Opini

Sinta Yudisia: Pahlawan Bagi Diri Sendiri

And then a hero comes along
With the strength to carry on
And you cast your fears aside
And you know you can survive
    So when you feel like hope is gone
    Look inside you and be strong
    And you’ll finally see the truth
    That a hero lies in you

Anda mungkin pernah dengar penggalan lagu Mariah Carey berjudul Hero. Selain lagu; segala hal terkait hero atau pahlawan pernah kita tonton, baca, pelajari. Tak henti-henti Hollywood membuat berbagai macam film hero berdasar komik, lengkap dengan sekuel dan spin-offnya. Masing-masing negara membangun persepsi pahlawan tergantung budaya yang dimiliki. China sering menghadirkan pahlawan lewat tokoh-tokoh kungfunya. Korea menghadirkan pahlawan dalam dunia yang lebih realistis : lelaki yang diidamkan banyak orang karena kehalusan budi pekerti dan kemampuannya memikat perempuan. Jepang membangun persepsi hero dengan kehadiran samurai berikut  dunia fantasi yang dipenuhi robot dan teknologi.

Indonesia?

Pahlawan bagi kita adalah kisah-kisah yang lekat dengan peristiwa kemerdekaan atau segala perjuangan mempertahankan tanah air. Kepedihan berada di bawah cengkraman kolonialisme, pengkhianatan, kemiskinan; seolah tak akan pernah lepas dari ingatan. Tentu saja, pahlawan dalam pengertian spesifik seperti ini tak salah, bahkan harus selalu hidup dalam sejarah bangsa dan negara.

Di era sekarang, bila dirasa penjajahan dan kemelaratan telah jauh meninggalkan, apakah berarti sosok pahlawan sudah menghilang? Apabila kesengsaraan muncul dalam bentuk lain, perlukan manusia memiliki sosok pahlawan yang dalam kamus KBBI diartikan sebagai – orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani? Bisakah kita, bila takut dan tidak memiliki sesuatu yang menonjol, dikategorikan sebagai pahlawan?

The Meaning of Hero

Hero is person who is admired or idealized for courage, outstanding achievements, or noble qualities. Seseorang yang dikagumi dan diidolakan karena keberanian, pencapaian yang mengagumkan dan kualitasnya yang luhur-terhormat. Itulah sebabnya kita mengenal pahlawan tanpa jasa seperti seorang guru. Ia mungkin bukan orang gagah berani yang berani melawan sekawanan perampok dan memiliki prestasi internasional mengagumkan, tetapi memiliki kualitas yang luhur. Sosok guru yang dihormati karena luasnya ilmu pengetahuan dan pengalamannya.

Bahkan, pahlawan pun kini dikenal bukan hanya karena sebuah profesi, seperti guru. Tapi sebuah tanggung jawab yang lazim diemban seorang manusia, serta dapat ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Seperti seorang ayah. 12 November baru saja dirayakan sebagai Hari Ayah Nasional, sosok teladan dan pahlawan keluarga. Ayah bukanlah profesi. Sosok ayah akan menjadi label ketika lelaki sudah menikah, ayah juga menjadi label bagi bermilyar-milyar lelaki di bumi. Terlebih ketika ia sudah memiliki anak. Lalu bagaimana ayah menjadi pahlawan, padahal bukan sebuah profesi dan bukan pula mencirikan keberanian yang mengagumkan?

Ayah menjadi pahlawan karena ia memiliki kualitas terhormat ketika menjalani perannya. Mencari nafkah halal  bagi keluarga, mendampingi istri, mendidik anak-anak, tetap berbakti pada orangtua dan terus memberikan contoh bagaimana seharusnya menjadi sosok bertanggung jawab. Begitupun ibu. Ia menjadi pahlawan bagi keluarga karena kemuliaan dan keluhuran perannya. Menjadi sumber jawaban, kasih sayang, pengayoman dan kegembiraan. 

