Berita

Bela Al-Aqsa Melalui Literasi, Media dan Seni Budaya

Oleh Yeni Mulati, S.Si, M.M

(Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena)

Palestina merupakan salah satu kawasan dengan pengalaman sejarah yang sangat panjang. Dalam kitab suci, disebutkan bahwa Nabi Ibrahim menetap di Palestina hingga wafatnya. Makam beliau ada di Hebron, Tepi Barat. Selain Nabi Ibrahim, Palestina juga merupakan Tanah Air para Anbiya, di antaranya Nabi Yusuf a.s., Nabi Ya’kub a.s., Nabi Sulaiman a.s., Nabi Daud a.s., Nabi Musa a.s., juga Nabi Isa a.s. Sedemikian lekatnya Palestina dengan aspek religiusitas yang berhubungan erat dengan agama samawi, maka hingga kini, Palestina—khususnya Yerusalem (Al-Quds), merupakan Tanah Suci dari 3 agama samawi, yakni Yahudi, Kristen dan Islam. Daulah Islam yang pernah berkuasa di Palestina, mulai Era Khalifah Umar bin Khatab, Shalahuddin Al-Ayubi hingga Turki Ustmani, mengakui hal tersebut dan memberikan kebebasan penuh bagi tiga agama samawi tersebut untuk beribadah di Yerusalem (Al-Quds).

Problematika di Palestina meletus usai Perang Dunia II, diawali dari keinginan masyarakat Yahudi untuk mendirikan negara sendiri (yakni Israel) di Palestina, dan keinginan tersebut ternyata difasilitasi oleh Inggris sejak 1917. Secara fakta, masyarakat Yahudi sudah lama meninggalkan Palestina, yakni saat perang Salib. Genosida di Jerman banyak dikaitkan dengan keinginan mereka untuk mendirikan negara sendiri di tanah yang menurut kitab suci mereka, merupakan tanah yang dijanjikan untuk mereka. Klaim ini tentu tak bisa diterima. Nyatanya, saat itu, Palestina ditinggali oleh bangsa Arab yang telah berabad-abad hidup di sana dalam keadaan damai. Maka, yang terjadi di Palestina saat ini adalah perampasan wilayah dan penjajahan yang dilakukan Israel atas Palestina.

Sebagai bangsa yang pernah dijajah berabad-abad, Indonesia menyatakan dalam konstitusinya, bahwa segala bentuk penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Sikap pemerintah RI pun hingga saat ini tetap tegas: konsisten untuk mengawal perdamaian kawasan Timur Tengah, khususnya Palestina dalam kondisi dan situasi apapun. Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, HE. Retno L Marsudi, mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia mengutuk keras rencana pemerintah Israel atas aneksasi kawasan Tepi Barat, Palestina. “Solidaritas Indonesia bagi perjuangan rakyat Palestina tidak pernah goyah,” begitu tegas pihak kementerian Luar Negeri RI[1].

Saat ini, perdamaian kawasan Palestina memang kembali terkoyak, setelah secara resmi, pada 6 Desember 2017, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pengakuan atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Yerusalem merupakan jantung dari konflik panjang Israel-Palestina. Yerusalem digadang-gadang menjadi ibu kota Palestina di masa depan[2].

Dari berbagai aspek yang saya bahas di atas, telah jelas sekali, bahwa terjadi ketidakadilan yang begitu kasat mata menimpa bangsa Palestina. Jika dunia internasional saja telah mengecam keras tindakan Israel yang didukung Amerika Serikat, tentu kita sebagai sesama Muslim harus lebih kuat lagi memberi tekanan kepada Israel. Pembebasan Al-Aqsha harus menjadi agenda penting bagi semua umat Islam di seluruh dunia, tanpa terkecuali.

Sebagai organisasi yang bergerak di bidang literasi serta beririsan erat dengan seni budaya, Forum Lingkar Pena juga tidak tinggal diam. Secara resmi, pada 25 Februari 2019, Forum Lingkar Pena telah menandatangani dokumen resmi untuk melakukan kerja sama dengan ASPAC (Asia Pasific Community for Palestine) untuk mengampanyekan upaya-upaya pembebasan Palestina. Beberapa hal yang bisa dilakukan FLP dalam upaya pembebasan Palestina antara lain:

  1. Literasi Ke-Palestinaan

Informasi tentang Palestina di negeri ini masih sangat minim. Sebagai bangsa dan negara dengan mayoritas berpenduduk Muslim, ruh perjuangan Palestina masih belum melekat erat di benak masyarakat kita. Oleh karena itu, FLP bersedia menempatkan diri sebagai pemimpin gerbong para penulis yang fokus melakukan upaya kampanye pembebasan Palestina.

Saat ini, FLP memiliki anggota terverifikasi sebanyak 3.310 anggota. Sebanyak 3% merupakan anggota andal yang telah memiliki kapasitas kepenulisan skala nasional, profesional dan aktif menerbitkan buku serta publikasi karya. Sebanyak 10% merupakan anggota madya dengan kemampuan menulis yang baik dan mulai giat mempublikasikan karya. Sisanya adalah anggota yang sangat potensial untuk diasah menjadi penulis profesional.

Literasi Ke-Palestinaan sudah menjadi fokus dari FLP sejak pertama didirikan pada tahun 1997. Beberapa karya dari anggota FLP yang mengambil tema Palestina antara lain:

  1. Hingga Batu Bicara (kumpulan cerpen karya Helvy Tiana Rosa, Muthmainnah, dan Izzatul Jannah)
  2. Gadis Kota Jerash (kumpulan cerpen karya Habiburrahman el-Shirazy, dkk.)
  3. Merah di Jenin (kumpulan cerpen karya Asma Nadia, dkk.)
  4. 700 Batang Cahaya (kumpulan cerpen karya Afifah Afra, dkk.)
  5. Rinai (novel, karya Sinta Yudisia)
  6. Jilbab Traveler (novel, karya Asma Nadia)
  7. Ayat-Ayat Cinta (novel, karya Habiburrahman el-Shirazy)
  8. Balada Cinta Isvara (novel, karya Afifah Afra)

Meski telah lahir beberapa karya dengan tema Palestina, tetapi tentu saja hal tersebut belum cukup. Palestina merupakan amanah bagi kita semua, termasuk para penulis, harus merasuk bahkan hingga alam bawah sadar. Sehingga, baik secara empatik, dan juga diwujudkan dalam pengorganisasian yang rapi, FLP akan menggalang para penulis (baik anggota maupun yang memiliki kedekatan dengan FLP), untuk secara rutin menerbitkan karya-karya dengan tema Palestina.

Literasi Kepalestinaan juga akan dimasukkan dalam kurikulum kaderisasi FLP. Saat ini, ada 3 pilar penting yang menjadi fokus kaderisasi FLP, yaitu kepenulisan, keorganisasian, dan keislaman. Ruh ‘Al Quds Amanati’ akan masuk di pilar keislaman, metode kepenulisannya akan digodok di pilar kepenulisan, dan program pemberdayaannya akan diatur dalam pilar keorganisasian.

  • Publikasi dan Kampanye Media Sosial

Hampir semua anggota FLP adalah para ‘influencer’ yang well connected, akrab dengan teknologi informasi, dengan kapasitasnya masing-masing. Ada yang memiliki pengikut hingga ratusan ribu, ada yang baru ribuan atau ratusan. Tetapi, rata-rata mereka bisa memberikan pengaruh positif pada lingkungan di mana mereka berada. Bahkan ada juga penulis-penulis yang karya-karyanya best seller, terjual hingga ratusan ribu eksemplar. Fakta ini bisa menjadi hal menggembirakan, karena jika ada publikasi dan kampanye yang sistematis, maka akan mungkin terbentuk opini publik yang baik.

  • Regulasi Seni Budaya

Pembebasan Palestina harus dilakukan secara terpadu oleh berbagai elemen kaum Muslimin. Salah satu elemen yang terlibat adalah komunitas yang terlibat atau beririsan dengan seni budaya. Meskipun FLP merupakan organisasi literasi, namun dalam berbagai aktivitasnya, sangat erat dengan seni budaya. Namun, FLP tentu tidak bisa sendirian sebagai subyek dalam hal ini. FLP akan sangat bersedia menjadi bagian dari regulasi ke-Palestina-an dalam bidang kebudayaan dan produk seni budaya.

  • Industri Kreatif

Industri kreatif merupakan sarana yang cukup efektif untuk mengkampanyekan berbagai macam ide-ide positif, termasuk pembebasan Palestina. Karya sastra, desain grafis, blog, media, musik, film, bahkan game-game yang edukatif bertema Palestina, perlu sebanyak mungkin dihasilkan. Semua itu dilakukan dalam rangka membangun kesadaran bersama, bahwa Al-Quds merupakan amanah untuk kita semua.

Berbagai hal yang saya sebutkan di atas, tentu bukan hal yang mudah. Butuh rancangan, konsep, dan aktualisasi yang sangat rapi, terprogram, dan serius. Namun, semua bukan tak mungkin terjadi. Dengan niat yang ikhlas, pemikiran yang cerdas serta mendalam, serta tindakan-tindakan yang strategis, taktis, dan evaluatif, insya Allah akan mendapatkan hasil signifikan seperti yang kita inginkan: Palestina merdeka!

Untuk menggambarkan situasi Palestina, mari simak puisi dari M. Irfan Hidayatullah di bawah ini:

Retak Wajah Dunia

Kita takbaikbaik saja

Becerminlah, retak itu tercetak di sana

Wajahmu adalah peta dunia

Pertumpahan darah direproduksi dengan mudah saja

Negara-negara diatur seperti hidangan di meja makan

Kerakusan berganti makna jadi gaya hidup dan kebebasan

Sungguh, kita takbaikbaik saja

Becerminlah, wajah yang kau rawat itu topengi kenyataan

Retak itu semacam bom waktu yang tibatiba akan meledakkan kemanusiaan di jiwajiwa tergenggam

Anomi, alienasi, zombi

Tapi itu semua dirayakan, dipestakan, dipastikan takada yang peduli (lagi)

Percayalah, dunia takbaikbaik saja

Becerminlah. Wajahmu adalah peta jiwa

Yang ruhnya dicabut kasar mencolok mata dari Palestina

Kau yang nanar taklagi gusar dengan itu semua

Dunia takbaikbaik saja sebelum kemerdekaan hakiki bangkit itu tanah.

Bandung, 1/11 /20


[1] https://republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/14/11/07/nenid2-sikap-ri-bagi-kemerdekaan-palestina

[2] https://www.bbc.com/indonesia/dunia-42261446

Sumber foto ilustrasi: detik.com

Related posts

Kelas Artikel FLP Bogor

Wildan Nugraha

Rabu 21 September 2016, FLP Lampung Meraih Penghargaan Ini, Karena Apa?

admin

Buku, Diplomasi, dan Travelling

admin

Leave a Comment