomisili di Sulawesi Selatan, akhir tahun (November atau Desember) 2016 nanti, dijadwalkan akan diselenggarakan ToWR FLP Sulsel gelombang berikutnya. Demikian keterangan yang disampaikan Fahrudin Achmad, Ketua FLP Wilayah Sulawesi Selatan.

Jangan lewatkan kesempatan bertemu dan berdiskusi langsung dengan para penulis berpengalaman. Untuk info selengkapnya, kamu dapat menghubungi nomor FLP Sulsel di 0813 4250 1014.

Related posts

Wawancara Eksklusif Bersama Juara Cerita Rakyat Nusantara 2015

Naqiyyah Syam

Membangun Jejak Kepenulisan; Oleh-oleh dari Yogyakarta (1/2)

admin

Kiprah FLP dalam Pengembangan Literasi di Sidoarjo

admin

Leave a Comment