Bagaimana seseorang yang tidak memiliki peran sebagai guru, ayah, ataupun ibu?

Seperti lagu Mariah Carey : jadilah hero bagi diri sendiri. Saat rasa takut, tak berdaya, putus harapan menyerang. Ketika tekanan, stres, kecemasan dan depresi seolah tak berujung. Ketika dunia tak menjanjikan jawaban, ketika hari-hari tak memberikan kesenangan. Ketika semua target luput dari genggaman, ketika semua impian hilang dari keinginan. Putus asa dan frustrasi berkepanjangan hingga pertanyaan muncul di benak : untuk apa hidup harus dijalani? Bisakah kita berhenti di sini saja? Kalau Izrail belum jatuh tempo menjalankan tugas, apakah tugas itu bisa dipercepat datangnya? Na’udzubillahi mindzalik.

Kisah-kisah heroic sesungguhnya mengajarkan kita satu hal : pahlawan sering muncul dari sosok yang paling tidak diharapkan. Kisah lucu How to Train Your Dragon bukanlah sosok satu-satunya di dunia ini. Bahwa Hiccup Horrondaus si pahlawan penakluk naga adalah anak cegukan penakut yang bahkan terlalu ceking untuk bisa kuat berlari. Kepepet, tak punya piliihan lain; membuatnya harus bertahan hidup. Ya, kadang; mencoba bertahan hidup adalah satu-satunya pilihan manusia untuk menjalani hari-hari dan justru itu membuatnya menjadi pahlawan! Ia selalu cari cara untuk tetap kreatif dan  inovatif mengatasi kendala. Lahirlah pahlawan-pahlawan yang berasal dari kalangan bawah yang mencoba mengatasi kemiskinan. Dari kalangan IQ rendah yang  tidak mampu bersaing akademis hingga memilih mengasah bakat minat di sisi yang lain. Golongan difabel yang mencoba mandiri dengan mengabaikan cacat fisiknya. Kalangan disorder yang mencoba bangkit dengan mengatasi segala gangguan psikologisnya.

Kata pahlawan tak perlu harus selalu disematkan.

Tak selalu harus menjadi nama gedung, nama jalanan atau nama rumus. Cukuplah keberanian, pencapaian dan keluhuran menjadi tolok ukur. Kalaupun sifat berani dan prestasi tidak dimiliki; kemuliaan-kemuliaan sifat harus menjadi ciri khas seorang pahlawan. Dan, semua orang di dunia ini harus menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri. Sosok luhur mulia yang mampu memilih keputusan-keputusan terbaik ketika menghadapi persoalan penting dalam hidup : memilih sekolah, masuk kuliah, melamar kerja, memilih jodoh, memilah target dan cita-cita.

Memang, teori tak selalu manis ketika diaplikasikan di kenyataan. 

Bangkitlah ketika gagal! 

Rumus tak selalu indah ketika kegagalan dihadapkan pada kekecewaan, tak punya uang, benturan harapan dengan orangtua dan waktu yang semakin menipis. Belum lagi, bila saat gagal kita dihadapkan pada sosok lain yang demikian cemerlang menuai impiah. Gagal lagi! Kalah lagi! Hidup tak adil! Saat kita merasa dunia menyempit dan tak memberikan kesempatan, ada baiknya kita mencari-cari kata-kata filosofis yang mampu menguatkan kaki berpijak. Dan kata-kata komandan Erwin Smith dari kesatuan Recon Corp di manga-anime Shingeki no Kyojin alias Attack on Titan ini bisa jadi salah satu pilihan quote.

“Majulah!

Hanya itu satu-satunya cara kita memberontak terhadap dunia yang kejam!”***

*Penulis, psikolog, DP FLP

Related posts

Hikmah Corona Virus

admin

Muslim Kelas Menengah Dalam Tiga Puisi Mustofa Bisri (1/7); Pengantar

Topik Mulyana

Cinta yang Nyaris Retak

Wildan Nugraha

Leave a Comment