Berita

Bagaimana Trik Menangkan Lomba Menulis ala Gegge Mappangewa?

Flp.or.id – Menulis enggak bisa lagi disebut sebagai sekadar hobi. Menulis sudah bisa dijadikan profesi, karenanya seorang penulis harus profesional. Profesional dalam hal bayaran honor, royalti, ataupun hadiah lomba kepenulisan. Namun, tentu saja ada harga, ada kualitas. Mengapa banyak naskah yang ditolak redaksi, baik itu koran, majalah, ataupun penerbit? Karena kualitas yang diharapkan masih belum sesuai standar media yang dikirimkan. Apalagi pada lomba menulis, dari sekian banyak yang mengirim naskah, tentu saja pemenangnya hanya tiga atau plus pemenang harapan.

Nah, bagaimana trik agar bisa memenangkan lomba menulis? Berikut ulasan yang disampaikan S. Gegge Mappangewa, penulis produktif yang telah memenangkan banyak lomba. Antara lain juara I Lomba Menulis Indiva 2019, pemenang Sayembara Gerakan Literasi Nasional (Badan Bahasa, 2017,2018, 2019). Materi disampaikan dalam agenda Kulwapp bertema “Rahasia Menang Lomba Cerpen” yang digelar Forum Lingkar Pena (FLP) bekerja sama dengan Blogger FLP dan Rumah Zakat, beberapa waktu lalu.

Pertama, hindari lomba menulis berbayar. Lomba menulis ada yang berbayar, ada juga yang enggak berbayar. Mengapa saya enggak menyarankan lomba berbayar karena lomba menulis enggak seperti lomba lari yang pesertanya terlihat saat kita ikut lari. Pemenangnya terlihat. Beberapa lomba menulis berbayar, malah memanfaatkan peserta sebagai target sumber mata pencaharian. Beberapa lomba berbayar, bahkan ada yang mengeluarkan pengumuman fiktif yang pemenangnya mereka-mereka juga, karena target memang bukan naskah, tapi uang pendaftaran.

Beberapa penulis, bahkan punya target hadiah lomba di atas dua juta baru mau ikut. Itu pun tentu saja yang nggak berbayar. Soal target ini, bukan keharusan. Sebagai pemula, bisa mengincar semua lomba, bahkan yang hadiahnya pulsa sekali pun. Buat uji nyali aja dulu.

Kedua, perbanyak Peluang. Biar banyak peluang menang, tentu saja harus ikut banyak lomba. Saya punya kebiasaan aneh. Suka sekali searching lomba menulis. Setiap ketemu Google, iseng lagi masukkan kata kunci; lomba menulis, lomba menulis cerpen, lomba menulis novel, lomba menulis 2020, lomba menulis guru, meski akhirnya nanti, dapat info lomba menulis dari beranda medsos juga.

Dalam setahun, saya kadang ikut tiga sampai lima lomba menulis. Saya bahkan kadang balik nyerang, kalau saya menang lomba, terus teman ngasih selamat lalu ada buntutnya: Kak Gege lagi yang menang. Saya balik nanya, kamu ikut atau enggak. Kalau enggak ikut gimana mau menang.

Tahun 2015 adalah tahun yang paling berkesan bagi saya. Saya ikut lima lomba menulis, dan hampir semuanya menang. Ikut Lomba Menulis Esai di Balai Bahasa Sulsel, juara I (hadiahnya Rp 7 juta, terus wakili Sulsel ke Jakarta untuk ikut kegiatan Badan Bahasa). Dapat penghargaan Sastra Acarya Badan Bahasa (hadiahnya Rp5 juta, diundang ke Jakarta untuk awarding night). Juara I lomba Menulis Cerita Rakyat Kemdikbud (hadiahnya Rp30 juta, plus undangan ke Jakarta). Tahun 2015, juga ikut lomba menulis cerpen di Femina, enggak menang tapi naskah saya layak muat, dapat honor Rp1 juta. Intinya, saya menang banyak karena memang ikut lombanya juga banyak.

