Jumat, Desember 2Literasi Berkeadaban - Berbakti, Berkarya, Berarti


Sultan Sulaeman Raih Juara 1 Lomba Cerpen MUI

Sulsel – Dewan Penasihat FLP Sulawesi Selatan, Sultan Sulaiman meraih juara I Lomba Menulis Cerpen yang digelar Komisi Infokom Majelis ulama Indonesia (MUI). Melalui cerpen berjudul “Ujung Jemari” Sultan berhasil menyisihkan banyak peserta lomba lainnya yang berasal dari seluruh Indonesia.

Cerpen “Ujung Jemari” menceritakan dua tokoh yang memiliki metode dakwah yang berbeda. Tokoh Salim yang memilih berdakwah dengan lemah lembut dan tokoh Raihan yang memilih berdakwah dengan cara yang lebih tegas.

Sultan mengungkapkan selain karena menyesuaikan tema lomba, hal lain yang melatarbelakangi penulisan cerpen berjudul “Ujung Jemari”, menurutnya karena cerpen bisa menjadi sarana efektif penyampaian pesan dakwah. “Kita tentu patut berbangga karena MUI saat ini mulai melakukan transformasi dalam menyasar target dakwah yang lebih kekinian. Dalam artian, jika selama ini MUI dikesankan hanya menjadi corong dakwah para sepuh dan orang tua, kini sudah mulai berbenah untuk menjadi “rumah bersama” bukan hanya lintas usia dan generasi,  tapi juga lintas agama sebagai perwujudan Islam rahmat bagi seluruh alam,” ungkapnya.

Di tengah-tengah kita saat ini, terang Sultan, faktanya ada gesekan yang amat kuat antara para pengusung dakwah. Perbedaan tentu pada metode dakwah. Hanya saja jika terus dibiarkan akan menggerus banyak energi umat. “MUI semestinya hadir di tengah menjalankan prinsip moderatnya. Seharusnya dakwah itu menghadirkan kesejukan dan menjadi jawaban atas ragam persoalan pelik yang dihadapi umat,” ujarnya.

Ketika ditanya bagaimana tips dan trik menang lomba, pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan ini mengungkapkan lomba cerpen MUI adalah ajang kepenulisan yang ia ikuti dengan persiapan yang terbilang singkat. Pengemasan ide cerita, penulisan, edit, inkubasi, dan pengiriman hanya sekitar dua hari saja. Meski singkat, dorongan untuk menang memang sangat besar. Sehingga selain berusaha patuh pada seluruh kriteria yang ditetapkan panitia, Sultan juga berusaha memantaskan diri untuk menang. Ini lomba kesekian yang saya ikuti dari banyak lomba-lomba sebelumnya yang tanpa kabar.

“Tak ada tips dan trik khusus. Hanya dalam menulis, saya lebih sering membawa diri saya untuk masuk ke dalam tulisan yang saya tulis. Cara ini, bukan hanya efektif dalam mengemas cerita, tapi juga baik untuk menguatkan “cita rasa tulisan,” terangnya.

Bahkan sejak mengirim karya, Sultan yakin akan menang karena merasa cerpen yang ia buat sangat pas dengan tema yang disodorkan panitia. Ada petuah bugis yang ia pegang: lettu nappa jokka. Jika diartikan, sampai sebelum berangkat. Penulis itu selain berkenaan dengan perkara teknis, sejatinya juga merupakan perjalanan batin. “Untuk menang, seseorang harus yakin dulu bahwa dia memang pemenang. Walau kelak mengikuti lomba dan ternyata kalah, tapi setidaknya ia sudah menang melawan dirinya sendiri,” jelasnya.

Sultan berpendapat setiap penulis tentu punya jalan cerita masing-masing. Setiap penulis punya takdir atas setiap pencapaian dari tulisannya. Jika tak berhasil di lomba yang kesepuluh, masih bisa mencoba untuk lomba yang kesebelas. Menulis adalah proses menempa diri. Karena proses, untuk menjadi “murni” butuh waktu lama. “Jangan berhenti, meski kebanyakan tulisan berakhir tanpa kabar. Jika ingin menjadi pedang yang kuat dan tajam, besi harus siap dibakar dengan suhu tinggi dan dipukuli ratusan kali. Jadi, nikmati prosesnya, kelak hasil akan membayar seluruh jerih payah,” jelasnya.

Sultan terdorong ingin jadi penulis dari Guru Bahasa Indonesia saat ia sekolah tingkat SMP. Namanya Pak La Sideng. Pak Sideng yang mengenalkannya dengan jenis tulisan ”prosa rilis” dari siaran radio lokal Simpati. Ia sering ikuti siaran itu. Minat menulis saat itu mulai muncul dan sudah terbiasa ke perpustakaan sekolah untuk meminjam buku cerita. Ia senang dengan jenis buku cerita bergambar/ada ilustrasinya. Keterampilan menulis mulai terarah saat Sulaeman bergabung dengan Forum Lingkar Pena Sulsel yang digerakkan oleh generasi awal, Bang Yanuardi Syukur, Bang S. Gegge Mappangewa, dan senior FLP Sulsel lainnya. “Sejak 2005 bergabung di FLP, meski mengalami pasang-surut dalam karya, saya tetap berusaha untuk menulis,” ujarnya.

Jenis tulisan yang ia hasilkan pun beragam dari fiksi dan non-fiksi, termasuk buku anak. Namun saat ini ia ingin fokus di cerpen dulu.

Bagi Sultan, menulis adalah semacam pelarian. Menulis menjadi kebutuhan untuk mengurai ragam persoalan pelik, mulai dari rumah tangga, hingga dunia kerja. Menulis menjadi terapi, menjadi obat, menjadi sarana untuk berkomunikasi dengan diri. Setiap menyelesaikan tulisan tentu ada perasaan bahagia dan puas, karena ia merasa sudah menang dari pertarungan. Menang dari kemalasan dan beragamnya alasan-alasan. “Dengan menulis saya merasa punya cara untuk menghargai diri sendiri, menghargai pengalaman, menghargai kehidupan yang diberikan oleh Sang Pemilik Semesta,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest

Share This