Sabtu, November 29Literasi Berkeadaban - Berbakti, Berkarya, Berarti

FLP dan Literasi Berdaya, Sebuah Cita-Cita untuk Indonesia

 

Catatan: Nafi’ah al-Ma’rab (Ketua Umum Forum Lingkar Pena)

 

Dimulai sejak Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) FLP pada 22-23 November 2025 di Jakarta lalu, Forum Lingkar Pena secara resmi menetapkan #LiterasiBerdaya sebagai tagline berikutnya untuk menyempurnakan gerakan panjang #LiterasiBerkeadaban yang sudah digaungkan sejak delapan tahun yang lalu.

Memasuki usia 29 tahun, FLP mestilah harus makin mengukuhkan posisinya dalam barisan peletak fondasi peradaban Indonesia. Tidak lagi bermain di tepi-tepi, tidak lagi bekerja untuk diri sendiri. Organisasi ini harus kian melebar, menjadi rumah bersama untuk perbaikan peradaban literasi di Indonesia. Semenjak dulu sebagai pelopor, dan semestinya di era kini harus makin inovatif dalam menggaungkan kerja-kerja.

Memaknai Literasi Berdaya dalam Kerja Forum Lingkar Pena

Konsep literasi berdaya sebenarnya bukan hal yang baru dalam geliat gerakan literasi di Indonesia. Namun, capaian menuju ke sana masih menjadi kerja-kerja bersama yang terasa masih jauh. Literasi berdaya mengacu pada dampak yang nyata adanya literasi bagi kehidupan seseorang. Bagaimana literasi bisa meningkatkan kualitas hidup seseorang. Kehidupan yang lebih berdaya, lebih berdampak, dan lebih memberikan manfaat kepada orang lain.

Idealnya, literasi berdaya akan mengantarkan manusia pada kecakapan hidup yang lebih, peningkatan kesejahteraan, dan kemampuan berpikir kritis dalam memahami sesuatu.

Dalam konteks pengembangan Forum Lingkar Pena ke depan, kita memandang Literasi Berdaya ini mencakup beberapa hal:

  • Pertama, Eksistensi FLP yang Lebih Berdampak

Literasi berdaya adalah cita-cita bagi FLP, bagaimana organisasi ini dalam semua aspek akan lebih berdampak bagi Indonesia. Penulis-penulis FLP adalah agen-agen pembawa nilai pencerahan di masyarakat yang melahirkan karya-karya inspiratif bagi khalayak. Sedangkan FLP adalah rumah literasi inspiratif untuk semua. Di sini kita mengajak masyarakat agar menjadikan literasi sebagai jalan kehidupan yang lebih baik dan lebih bermanfaat.

  • Kedua, Organisasi yang Terus Kokoh dan Berkembang

Menjadi organisasi literasi dengan cakupan tingkat nasional, provinsi, kota/kabupaten, hingga ranting-ranting di unit pendidikan bukanlah hal yang mudah untuk dikembangkan dan dipertahankan. Dibutuhkan sistem, aturan, dan komitmen yang kuat untuk mengokohkan dan mengembangkannya. Oleh karena itu, komitmen kita adalah menjadikan FLP berdaya sebagai organisasi literasi di Indonesia. Melalui sistem kaderisasi yang baik, jaringan yang terus dikembangkan di Indonesia, serta gagasan dan inovasi untuk beradaptasi sepanjang waktu, FLP diharapkan akan terus tumbuh menjadi rumah literasi bagi Indonesia.

Mewujudkan FLP yang lebih berdaya dimulai dari individu FLP yang berdaya. Berdaya dalam perspektif tiga landasan rekrutmen (Keislaman, Kepenulisan, dan Keorganisasian), inilah yang akan menjadi fondasi besar struktur FLP dari tingkat ranting hingga BPP menjadi kuat. Sistem yang baik didukung oleh kader-kader FLP yang berdaya, maka inilah cita-cita kita bersama, mewujudkan Indonesia yang literat dan berkeadaban.

Wallahu a’lam

De Daikos, 29 November 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest

Share This