Ketiga, atur Strategi. Karena ini lomba, ibarat perang kita harus punya strategi. Nggak boleh pakai prinsip iseng-iseng berhadiah. Semakin tinggi hadiah lomba, semakin banyak peserta. Berarti peluang menang semakin tipis. Ingat ya, tipis. Tips itu berarti ada. Ketika ikut lomba cerita rakyat yang hadiah pertamanya 30 juta, pesertanya lebih seribu. Bagaimana strategi agar bisa lolos di antara tumpukan naskah?

  • Pertama, pastikan seluruh persyaratan lomba sudah terpenuhi. Kalo perlu, meski sudah hafal persyaratan lombanya, tetap saja di-print, dan ceklis semua persyaratan lomba yang sudah ada. Misalnya, fotokopi KTP, pas foto, surat pernyataan keaslian naskah, meterai untuk surat pernyataan dll. Sebelum kirim, cek ulang. Seapik apapun naskah, kalau ada yang kurang, bisa tersingkir di seleksi administrasi.
  • Kedua, naskah harus rapi. Ibaratnya naskah itu perwakilan diri di mata juri.
  • Kerapian naskah meliputi, pemilihan font yang harus sesuai dengan persyaratan lomba. Kalau enggak dicantumkan jenis font, silakan pakai Times New Roman atau Arial. Ukuran 12, termasuk judul. Judul enggak usah terlalu besar sampai harus mencuri satu spasi. Saya pernah jadi juri lomba menulis, ada peserta yang naskahnya udah ditata seperti halaman majalah/koran. Sudah dibagi per kolom. Ada juga yang ngasih background gambar bunga. Parahnya lagi, ada yang mencantumkan ilustrasi padahal persyaratan lomba enggak minta ilustrasi.
  • Berikutnya, masih tentang kerapian naskah. Penampilan naskah itu harus rata kiri-kanan (ctrl J). Kecuali judul dan nama penulis yang rata tengah (ctrl E). Naskah yang rata kiri, itu sangat enggak rapi di mata juri. Waktu ikut lomba Cerita Rakyat Kemdikbud, sebelum penentuan pemenang, 8 finalis diundang ke Jakarta untuk wawancara dengan membawa naskah masing-masing. Saat antre untuk wawancara, ternyata kami saling ngintip naskah yang di tangan. Semua penulis penampilan naskahnya sama, rata kiri-kanan. Rapi abis. Spasi sesuai persyaratan lomba, setiap dialog menggunakan paragraf baru, jenis dan ukuran huruf, semua sama. Untuk hal penampilan naskah ini, itu biasanya berbanding lurus dengan kualitas naskah. Kalau penampilan naskahnya awut-awutan, biasanya juga kualitas tulisannya hancur. Itu pengalaman saya selama jadi juri.
  • Ketiga, jangan lewati tenggat atau deadline. Ini harga mati. Biar nggak dikejar deadline, ya memang harus disiapkan dari awal naskahnya. Kecuali kalau kamu memang penulis spesialis deadline. Entar bisa nulis kalo deadline sudah dekat. Saran saya, jangan dibiasakan. Intinya sih, jangan nunda-nunda terus dengan alasan apapun. Apalagi dengan alasan sibuk ini-itu, tapi masih juga cekikikan di grup WA sampai 30 menit, bahkan lebih. Padahal, 30 menit itu bisa nulis satu-dua halaman. Ingat, banyak penulis spesialis deadline nggak jadi ikut lomba, karena mati di garis finish. Waktu udah finish, naskah belum selesai.

Keempat, jaminan Mutu. Oke. Anggap aja, kamu sudah siap lomba nih. Naskah sudah selesai. Penampilan naskah rapi. Dilihat dari jauh aja, udah menyejukkan mata dan hati juri. Sekarang, kita masuk ke kualitas naskah. Saat mengikuti lomba menulis, kalau pesertanya ada seribu orang, sebenarnya yang kita lawan enggak sampe lima puluh orang. Kok bisa? Ada yang sudah gugur duluan di seleksi administrasi, saingan berkurang. Ada ratusan orang yang gugur di penampilan naskah, yang baru lihat aja sudah bikin mules. Ada ratusan lagi, yang penampilan naskahnya bagus, tapi gugur di halaman pertama. Tulisan enggak memikat. Bayanngin saja, ada seribu naskah, juri sehebat apa yang bisa baca semua itu. Nggak usah seribulah. Seratus naskah aja, tentulah sangat mustahil akan dibaca semua mulai dari judul sampai ending. Lantas bagaimana agar naskah yang rapi itu bisa dibaca hingga ending?

  • Pertama, jadilah penulis yang patuh ejaan. Setiap saya nulis, saya sering buka KBBI, untuk memastikan beberapa kata yang saya tulis, benar-benar baku. Soal patuh ejaan ini, materi khusus ya, masuk dalam materi editing. Biasanya, penulis yang banyak menggunakan kata tidak baku, atau bahkan banyak saltik, biasanya gambaran kualitas naskahnya yang juga kurang bagus. Gimana juri mau nyaman membaca naskah, kalau tanda bacanya aja, banyak yang salah.
  • Kedua, jangan ada tekanan. Jangan karena hadiah Rp10 juta, menulis satu kalimat pertama saja sudah tertekan. Seolah mau mengeluarkan kalimat yang paling cantik di dunia ini. Pahamilah bahwa untuk menjadi pemenang, diksi hanyalah salah satu poin penilaian. Kalau nggak bisa berdiksi cantik, cobalah bermain cantik di teknik bercerita, atau pada unsur intrinsik yang lain.
  • Ketiga, bertahan hingga akhir. Dalam lomba cerpen, novel, atau lomba menulis apapun itu, naskah yang jadi bahan pembicaraan juri adalah naskah yang masuk 10 besar atau lebih. Untuk lomba-lomba bergengsi, jurinya lebih dari satu. Jika ada dua, tiga, atau lebih juri, maka usahakan naskahmu masuk dalam hitungan semua juri itu. Bagaimana caranya? Naskah yang bertahan hingga akhir itu, punya kekhasan. Ibaratnya, jika 10 besar itu semua bagus, maka pasti ada yang paling bagus, punya kekhasan. Apakah idenya yang khas, enggak pernah terpikirkan oleh penulis lain, bahkan oleh juri. Atau mungkin teknik berceritanya, yang sebelumnya enggak pernah ada yang menggunakan gaya bercerita seperti itu. Karena sesungguhnya, ketika naskah masuk 10 besar, berarti lawan kita yang sesungguhnya itu hanya sembilan. Di sinilah pertarungan yang paling sengit.
  • Untuk poin ketiga ini, memang harus perbanyak latihan. Perbanyak menulis. Tulisan yang bagus itu, bukan lahir dari nulis sekali aja. Dulu, zaman majalah Anita masih cemerlang, saya sering ikut lomba menulis cerpennya. Jangankan menang, masuk dalam daftar naskah layak muat pun nggak. Tapi, saya nggak putus asa. Nulis terus aja. Sampai akhirnya saya dapat penghargaan menulis lebih dari 20 kali. Saya bahkan punya mimpi, setiap tahun harus ke Jakarta untuk terima penghargaan kepenulisan. Sejak 2012 sampai sekarang, itusudah terwujud dan pernah 3 kali dalam setahun ke Jakarta karena menang lomba. Ini  juga penting, pasang target biar ada motivasi. Selain banyak menulis, silakan banyak-banyak membaca karya yang sudah termuat, ataupun yang sudah menang. Kalau lombanya adalah lomba tahunan, cobalah membaca naskah yang menang pada tahun-tahun sebelumnya. Kalau perlu, tahu jurinya siapa, baca karya jurinya, biar tahu kecenderungan juri. Tapi bukan berarti harus mengikuti gaya kepenulisannya ya.
  • Keempat, berani mencoba. Perbanyak peluang dengan mencoba. Jangan takut nggak menang. Tahun 2017 saya ikut sayembara GLN, itu hal baru buat saya. Ikut lomba nulis yang pakai jasa ilustrator. Saya ikutkan tiga buku, lolos satu buku. Tahun 2019, ikut sayembara GLN, itu nulis pictbook, hal yang baru buat saya yang selama ini nulis cerpen dan novel. Hasilnya, saya lolos 3 buku. Lumayan dapat 37,5 juta. Padahal, dalam hal pictbook saya tergolong baru. Sebelumnya hanya nulis dan belajar di program INOVASI- FLP. Tapi, saya berani aja untuk ikut.
  • Kelima, endapkan. Biasanya, naskah yang bagus itu, kalau melewati masa pengendapan. Jadi, setelah naskah selesai, sambil ngedit atau kerja yang lain, diingat-ingat lagi. Endingnya sudah pas belum? Atau tokohnya enggak usah dibunuh ya? Waktu ikut lomba menulis cerpen Annida 2017 dan menjadi pemenang pertama, saya harus menghapus sekitar tiga halaman, karena saya ganti ending. Saya menemukan ending yang tepat, di masa pengendapan naskah. Tentu saja, pengendapan naskah ini bisa dilakukan jika kita punya waktu banyak. Beberapa lomba yang saya ikuti, bahkan berkali-kali ganti judul, baru dapat yang lebih unik.

Kelima, ikuti lomba. Sebenarnya ini harus menjadi cara pertama untuk menang lomba. Ikuti lombanya! Bagaimana mau menang, kalau enggak ikut lomba. Prinsip saya, saya enggak pernah kecewa saat membaca pengumuman pemenang lomba  dan nama saya enggak menang meskipun mengikutkan banyak naskah. Saya malah kecewa ketika saya baca pengumuman pemenang lomba dan saya enggak ikut lombanya. Jadi, berhentilah mengumpulkan alasan mengapa enggak ikut lomba!

Keenam, hindari kebiasaan buruk. Kalau yang ini bukan tips untuk menang lomba. Hanya tips menjaga hati. Menjaga hati biar enggak iri kalau enggak menang lomba. Karena kalau sudah  iri, biasanya enggak mau ikut lomba lagi. Boleh iri sih, tapi iri yang memotivasi untuk lebih baik lagi. Kebiasaan buruk penulis itu banyak.

  1. Kalau baca naskah sendiri, merasa naskahnya paling bagus. Baca naskah penulis lain, yang sudah termuat di media, masih juga menganggap tulisannya jauh lebih baik. Penulis yang baik itu, saat membaca karya orang lain, apalagi naskah yang sudah termuat ataupun menang lomba, bukan hanya sekadar membaca atau sekadar menikmati tapi juga mempelajarinya.
  2. Kalau ikut lomba enggak menang, selalu merasa karena dirinya belum punya nama. Pahamilah bahwa penulis yang punya nama sekarang, dulu awal nulis enggak langsung terkenal. Dia pun memulainya dari nol.
  3. Pantas menang. Jurinya teman dekat dengan pemenang. Sering kok saya baca di FB, dia saling komen dengan yang jadi juri itu. Hindari berpikiran negatif. Baru baca pengumuman pemenang, belum baca naskah pemenang, sudah curiga duluan. Seorang juri, enggak akan mengorbankan nama baiknya dengan memenangkan naskah yang jauh dari kriteria.

Untuk membangun karakter tokoh yang kuat, kunci utamanya adalah, bagaimana membuat pembaca simpati pada nasib tokoh. Ini biasanya melalui deskripsi maupun dialog. Agar pembaca merasakan apa yang dirasakan tokoh, hindari menggunakan penggambaran langsung. Misalnya: Ardi sedih karena ayahnya meninggal. Penggambaran seperti ini, belum tentu membuat pembaca ikut sedih. Gambarkan dengan tingkah laku tokoh atau imajinasi tokoh. Misalnya; Sejak tadi Ardi duduk di samping kepala ayahnya yang meninggal tadi malam. Satu per satu orang  yang datang melayat, bukan hanya menciumi jasad ayahnya, tapi juga Ardi kecil yang masih kelas tiga SD.

Membuat ide yang biasa menjadi menarik, berarti cara menuliskannya. teknik berceritanya. Banyak sekali, kisah patah hati, tapi belum tentu semua menarik untuk dibaca. Ayat-Ayat Cinta, misalnya. Idenya sebenarnya basi. Fahri yang cakep, kuliah di Mesir, diminati banyak akhwat. Itu kan banyak di sinetron. Tapi Kang Abik membuatnya menarik dengan memberinya latar Mesir yang seolah-seolah nyata di depan mata pembaca.

Bagaimana ide dikatakan layak menang? Ide yang jarang dijamah oleh penulis lain. Ide yang ketika selesai dibaca, pembaca malah berpikir; kok bisa ya penulis dapat ide seperti ini?

Terkait paragraf pembuka yang menarik: selama ini, saya selalu memulai tulisan saya tanpa berpikir harus menggunakan kalimat yang paling cantik. Ini biasanya malah enggak ada yang bisa ditulis. Mulailah dengan adegan: Misalnya; “Saya baru saja merapatkan duduk di perpustakaan ketika seseorang datang menepuk pundakku dari belakang. Saya tak usah berbalik, dari aroma parfumnya saya sudah kenal.” Bisa juga dimulai dengan deskripsi tempat, wajah atau tingkah laku tokoh. Sebenarnya enggak ada aturan alur cerita yang baik. Boleh saja memulai dari konflik, lalu ke penyebab konflik dengan alur flash back. Jadi, bagaimana membuat cerita itu mengalir. Catatan untuk alur. Intinya harus fokus ke ide. Jangan terlalu banyak bercerita di luar ide.

Cerpen, selain dikenal sebagai bacaan sekali duduk, juga hanya punya satu konflik. Beda dengan novel yang multikonflik. Jadi, kalau menulis cerpen, tentu harus dibatasi jumlah halaman cerpen. Tapi saat menulis novel, bukan hanya halaman yang bertambah tetapi juga konfliknya. Bisa dibayangkan, jika menulis novel, konfliknya misalnya, ada orang yang selalu ngirim puisi dan itu misterius. Ditulis sampai 150 halaman, hanya untuk mencari pengirimnya. Tentu saja membosankan.

Terkait buku referensi, untuk menginspirasi sekaligus memotivasi saya untuk menulis, saya hanya membaca cerpen atau novel yang saya paling sukai. Beberapa novel yang saya sukai, malah saya baca berkali-kali untuk mempelajari sekaligus menikmatinya.

Jika ingin menggambarkan latar daerah yang belum pernah didatangi, sekarang bisa lewat google maps. Tapi menggambarkan latar sebenarnya bukan hanya sekadar tempatnya. Tapi bagaimana mengetahui adat dan kebiasaan orang setempat. Latar sosialnya, latar budayanya. Latar yang baik, latar yang enggak bisa ditukar dengan tempat lain. Itu jika latar budayanya ikut. Seperti Ayat-Ayat Cinta, nggak bisa pindah ke mana pun. Selain karena padang pasirnya, tapi juga watak orang-orang Mesir saat naik bus, itu tergambar jelas,

Untuk menumbuhkan ide baru, harus banyak membaca karya orang lain, biasanya akan muncul ide. Pencarian ide, sebenarnya bukan hanya saat mau menulis saja. Sebagai penulis, sebaiknya memang selalu berusaha mencari ide. Ide disortir, yang mana yang paling unik. ide bisa muncul dari kejadian alam, contoh Hafalan Salat Delisa, dari tsunami Aceh. atau muncul dari kondisi kekinian. Corona, misalnya. Tinggal mencarikan konfliknya.

Agar pembaca tidak merasa bosan untuk melanjutkan, untuk cerpen, karena kita dibatasi halaman, memang harus fokus ke ide awal. Jangan terlalu meluas, apalagi ada niat menambah-nambah halaman saja. Jika misalnya idenya, tentang kelas yang selalu kehilangan pulpen, jangan memulai dari salat subuh, berangkat ke sekolah, jam pertama, jam kedua, jam ketiga baru ada adegan hilang pulpen. Kalau perlu, paragraf pertama, langsung tuliskan adegan kehilangan pulpennya, lalu jelaskan bahwa itu bukan hal yang pertama kalinya terjadi.

Ketika hendak menulis, beberapa penulis memang memulainya dengan kerangka/plotting. Kalau saya, nggak. Saya lebih memilih mengonsep dalam kepala saja. Kalau ide mentok di tengah cerita, saya enggak paksakan. Biasanya malah tambah hancur. Saya memilih untuk membaca cerpen yang paling saya suka. Mmembaca saat ide mentok di perjalanan. Biasanya juga, itu karena memang dari awal, berceritanya kurang menarik. Sebagai penulis, di kepalanya memang seharusnya selalu tersedia kosakata yang akan dituliskan. Kuncinya hanya pembiasaan. semakin terbiasa menulis, semakin mudah menuangkan ide.

Untuk membuat konflik, kalau bisa di awal cerita, dimulai dengan konflik, itu lebih bagus. Bisa memancing pembaca untuk lanjut ke paragraf berikutnya. Konflik enggak harus bertengkar, berdebat, atau lainnya. Rindu itu konflik. Menanti suami pulang hingga tengah malam, itu konflik.

Mengambil ide cerita orang lain lalu memodifikasinya dengan cara menulis kita, menurut saya enggak boleh. Terinspirasi boleh, tapi kalau ide orang lain diceritakan versi kita, dianggap pelanggaran hak cipta.

Ketika menulis sebenarnya semua ending baik. Yang enggak bagus itu kalau endingnya tidak sesuai dengan konflik. Misalnya: tokohnya yang waria, bingung. Antara mau menjadi perias pengantin, atau tetap kembali menjadi lelaki normal tetapi terus dalam kemiskinannya, diejek orang sebagai waria. Tapi endingnya bukan kedua-duanya: warianya meninggal, atau malah jadi ustaz. Padahal jadi ustaz belum tentu lepas dari kemiskinan. Kalau untuk anak, sebaiknya jangan ending sedih, itu juga sebaiknya. Yang perlu diingat untuk ending cerita anak, tokoh anak yang menentukan endingnya. Bukan ayahnya, gurunya, atau ibunya.

Riset saat menulis itu perlu, bahkan harus jika yang kita tulis itu, kurang kita kuasai. Bahkan, saya yang Bugis, ketika saya menulis tentang Bugis, saya masih sering observasi. Turun ke latar yang saya tulis, karena selama ini hanya lewat saja. Saya juga biasanya riset via Google. Saya lagi nulis novel tentang Gempa Palu. Riset saya, baca di Google kisah-kisah orang yang selamat dari gempat, likuefaksi, tsunami Palu. Tapi saya juga observasi ke Palu. Kunjungi lokasi terdampak. Biar rasakan feel-nya

Soal diksi atau pemilihan kata. Diksi yang menggunakan kiasan dengan diksi yang bertele-tele, beda. Bertele-tele itu jika lari dari tema, dan ini memang yang enggak menarik. Diksi yang penuh kiasan, ini biasanya untuk diksi yang nyastra. Ini kembali ke selera. Beberapa cerpen atau novel yang mendapat pengharagan sastra, malah beberapa pembaca Enggak sreg bahkan membacanya terasa berat. Saran saya, menuulislah tanpa beban. Karena kalau mau menulis dengan bahasa yang paling cantik, malah Enggak bisa menulis. Asal jangan memulainya dengan kalimat pembuka yang basi: Pada suatu hari. , kringng! Bel masuk berbunyi. atau, ada seorang anak bernama Rudi.

Menulis itu tentang pembiasaan. Semakin sering kita menulis, semakin mudah kita mengolah kata-kata, mengolah konflik hingga ending. Menulis itu lahir dari rahim bacaan. Semakin banyak membaca, akan semakin melatih diri untuk menemukan dan mengolah ide. Saya pun memulainya dari nol. Bahkan saya butuh waktu 9 tahun, untuk kemudian bisa melihat cerpen saya termuat di media untuk pertama kalinya. Tapi 9 tahun itu, saya menulis terus. <>

Related posts

Musywil FLP Jawa Tengah; Rahman Hanifan Terpilih Menjadi Ketua Periode 2017 – 2021

admin

Menanti Wajah Baru FLP Solo

Kontributor FLP

Kiprah Migran dalam Dunia Sastra

Kontributor FLP

Leave a Comment