Rabu, Januari 14Literasi Berkeadaban - Berbakti, Berkarya, Berarti

Pojok

PANTUN MENULIS (DIRI)

PANTUN MENULIS (DIRI)

Pojok
/1/ Jangan menangis dikala susah Susah sedikit hadapi saja Jadi penulis cukuplah mudah Asal kreatif dan takhenti baca /2/ Menangislah dini hari Hatimu akan terasa tentram Menulislah dari hati Karyamu akan terbaca dengan dalam /3/ Rentetan ujian pastilah tiba Siapkan jiwa tukhadapinya Catatan harian kau tulis saja Endapkan segala pengalaman yang ada /4/ Melangkah itu redamkan gelisah Biar takmalas di saat susah Tangkaplah ide di mana saja Karna ia tak jelas kapan datangnya /5/ Mengemislah tanpa ragu pada Tuhan-Mu Dengan penuh serah jangan pernah setengah-setengah Tuliskan tanpa ragu kata pertamamu Jangan takut salah jangan takut berhenti di tengah-tengah /6/ Menangislah atas segala dosamu. Berkacalah agar semakin yakin langkah baikmu. Menulislah dari apa yang engkau tahu. Membacalah ...
List 20 Idemu, Kirimkan Karyamu!

List 20 Idemu, Kirimkan Karyamu!

Pojok
Sumbar-Padang, 26 April 2015. Siang yang cerah. Kami berjanji untuk bertemu dengan FLP Sumbar di Taman Melati. Pukul 13.00 WIB Saya berangkat dari rumah dengan motor. Tak diduga, di depan Taman Melati sangat ramai. Ternyata ada acara wisudawan. Saya bertemu dengan Rahma Eka Saputri, pengurus FLP Sumbar di depan gerbang Taman Melati. Kami sempat ingin berpindah tempat ke Taman Budaya. Tapi, beberapa peserta kelas menulis sudah ada di Taman Melati sejak 13.30 WIB yang lalu, sedangkan  waktu telah berlalu menunjukkan pukul 14.00 WIB. Akhirnya kami berusaha menunggu pengunjung sepi, menunggu d depan antrian tiket. Tak lama, kami mendapatkan tiket Taman Melati dan bertemu dengan Martadinata, mantan ketua FLP Sumbar. Ini pertama kalinya saya mengikuti kegiatan kelas menulis FLP Sumbar. Hari in...
[Seri Dua Minggu di Australia (Bag.5)] Bertanya pada Ahli Dzikr

[Seri Dua Minggu di Australia (Bag.5)] Bertanya pada Ahli Dzikr

Kepenulisan, Pojok
Al Anbiya 7 Dua orang siswi duduk santai di depan sebuah gawang kecil berwarna putih-oranye. Mereka baru saja bermain bola kaki dengan beberapa siswi lainnya. Pakai jilbab, kaos panjang, dan celana training. Tak jauh dari situ beberapa siswa juga sedang duduk santai setelah setelah bermain bola. Ini pemandangan pertama saat kami memasuki Senior Campus Australian International Academy (AIA) yang terletak di 56 Bakers Road, North Coburg. Kata Rowan Gould, Coburg adalah salah satu kawasan yang banyak dihuni imigran muslim dari Timur Tengah. Mengutip Abdullah Saeed (2003) dalam Islam in Australia, untuk Melbourne komunitas Islam juga dapat ditemukan di Meadow Heights, Reservoir, Dallas, dan Noble Park. Melihat jadwal, kami rencana bertemu dengan Abdul Karim Galea, pimpinan Kampus AIC Melbourne...
FLP Peduli Nepal

