BPP Opini

Pancasila sebagai Inspirasi Manusia Indonesia

Dulu, saya termasuk jarang membicarakan Pancasila, karena sejak kecil hidup kita sudah menjalankan nilai-nilai Pancasila. Ibu saya misalnya, sering membuatkan makanan Padang (rendang) kepada kolega bisnis kami yang berbeda agama dan suku. Hampir tiap tahun itu terjadi.

Waktu kakek kami sedang di puncak jaya-jayanya, banyak warga yang dibantu olehnya. Bahkan, semangat saling membantu itu juga terus hadir tidak hanya dalam bisnis tapi juga dalam relasi personal.

Ketika ekonomi keluarga kami sulit, ada saja kolega yang berbeda keyakinan yang menawarkan bantuan. Jadi, sikap saling bantu tanpa harus melihat perbedaan latar keyakinan atau suku, etnis, dlsb, itu sudah ada dalam keluarga kami.

Maka, ketika tumbuh besar, setidaknya hingga usia 38 tahun ini, saya merasa biasa saja ketika berhubungan dengan mereka yang berbeda. Tidak ada prasangka, yang ada hanya: apa yang bisa kita kerjasamakan untuk kepentingan bersama?

Di keluarga kami, sampai saat ini juga tidak pernah saya dengar ada anggota keluarga yang melontarkan bullying atau hinaan kepada orang lain yang berbeda. Ada semacam rasa penghormatan kepada manusia–sejauh perbedaan yang ada–tanpa harus kehilangan jati diri kita terhadap keyakinan kita sendiri.

Ayah kami, lelaki berkarakter yang tidak ingin menjadi tokoh publik, mengajarkan itu lewat sikap dan perbuatan.

*

Pancasila terhimpun dari berbagai nilai luhur, mulai dari ketuhanan hingga keadilan sosial. Secara singkat, kita sebagai manusia yang percaya Tuhan tidak hanya cukup dengan ibadah vertikal tapi harus dibarengi dengan ibadah sosial. Tidak cukup hanya taat pada syari’at tapi juga harus ikut protokol pemerintah.

Sejak kecil kita memang telah belajar Pancasila. Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) adalah pelajaran yang sangat nasionalis untuk kita. Kita jadi ngerti bagaimana perjuangan para pendahulu untuk bangsa ini dengan mengorbankan jiwa dan raga agar bangsa ini merdeka.

Ketika menanjak jenjang pendidikan yang tinggi, kita jadi memikirkan apa implementasi substansial dari pemahaman kita akan Pancasila?

Kita pun temukan, jawabannya ada pada: produktitivas untuk bangsa. Artinya, siapa yang ingin amalkan Pancasila maka dia harus produktif untuk bangsa dalam bidang yang dia minati, yang dia sukai.

Manusia produktif agak kurang dibahas di negeri kita. Kita sering bahas tentang manusia Indonesia yang berkarakter, beretika, bermoral, dlsb tapi lalai untuk berfokus pada bagaimana menciptakan manusia produktif.

Manusia produktif berarti manusia yang hidupnya itu dihiasi oleh berbagai amal-amal sosial produktif tidak hanya buat dirinya dan lingkungannya tapi untuk bangsanya. Di sini, orientasi pikir kita harus tetap berpijak pada keyakinan kita sebagai diversitas bangsa (bhinneka) yang kita sinergikan dengan berbagai keunggulan anak bangsa menjadi sebuah kesatuan gerak demi tujuan bangsa kita.

*

Ketika saya dewasa, saya mulai membicarakan dan sosialisasi Pancasila. Apalagi ada kecenderungan sebagian masyarakat kita yang anti Pancasila, padahal di dalamnya ada banyak hal baik sebagai platform bersama kita untuk hidup berbangsa.

Membicarakan Pancasila berarti membicarakan nilai luhur yang menjadi titik temu segala perbedaan yang ada. Sebagai titik temu, Pancasila adalah kesepakatan bersama di tengah berbagai perbedaan.

Sebagai inspirasi, Pancasila sebaiknya tidak hanya dihafal. Tapi harus diimplementasikan. Tidak ada yang keliru dari lima sila tersebut. Semuanya baik untuk kehidupan kita berbangsa.

Maka, implementasi terbaik sebagai insan Pancasila adalah dengan memperbanyak kontribusi dan manfaat bagi bangsa ini–sejauh yang bisa kita lakukan.

Para pejabat tentu saja harus mengamalkan Pancasila dengan kebijakannya yang pro rakyat banyak (bukan “rakyat sedikit” atau elite). Mereka harus berjuang untuk menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan untuk segelintir rakyat Indonesia.

Pada ranah personal, ada baiknya kita tidak terlalu berpikir apa yang bisa bangsa dan negara ini berikan untuk saya, tapi kita memikirkan apa yang bisa saya berikan untuk bangsa dan negara ini. Dengan begitu maka hidup kita akan lebih bergairah dan produktif. *

Yanuardi Syukur, Kadiv Litbang BPP
Depok, 1 Juni 2020

Related posts

Berita Buruk Waktu Menulis

Yanuardi Syukur

Jika Tidak, Saya pun bukan siapa-siapa

Kontributor FLP

Hikmah Corona Virus

admin

Leave a Comment