Jumat, Januari 21Literasi Berkeadaban

Tag: Puisi Gus Mus

Muslim Kelas Menengah Dalam Tiga Puisi Mustofa Bisri (4/7); Sosiologi Karya, “Kaum Beragama Negeri Ini”: Kontradiksi antar Simbol dan Praktik

Muslim Kelas Menengah Dalam Tiga Puisi Mustofa Bisri (4/7); Sosiologi Karya, “Kaum Beragama Negeri Ini”: Kontradiksi antar Simbol dan Praktik

Kritik Sastra
Oleh TOPIK MULYANA, FLP.or.id - Secara stilistik, puisi “KBNI” kaya dengan majas kontradiksi. Secara tematik, ia berbicara tentang sikap kontradiktif kaum Islam Simbolik. MB menilai mereka terlampau mengedepankan simbol agama, namun pada saat yang bersamaan menistakan substansi ajaran agama. Perhatikan bait pertama berikut. Tuhan, lihatlah betapa baik kaum beragama negeri ini Mereka tak mau kalah dengan kaum beragama lain di negeri-negeri lain, demi mendapatkan ridhaMu, mereka rela mengorbankan saudara-saudara mereka Untuk berebut tempat terdekat di sisiMu mereka bahkan tega menyodok dan menikam hamba-hambaMu sendiri. Demi memperoleh rahmatMu mereka memaafkan kesalahan dan mendiamkan kemungkaran bahkan mendukung kelaliman. Untuk membuktikan keluhuran budi mereka terhadap setanpun mereka t...
Muslim Kelas Menengah Dalam Tiga Puisi Mustofa Bisri (3/7); Sosiologi Pembaca, Sasaran Kritik dalam Puisi-Puisi Mustofa Bisri

Muslim Kelas Menengah Dalam Tiga Puisi Mustofa Bisri (3/7); Sosiologi Pembaca, Sasaran Kritik dalam Puisi-Puisi Mustofa Bisri

Berita
Oleh TOPIK MULYANA, FLP.or.id - Kelas menengah muslim merupakan salah satu kelompok masyarakat di kota besar yang menyandarkan identitasnya pada agama Islam. Namun, identitas ini pun tidak tunggal karena situasi heteronomia juga terdapat di kalangan mereka. Keberbagaian norma yang dipegang kaum muslim kota disebabkan 2 hal, yakni cara mengakses pengetahuan keagamaan yang berbeda dan keberbagaian tafsir terhadap agama yang mereka akses itu. Menurut Kuntowijoyo, kaum muda muslim di kota-kota besar, terutama mahasiswa, memperoleh pengetahuan kegamaan melalui sumber-sumber anonim, seperti buku, televisi, radio, compact disc(CD), dan internet. Kuntowijoyo menyebutnya muslim tanpa mesjid (Kuntowijoyo, 2001). Selain mereka, ada juga kelompok yang cara memperoleh pengetahuan dari otoritas-otorit...
Muslim Kelas Menengah Dalam Tiga Puisi Mustofa Bisri (2/7); Sosiologi Pengarang, Mustofa Bisri sebagai Agamawan dan Sastrawan

Muslim Kelas Menengah Dalam Tiga Puisi Mustofa Bisri (2/7); Sosiologi Pengarang, Mustofa Bisri sebagai Agamawan dan Sastrawan

Kritik Sastra
Oleh TOPIK MULYANA, FLP.or.id - Mustofa Bisri (selanjutnya akan disebut MB) adalah seorang tokoh pemuka agama Islam dari Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus sastrawan produktif dan diakui di tingkat nasional. Ketokohan MB sebagai agamawan memiliki kaitan erat dengan ketokohannya sebagai sastrawan. Dalam karya-karyanya, tergambar ekspresi keberagamaannya, baik yang berdimensi individual maupun yang berdimensi sosial. Keagamawanan dan kesastrawanan MB diperkuat oleh faktor sejarah, yakni sebagai salah seorang intelektual muslim yang turut memberi respons (kalau tidak dapat disebut perlawanan) terhadap ortodoksi negara ala Orde Baru melalui “jalan ketiga” (Latif, 2005: 568—569). Artinya, MB adalah salah seorang tokoh penting dalam kontestasi panjang dan pelik kaum intelektual yang memberi respons...
Muslim Kelas Menengah Dalam Tiga Puisi Mustofa Bisri (1/7); Pengantar

Muslim Kelas Menengah Dalam Tiga Puisi Mustofa Bisri (1/7); Pengantar

Kritik Sastra, Opini
Oleh TOPIK MULYANA, FLP.or.id - Seiring runtuhnya Orde Baru dan lajunya reformasi, berbagai pandangan hidup atau ideologi pun mengemuka. Di antara ideologi tersebut, yang berkembang pesat adalah ideologi berbasis keagamaan, dalam hal ini Islam, memiliki basis massa yang besar (Al-Zastrouw, 2006: 2). Hal itu terutama terjadi di kota yang masyarakatnya tidak memiliki basis ilmu agama, namun memiliki semangat yang kuat dalam beragama. Gejala yang menonjol dari maraknya penganutan ideologi ini adalah terjadinya kompetisi antara penganut Islam ideologis dan pihak-pihak di luarnya, baik dengan sesama penganut agama Islam maupun dengan non-penganut Islam, dalam memperebutkan kekuasaan politik. Para ilmuwan muslim menyebut ideologi sejenis ini disebut Islam Politik, Islam Ideologis, Islam Radikal,...