Narasi Perdamaian Film Ayat-Ayat Cinta 2

4 menit baca |

Ayat-Ayat Cinta 2 (2017) (selanjutnya disingkat AAC 2), hadir pada saat yang tepat. Ia sepertinya dilahirkan dari rahim problematika mendasar umat Islam global.

Hal ini menjadi berkah tersendiri, tentu saja, bukan hanya untuk Habiburrahman el Shirazy, sang penulisnya, tetapi juga untuk pembaca/penonton dan industri yang mengusungnya. Berkah momen saat diperlukannya artikulasi kritis terhadap problematika intoleransi, di situlah AAC 2 ada. Berkah momen saat umat Islam perlu lantang mewacanakan perdamaian, di situlah AAC 2 berdiri. Saat persatuan negeri ini terancam oleh sekat-sekat ideologis radikalis, AAC hadir dan memberi perspektif nyata toleransi.

Secara global bahkan AAC 2 ikut berdiskusi tentang peristiwa akhir-akhir ini saat Donald Trump mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota Israel yang secara nyata melawan narasi perdamaian dunia. AAC 2 semacam teks perlawanan pada ketidakadilan wacana global terhadap umat Islam.

Bila kilas balik pada film AAC (2008), hal yang banyak diapresiasi dan dirayakan adalah hadirnya Islam moderat pada narasi cerita. Fahri Abdullah menjadi sosok sentral yang muncul dalam berbagai konflik yang dihadirkan. Solusi yang ditawarkannya selalu jalan tengah.

Kang Abik menandatangani novel Ayat-ayat Cinta 2 sebelum tiba ke tangan pembaca

Setidaknya ada beberapa momen penting yang menjadi penanda narasi tersebut pada AAC, yaitu saat terjadi perdebatan tentang Amerika di sebuah metro. Fahri saat itu menjadi penengah antara dua pihak: fakta cerita yang menghadirkan turis Amerika dengan pakaian seadanya dan narasi radikal seorang warga Mesir (Ashraf) tentang peran politik global Amerika. Dua fenomena ini Fahri hadapi dengan modal intelektual dan spiritual yang dimilikinya. Modal yang sejak awal cerita dibangun dan dilekatkan pada tokoh utama tersebut.

Jalan tengah tersebut sebenarnya adalah sebuah pilihan identitas ideologis AAC. Di tengah kontestasi ideologis dunia yang melahirkan stigmatisasi umat Islam pada titik ekstrem Islamisme, AAC lebih memilih berada di tengah dan bernegosiasi dengan realitas. Identitas semacam ini oleh beberapa sosiolog (di antaranya Asef Bayat [2011]) disebut sebagai Pos-Islamisme. Hal ini pula yang ditangkap oleh Ariel Heryanto saat membaca film AAC (2015). Alih-alih ia mengukuhkan pendapat Amrih Widodo (2010) bahwa dalam AAC ada komodifikasi kesalihan, ia mengambil simpulan bahwa terdapat narasi pos-Islamisme pada film tersebut. Kesalihan yang ditunjukkan adalah keniscayaan yang hadir dalam upaya negosiasi umat Islam terhadap realitas kontemporer.

Dibandingkan dengan AAC, AAC 2 memiliki dosis pos-Islamisme yang lebih kuat. Hal ini, bisa jadi karena latar yang dipilih berbeda. Latar Eropa, tepatnya Edinburgh, sangat memengaruhi narasi film ini. Bila dalam AAC beda agama bertetangga hanya dengan keluarga Butros yang kristen Koptik, dalam AAC 2 lebih kompleks. Di sana ada keluarga Keira yang (sepertinya) beragama Kristen, Brenda yang hedonis, dan nenek Katrina seorang Yahudi. Penambahan porsi relasi beda ideologi, tentu saja, menambah konflik identitas. Kebencian para tetangga pada Islam menjadi bahan cerita menarik berkenaan dengan bangunan karakter Fahri sebagai tokoh utama. Menariknya lagi, Fahri tinggal di lingkungan plural tersebut atas pilihan dan pesan Aisha agar mereka memiliki “lahan” dakwah yang menantang.

Novelis bersama karya-karyanya. (Kap)akankah ada Ayat-ayat Cinta 3?

Hal yang masih sama adalah karakter Fahri yang menonjol dalam berbagai hal: kesalihan, kecerdasan, keprofesionalan, dan ketoleranan. Empat hal tersebut dibangun melalui berbagai narasi heroik. Sejak Fahri yang ternyata telah menyandang gelar profesor, Fahri yang salih dan teguh memegang agama, dan Fahri yang sangat toleran dan penolong kepada siapapun yang membutuhkan, termasuk tetangganya yang berbeda keyakinan.

