TEGAL–Upaya menghidupkan ekosistem kepenulisan berbasis nilai-nilai daerah terus digalakkan di Kabupaten Tegal. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Perpusip) Kabupaten Tegal sukses menggelar “Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengembangan Konten Literasi Berbasis Kearifan Lokal”. Menariknya, dalam gelaran strategis ini, Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Tegal, Eri Fitniati, dipercaya menjadi salah satu pembicara utama untuk menggembleng para penulis muda daerah.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai Dua Gedung Perpusda Soekarno-Hatta, Slawi ini tidak hanya menjadi tempat berbagi ilmu bagi ketua FLP Tegal, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi beberapa anggota FLP Tegal yang berhasil lolos kurasi dan ikut serta sebagai peserta aktif.
Bimtek ini tidak berjalan dalam satu waktu, melainkan dirancang secara komprehensif dalam tiga kali pertemuan intensif demi mengawal kualitas naskah peserta. Rangkaian acara dimulai dari bimtek pertama pada Jumat, 17 April 2026, dilanjutkan dengan pertemuan kedua pada Rabu, 3 Juni 2026, dan diakhiri dengan pertemuan ketiga pada Rabu, 10 Juni 2026.
Sistem penyeleksiannya pun terbilang cukup ketat. Sebelum bisa duduk di ruang bimtek, panitia terlebih dahulu melakukan penjaringan naskah dari masyarakat luas. Dari sana, terpilihlah 50 peserta terbaik yang terdiri atas pustakawan/pengelola perpustakaan, pegiat literasi, pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum.
Sebagai narasumber, Eri Fitniati membedah materi yang sering kali menjadi “momok” bagi penulis pemula, yakni gaya selingkung (aturan tata tulis) artikel populer dan proses menembus dapur penerbitan buku. Dengan gaya penyampaian yang interaktif, Eri membagikan panduan praktis agar naskah-naskah kearifan lokal yang ditulis peserta layak cetak dan memikat pembaca.
Dalam salah satu sesinya, Eri menekankan pentingnya memahami karakter sebuah media atau penerbit sebelum mengirimkan naskah karya.
“Setiap penerbit atau media itu punya kepribadiannya masing-masing, yang kita sebut sebagai gaya selingkung. Dengan memahami gaya selingkung yang berlaku pada masing-masing tempat, analoginya kita seperti sudah memiliki kunci utama sebelum kita memasuki sebuah ruangan. Ini adalah cara kita untuk menghormati identitas sebuah rumah media massa atau penerbitan buku,” jelas Eri di hadapan para peserta, Rabu (10/6/2026).
Selain Eri, Perpusip Kabupaten Tegal juga menghadirkan dua pakar lain untuk melengkapi kompetensi peserta, yaitu Muarif Essage, yang mengupas tuntas kekayaan budaya dan dinamika kearifan lokal Kabupaten Tegal sebagai bahan baku tulisan, dan Achmad Chanif, yang membagikan formula dan teknik lincah dalam menulis artikel populer agar gagasan berat tetap renyah dibaca.
Di bangku peserta, kehadiran beberapa anggota FLP Tegal memberikan warna tersendiri. Mereka tampak membaur, berdiskusi, dan menunjukkan antusiasme tinggi sepanjang sesi untuk menyerap ilmu langsung dari para pemateri.

Acara ini dibuka dan ditutup secara resmi oleh Plt. Kepala Dinas Perpusip Kabupaten Tegal, Hari Nugroho, ST. Dalam sambutannya, Hari Nugroho menyampaikan apresiasi besar atas semangat para peserta dan pemateri. Beliau menjelaskan bahwa bimtek ini merupakan bagian dari festival literasi yang didanai oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI.
“Kegiatan ini didanai oleh Perpustakaan Nasional demi meningkatkan kesadaran masyarakat dalam berliterasi. Kami berharap melalui bimtek ini, kegemaran masyarakat Kabupaten Tegal terhadap dunia literasi akan semakin meningkat,” ujarnya.
Perpusip Kabupaten Tegal menetapkan empat target besar dari pelaksanaan agenda ini, yaitu meningkatkan kompetensi dan kapasitas para penulis pemula, meningkatkan jumlah penulis kreatif yang aktif di Kabupaten Tegal, mengembangkan koleksi bahan bacaan perpustakaan yang berbasis kearifan lokal, dan menciptakan ekosistem kepenulisan yang sehat dan berkelanjutan di Kabupaten Tegal.
Hingga hari terakhir, dinamika forum berjalan sangat hidup. Sesi diskusi dipenuhi dengan berbagai pertanyaan kritis dari peserta yang penasaran dengan proses kreatif dan teknis penerbitan. Manfaat nyata dari acara ini diakui langsung oleh salah satu peserta, Nening Sofiah.
“Acara seperti ini sangat bermanfaat bagi kami. Kami tidak hanya diajari cara menulis secara teori, akan tetapi kami benar-benar dibimbing sampai tahu bagaimana cara mengangkat kearifan lokal budaya yang ada di kabupaten Tegal menjadi sebuah artikel populer yang menarik dan layak untuk dibaca oleh semua orang,” ungkap Nening penuh semangat.
Agenda bimtek ini nantinya akan memiliki output atau luaran nyata berupa terbitnya sebuah buku antologi konten budaya lokal yang ditulis langsung oleh para peserta bimtek. Sebagai apresiasi atas dedikasi mereka, masing-masing peserta nantinya akan mendapatkan 1 eksemplar buku cetak hasil karya bersama tersebut.
Dengan keterlibatan aktif pegiat literasi seperti organisasi Forum Lingkar Pena (FLP) Tegal dan sinergi dari berbagai pihak, semoga Kabupaten Tegal dapat selangkah lebih dekat menuju daerah yang melek literasi dan kaya akan dokumentasi sejarah lokal, sehingga rencana pemerintah kabupaten Tegal yang mencanangkan program “Kabupaten Tegal Luwih Apik”, dapat segera terealisasikan. []