FLP Peduli Nepal

Pojok
Gempa bumi memporakporandakan Nepal. 6130 tewas dan diperkirakan bertambah. 13.827 terluka. 8 juta jiwa terancam kelaparan, penyakit dan terpaksa minum dari air terkontaminasi. 70.000 rumah rusak. Bersama FLP, kembali salurkan donasi anda ke BSM 703 310 1858 an Lembaga Forum Lingkar Pena Konfirmasi donasi ke 0812-874-7415 dengan format Nama#Jumlah Uang YangDitransfer#TanggalTransfer Donasi akan dilaporkan di situs FLP flp.or.id Mari, salurkan infaq terbaik kita demi kemanusiaan dan agar Allah SWT menolong kita pula disaat kita membutuhkan pertolonganNya. (Donasi akan disalurkan ke lembaga terpercaya rekanan FLP )
[Seri Dua Minggu di Australia (bag.4)] MIE GORENG, BALCOMBE, DAN GREEDY KANGAROO

[Seri Dua Minggu di Australia (bag.4)] MIE GORENG, BALCOMBE, DAN GREEDY KANGAROO

Kepenulisan, Pilihan Editor, Pojok
Mie Goreng dan Sepasang Kekasih Jam menunjukkan pukul 06.30. Ahmad Saifulloh mengambil dua bungkus mie goreng. Dimasukkan ke dalam panci kecil dengan dua butir telur yang telah disiapkan Ibu Chris di lemari pendingin. Aromanya sudah mulai terasa saat saya keluar dari kamar. “Mas, sarapan dulu. Ada indomie di panci,” kata Mas Ahmad. Merasa cukup lapar pagi ini, saya bergegas mengambil piring, dan mencoba masakan lelaki berhati lembut asal Ponorogo itu. “Indomie-nya enak Mas. Saya tambah lagi, gak apa-apa, ya?” “Monggo, Mas. Itu buat antum, kok, semuanya.” Tiba-tiba saya teringat masa-masa ketika jadi santri. Kadang kalau makanan di math’am habis (kata teman-temanku, dalam hal makanan jangan pakai istilah sabar, karena man shabara, intaha—siapa ‘bersabar’, kehabisanlah dia) dan keuangan lag...
[Seri Dua Minggu di Australia (bag.3)] ABC, Abdullah Saeed, dan Yahudi Muda

[Seri Dua Minggu di Australia (bag.3)] ABC, Abdullah Saeed, dan Yahudi Muda

Kepenulisan, Pilihan Editor, Pojok
Dua Minggu di Australia: Catatan Peserta MEP Grup 1 2015 Langkah Panjang hingga Konflik Peradaban Hari masih pagi. Seorang wanita paruh baya berjalan di depan Ganache Chocolate. Mengenakan kaos lengan panjang berwarna cokelat muda dan menenteng sebuah tas, ia berjalan agak cepat. Orang sini langkahnya panjang-panjang, saya bergumam di dalam hati. Sudah lebih dari dua puluh jam saya melihat langkah-langkah panjang itu di negeri asli para Kangguru dan Koala ini. Tak jauh dari situ, beberapa orang—dengan langkahnya yang panjang juga—menyeberang Collins Street, sebuah jalanan ‘tua’ yang jika kita berjalan terus ke arah timur akan tiba di gedung Parliament House-nya negara bagian Victoria, tak jauh dari St. Patrick’s Cathedral. “Orang di sini langkahnya panjang-panjang ya?” tanya saya pada...
[Seri Dua Minggu di Australia (bag.1)] Kali Pertama ke Negeri Kangguru

[Seri Dua Minggu di Australia (bag.1)] Kali Pertama ke Negeri Kangguru

Kepenulisan, Pojok
Dua Minggu di Australia (1): Catatan Peserta Muslim Exchange Program (MEP) Grup 1 2015 “Bagi orang yang dibesarkan di kampung, luar negeri adalah maju, modern, dan bangunannya tinggi-tinggi.” Bayanganku waktu kecil seperti itu. Luar negeri juga, dalam bayangan saya waktu kecil, adalah: Kristen. Orang-orang Barat, dalam pandangan masa kecil, adalah orang-orang Kristen, persis seperti pertanyaan salah seorang keluarga saya beberapa waktu lalu di Tobelo, sebuah kota kecil di utara Pulau Halmahera, seminggu setelah kembali dari Australia, “Apa ada orang Islam di Australia?” Catatan ini saya tulis memiliki beberapa tujuan: (1) sebagai kenangan bagi diri saya sendiri bahwa pada bagian tertentu dalam hidup, saya pernah mendapatkan kesempatan berharga untuk melihat negeri tetangga di benua sebe...
Lomba Resensi Buku FLP