Keempat hal tersebut semakin mengukuhkan modal yang dimiliki Fahri untuk menaklukan ruang publik di sekitarnya. Namun, yang menjadi kelebihan konstruksi penokohan dalam film ini adalah adanya realitas jiwa rapuh pada diri Fahri akibat hilangnya Aisha. Tarik menarik antara tampak luar Fahri dengan kenyataan dalamnya menjadi inti konflik psikologis yang dibangun film ini. Hanya saja, ulasan pendek ini, akan berfokus pada narasi sosiologisnya.

Berbagai ranah kontestasi Fahri taklukkan dalam rangka meluruskan kesalahpahaman berbagai pihak terhadap Islam. Puncaknya adalah saat Fahri ditantang berdebat ilmiah oleh Baruch dalam sebuah forum debat Universitas Edinburgh. Scene ini, menurut saya, adalah momen terpenting sebagai inti penyampaian narasi perdamaian. Pada saat ini Fahri bahkan mengkritisi pemikiran Samuel Huntington tentang clash of civilization sebagai pendapat yang bias dan provokatif. Kontrawacana yang disodorkannya adalah pemikiran ulama Turki, yaitu Syaikh Badiuzzaman Said Nursi. Ungkapan yang layak dicatat tentang ini adalah kutipan Fahri dari pendapat Syaikh tersebut, “Yang paling layak untuk dicintai adalah cinta itu sendiri, dan yang paling layak untuk dimusuhi adalah permusuhan itu sendiri.”

Kang Abik bersama Ketua MUI K.H. Ma’ruf Amin.

Demikianlah narasi perdamaian berusaha diungkap AAC 2 melalui berbagai dialog dan adegan yang dibuat. Adapun berhubungan dengan ke-Indonesia-an Fahri, dibangun melalui berbagai upaya. Sejak makanan favorit Fahri (tempe) yang sangat efektif dibuat satu scene khusus, sampai dialog bernash tentang Pancasila. Kritik yang diungkapkan teman-temannya terhadap keterlalubaikkan Fahri kepada tetangga sehingga kadang irasional menurut mereka dijawab oleh Fahri dengan sebuah kalimat, “Pancasila itu ada di sini (sambil menunjuk dada sendiri), Bhineka tunggal ika ada di mana-mana!”.

Hal ini saya lihat sebagai upaya penyeimbang antara isu global dan nasional. Latar Eropa yang begitu memukau dan konflik multikurtural yang kompleks ternyata berelasi dengan isu nasional tentang Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika yang juga sedang banyak dibahas akhir-akhir ini.

Simpulan dari ulasan singkat ini adalah adanya upaya ideologis pada AAC 2 sebagai kontrawacana atas Islamophobia yang semakin merebak, bahkan di Indonesia sendiri yang nota bene berpenduduk mayoritas Islam. Pemilihan latar Eropa cukup fungsional dalam berbagai sisi naratif film. Selain mendukung secara sinematografi, juga membuat konflik multiideologi layak untuk digarap.

Karena itu, bila meminjam terminologi terori naratif Seymor Chatman tentang kernel dan satelite, yang menjadi inti cerita atau kernel dari kisah AAC 2 ini adalah isyu perdamaiannya, sementara romansa di dalamnya hanya berfungsi sebagai satelit saja.

Jadi, di balik berbagai kelebihan dan kekurangan film AAC 2 secara objektif, fungsi sosiologisnya sangatlah penting dan akan membuat film ini menjadi tonggak perfilman Indonesia dalam narasi perdamaian global dan nasional.

Bandung, 18-19 Desember 2017

Post Author: M. Irfan Hidayatullah

M. Irfan Hidayatullah lahir di Tasikmalaya, 3 Maret 1973. Ia menyelesaikan pendidikan TK sampai SMA-nya di kota kelahirannya itu. Namun, setiap libur pendek maupun panjang, ia habiskan di rumah ayah-ibunya di tepi Pantai Pangandaran. Ia memang besar, selain dalam didikan ayah-ibu tercintanya, juga dalam asuhan kakek-neneknya di Tasikmalaya. Pada kultur dua ruang itulah (Tasikmalaya dan Pangandaran) ia tumbuh. Setelah selesai SMA, ia lantas menyelesaikan kuliah sarjananya di Jurusan Sastra Indonesia Unpad tempat ia sekarang bekerja sebagai dosen. Saat ini penulis tercatat sebagai mahasiswa S3 Pascasarjana Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI setelah pada tahun 2006 ia raih gelar magister Humaniora di tempat yang sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *