BPP Karya

9 Hal Penting Dalam Mencetak Pahlawan Dari Rumah (Bagian 2)

Bulan Agustus, setiap tahunnya diperingati sebagai hari kemerdekaan negara Indonesia. Tentu kemerdekaan tak terlepas dari jasa dan pengorbanan para pahlawan. Pahlawan pada zaman perjuangan dahulu, telah pun mengorbankan jiwa dan raganya untuk kemerdekaan negara kita. Dan tugas kita saat ini sebagai pewaris bangsa dan negara bertanggungjawab dalam menjaga dan memelihara kemerdekaan ini. Apa yang bisa kita lakukan dalam menjaga kedaulatan negara RI? Bunda Afifah Afra berpendapat bahwa salah satu ikhtiar dalam menjaga dan merawat kemerdekaan  adalah  dengan mencetak pahlawan-pahlawan dari rumah.

Pada bagian pertama, Bunda Afifah Afra telah memaparkan 5 poin penting dalam mencetak pahlawan dari rumah. Masih ada 4 poin penting lainnya dapat  dilakukan. Apa sajakah itu? mari kita simak pemaparannya di bawah ini.

6. Pendidikan Sosial

Seorang anak harus diajari untuk berinteraksi dengan orang lain, dimulai dari lingkungan terkecilnya, yakni keluarga, yakni ayah, ibu dan saudara-saudara. Interaksi yang harmonis, bisa jadi berasal dari kita, kaum ibu. Jika ibu bisa mengambil peran secara baik, maka perseteruan kakak dan adik tak akan terjadi di luar batas kewajaran. Peran ini disebut sebagai mediator, penengah yang adil. Jika seorang ibu sudah memihak, maka ia telah mengajari anak untuk bersikap tidak netral, yang akan membekas di sanubari sang anak.

Menanamkan kesadaran kepada anak-anak yang lebih tua, seringkali lebih mudah. Akan tetapi, jangan suruh mereka untuk selalu mengalah kepada si kecil. Apalagi sampai menurunkan martabat sang kakak di depan adik, misalnya dengan berkata, “Kamu nakal!” Jika Anda hendak menasihati si kakak, sebaiknya di ruang khusus yang terpisah dengan adiknya—demikian juga sebaliknya.

Interaksi dengan orang di luar keluarga juga harus dibangun. Ajari anak untuk menghargai yang lebih tua—misalnya dengan mencium tangannya saat bertemu—serta menyayangi yang lebih muda—misalnya dengan membelai rambutnya secara lembut. Selain itu, jangan terlalu membatasi pergaulan anak-anak kita, misalnya dengan selalu mengurung diri di rumah karena takut jika dipengaruhi pergaulan anak-anak di sekitar rumah kita. Anak-anak juga perlu bersosialisasi, namun pantaulah mereka selalu, dan berilah konter atas apa-apa yang Anda anggap tidak tepat, yang berasal dari lingkungan sekitar, tentu saja dengan cara yang bijak.

7. Pendidikan Seksual

Pada beberapa masyarakat, mereka menganggap tabu memberikan pendidikan seksual kepada anak-anaknya, sehingga informasi tentang seks justru didapat dari pihak luar, yang terkadang hanya berupa informasi sepotong-sepotong yang malah menyesatkan. Pendidikan seksual diawali sejak kanak-kanak, yakni dari pengenalan perbedaan antara lelaki dan perempuan yang diikuti dengan pembedaan cara berpakaian, cara bermain dan sebagainya. Anak-anak lelaki dan perempuan juga harus mulai diajarkan untuk terpisah tempat tidurnya.

Ketika anak memasuki masa tamyiz (pra pubertas, sekitar 7-10 tahun), ajarilah ia untuk meminta izin ketika memasuki tempat-tempat pribadi—seperti kamar tidur—baik milik orang tua atau anggota keluarga yang lain. Ketika anak memasuki usia pubertas (remaja), maka anak mulai dipahamkan dengan sistem reproduksi seperti haid dan mimpi basah, serta berbagai konsekuensi yang harus ditanggung. Akan tetapi, pada masa-masa ini, hendaklah mereka dijauhkan dari berbagai macam hal yang dapat merangsang gairah seksual. Mereka juga harus telah menutup aurat.

Sedangkan bila anak telah memasuki usia siap menikah, maka ajarkanlah padanya etika berhubungan seks, serta berbagai hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, seperti hamil, melahirkan, menyusui dan sebagainya. Sedangkan pada anak lelaki, kewajiban untuk memberi nafkah lebih ditekankan dibanding perempuan.

8. Pendidikan Finansial (Keuangan)

Masalah finansial, mulai dari cara mencari penghasilan, mengatur penghasilan, memanfaatkan hingga tanggung jawab yang berkaitan dengan hal tersebut seperti zakat, infak, sedekah, harus sejak dini ditanamkan kepada anak. Kepada anak lelaki, tanamkan kepada mereka, bahwa tanggung jawab lelaki adalah memberi nafkah kepada anak istrinya. Kepada perempuan, didiklah untuk bisa merasa cukup dengan yang ada dan tidak mengeluh dengan kesempitan rezeki yang mungkin akan dirasakan. Ajarkanlah mereka nilai uang, serta sikap menghargai uang. Jangan gelontorkan uang saku secara berlebihan, meskipun Anda mampu untuk itu. Bantulah mereka untuk merencanakan keuangan mereka, termasuk menabung dan belajar investasi.

Akan tetapi, perlu diingat, mengajari anak hidup hemat, bukan berarti membentuk mereka untuk menjadi pelit. Justru mereka harus dirangsang untuk bersikap dermawan. Setelah anak beranjak agak besar, ajari mereka untuk mencari penghasilan, misalnya dengan berdagang. Jangan tekankan pada hasil, tetapi lebih pada semangat mereka untuk berusaha mandiri. Pelan-pelan, jiwa wirausaha mereka akan terpupuk. Bagaimanapun, menjadi seorang pengusaha adalah cara yang lebih baik untuk mandiri secara finansial.

9. Pendidikan Leadership

Membangkitkan rasa kepemimpinan dimulai dari membantu anak untuk memahami dirinya sendiri, mengetahui peta diri—positif negatifnya, mengoptimalkan yang positif dan meminimalisir yang negatif, dan oleh karenanya, anak mampu menjadi diri sendiri. Bukan sebaliknya, senantiasa melindungi si anak dengan kebesaran nama Anda dan suami, serta berharap anak-anak Anda akan mendapatkan kemudahan dengan berlindung di bawah ‘sayap’ Anda. Ingatlah, tak akan selamanya Anda bersama dengannya. Suatu saat, anak-anak yang Anda timang-timang itu, harus berjalan di atas muka bumi sebagai dirinya sendiri, yang memiliki tanggung jawab terhadap keluarga mereka.

Usai anak mampu berjalan di garis lurus—yakni garis yang sesuai dengan potensi dan bakat mereka, bantulah agar ia mampu membentuk tim. Pada saat ia berada di tim, tak harus ia menjadi ketua untuk menumbuhkan leadership-nya. Cukup jika ia mampu bersikap amanah terhadap apa-apa yang dibebankan kepada mereka, berarti sikap kepemimpinannya mulai terbentuk.

Pada anak-anak yang lebih tua, apalagi yang sulung, tuntutan untuk memiliki sikap kepemimpinan biasa lebih tinggi. Biasanya, secara otomatis, anak akan mampu memimpin adik-adiknya. Akan tetapi, jangan biarkan mereka mendominasi anak-anak yang lebih muda, dan jangan biarkan pula anak-anak yang lebih muda merasa terus hidup di bawah bayang-bayang mereka, bahkan merasa nyaman dan enjoy selamanya. Berilah jatah bergilir kepada mereka untuk menjadi pemimpin. Misalnya, Anda membuat kegiatan wisata keluarga. Anda bisa mengarahkan forum keluarga untuk memilih—misalnya anak sulung anda sebagai ketua panitia. Besoknya, ketika Anda kedatangan tamu dari keluarga mertua, pilihlah sang adik sebagai ketua panitia. Begitu seterusnya.

Mari kita cetak anak-anak kita untuk menjadi manusia seutuhnya. (@afifahafra79).

*Afifah Afra. Adalah nama pena dari Yeni Mulati Ahmad. Sekjen BPP FLP periode 2013 -2017.  Tulisan beliau yang lain bisa dibaca di www.afifahafra.net. Twitter: @afifahafra79.

Related posts

10 Langkah Strategis Pengembangan FLP (Bagian 1)

Yanuardi Syukur

“Artikel Berkualitas Tinggi” dan Latihan Minimal 2 Jam Sehari

Yanuardi Syukur

Melodrama Hamka dalam Raun Sebalik

Wildan Nugraha

1 comment

Afifah Afra 14 Agu 2016 at 7:12 pm

Terimakasih ya, atas pemuatan artikel ini

Reply

Leave a Comment