Lomba Resensi Buku FLP

Lomba Resensi buku, Pojok
Dalam rangka menyemarakkan Milad ke-18, FLP menggelar lomba Resensi Buku FLP lho. Buku-buku FLP judulnya apa aja sih? Karya siapa saja sih? Mungkinkah dialog di bawah ini kamyuuu? + Aduh, itu hadiah, kok menarik banget sih! Tapi aku kan enggak tau siapa aja anggota FLP yang dah punya novel? (anak baru) - Kamu suka baca novel apa aja sih say? + Itu novelnya Asma Nadia, kan di filmin tau yang "Assalamu'alaikum, Beijing!" Keren bangetttt ... sampai kemimpiin ketemu Zhongwen yang baik hati. Andai ada cowok seperti itu ya di dunia nyata ... (mata berbinar-binar ngebayangin sambil mendekap novelnya Asma Nadia) - Nah, tuh punya novelnya anak FLP ... + Oh ya ker?! (sambil melototin novel di tangannya, gak nyangka anak FLP karyanya keren banget :D) Nah, biar kamu enggak suntuk mencari buku-bu...
Empat Tips Menulis Buku

Empat Tips Menulis Buku

Hikmah, Kepenulisan, Pojok
“JIKA kau ingin hidupmu berhasil, kau harus membangunnya,” begitu kutipan sebuah film, judulnya Runner Runner di layar lebar. Dalam konteks menulis,  kutipan tadi bisa diubah menjadi, “Jika kau ingin jadi penulis, kau harus menulis!” Konon, ada yang pernah bertanya kepada budayawan Kuntowijoyo, bagaimana cara jadi menulis. Kata beliau, cara menjadi penulis itu cuma tiga: 1. Menulis, 2. Menulis, dan 3. Menulis! Ternyata, tetap sama, menulis-menulis juga jawabannya. Hampir sama dengan dua kutipan di atas, novelis Stephen King punya nasihat untuk mereka yang ingin menulis. “Kunci untuk menjadi penulis,” kata King, dalam Stephen King On Writing, ada dua cara yang intinya: 1. Banyak-banyak membaca, dan 2. Banyak-banyak menulis! Bagaimana cara menulis buku? Ada empat tips yang bisa kita perhatik...
Adakah yang Lebih Besar?

Adakah yang Lebih Besar?

Hikmah, Pojok
Allahu Akbar… Allahu Akbar Suara azan berkumandang, terlantun dengan mesra setiap hari sebanyak lima kali. Namun, masih banyak manusia yang tak menyadari bahkan berpura-pura tak mendengarnya. Adakah yang lebih besar dari-Nya? Jika tidak ada, mengapa diri ini selalu menganggap kecil ketika panggilan-Nya telah tiba sehingga berani meremehkan walau sesaat. Apakah yang kita lakukan pada saat azan berkumandang? Apakah bergegas menuju panggilan-Nya ataukah tetap berdiam diri dengan aktivitas dunia? Jika kita tetap melaksanakan aktivitas dunia padahal panggilan itu telah dating, berarti kita masih menganggap panggilan itu adalah hal yang kecil.Tetapi, jika kita bergegas menuju panggilan-Nya ini berarti kita menyadari bahwa kita sedang menuju urusan yang besar. Bagaimana mungkin kita dapat merasak...

Pin It on Pinterest