Berita Kabar

Di Kebumen, Ada Jogja; Di Balik Layar Lomba Puisi dan Lainnya

“Genre sosial!” ujar Muji, satu dari tiga orang dewan juri, menyebutkan tema utama puisi yang memenangkan lomba.

Lomba Cipta dan Baca Puisi yang diadakan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Daerah Kebumen pada Oktober lalu terbilang unik. Peserta ditantang untuk menuliskan dan dilanjut membacakan puisinya. Tak hanya itu, sadar akan perkembangan sosial kekinian, medium lombanya pun klop denganhabit kids zaman now. Tak lain, karena pengiriman karya, baik tulisan puisi, maupun pembacaannya, dilakukan melalui aplikasi perpesanan Whatsapp (WA).

Respon Positif
Kepala Disarpus Kabupaten Kebumen, Anna Ratnawati SKM MSi, seperti dikutip Kebumen Ekspres (29/10/2017) mengungkapkan apresiasinya. Menurutnya, lomba cipta dan baca puisi via WA ini diharapkan dapat meningkatkan minat dan budaya literasi di kalangan remaja, dengan memberikan wadah lomba yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi untuk kemudahan dan sesuai karakter remaja.

Ratusan puisi pun masuk ke meja penjurian. “Pesertanya cukup banyak, ratusan. Habis itu dipilih 20 besar, yang kemudian tampil di hari H,” kata Muji yang turut menggagas diselenggarakannya lomba puisi via whatsapp itu.

“Itu temanku sih yang ngajuin lewat whatsapp. Karena lebih mudah, lebih familiar,” tuturnya lagi.

Penggunaan medium yang berbeda, menurut Muji, terbukti berdampak positif. “Biasanya lomba memang ada. Tahun lalu juga ada, tapi dulu formulanya beda, tidak lewat whatsapp. Dan dulu pesertanya lebih sedikit dibandingkan sekarang.”

Ada “Jogja” di Kebumen
Tak heran jika sebagaimana diakuinya, pesertanya pun kebanyakan anak SMA. “Dan menurut saya keren, karena mereka benar-benar didukung sama guru-gurunya,” lanjut mantan Ketua FLP Jogja 2015-2017 itu berbagi pengamatannya.lomba-puisi-whatsapp-kebumen-mujiatun

Muji mengaku, bukan hanya ia saja alumni FLP Jogja yang terlibat dalam penyelenggaraan lomba tersebut. “Teman saya yang menghubungkan saya dengan dinas perpustakaan dan yang aslinya empunya gawe itu juga anak FLP Jogja yang asli Kebumen,” kata perempuan yang tumbuh besar di Kebumen.

“Dan yang menjadi MC acara itu juga anak FLP Jogja yg asli kebumen,” lanjutnya lagi.

Adapun untuk persoalan mutu karya, ia menjelaskan hal itu terkait mayoritas peserta yang anak sekolah. “Ya karyanya seperti yang diajarkan di sekolah-sekolah. Kebanyakan puisi-puisi standar anak SMA.”

Labih lanjut perempuan bernama lengkap Mujiatun itu menerangkan, ada sejumlah kriteria penilaian yang diterapkan. Untuk bagian penulisan puisi, di antaranya ada penilaian diksi dan gaya bahasa. Sedangkan untuk bagian pembacaan puisi, penilaian mencakup pelafalan, intonasi, ekspresi, penghayatan dan penampilan.

Pelajaran dan Pesan
Walau mayoritas anak SMA, tak sedikit mahasiswa yang ikut serta. Di antara mereka juga ada yang sudah ikut komunitas sastra. “Ada yang anak kuliahan dan ikut teater di kampusnya.”

Dengan komposisi peserta dan kriteria penilaian seperti itu, komposisi pemenang pun tak berbeda jauh. “Juara 1 diraih anak kuliahan itu. Yang juara 2, 3, dan favorit, anak SMA,” Muji menerangkan.

Sebagai lomba puisi yang diadakan di daerah, Muji menjelaskan tidak ada ungkapan khas kebumen atau njawani. “Bahasa Indonesia semua,” ujarnya sambil tak memungkiri adanya dialek ngapak khas Kebumen dalam pembacaan puisi.

Secara pribadi, Muji memandang media dan pemerintah berperan sangat penting bagi kemajuan sastra, terutama di daerah. “Sekarang ini, yang saya lihat, ketika suatu daerah kesusastraannya bagus, dan melahirkan sastrawan-sastrawan hebat, itu salah satunya karena adanya dukungan dari pemerintah dan media.”

Ia pun menekankan perhatian terutama pada pemerintah daerah. “Dengan dukungan dari pemerintah, geliat kesustraan di daerah akan lebih terasa, sastrawan akan lebih bangkit lagi sehingga muda-mudi pun lebih tertarik kepada sastra, karena mengganggap sastra masih up to date, masih keren, dan lain-lain. Apalagi jika di-sinkronkan dengan agenda-agenda daerah,” katanya menguraikan.

Kepada para peminat sastra di Kebumen, ia pun turut menitipkan pesan. “Rajinlah membaca, rajinlah menulis dan jika perlu ikutilah komunitas-komunitas sastra.” (Foto: Perpusda Kebumen)

Related posts

FLP Solo Raya Sharing di Seminar Simple Story Writing

admin

Bedah Sosok Fatmawati, Ini Prestasi Terbaru Blogger FLP Bengkulu

admin

Menanti Wajah Baru FLP Solo

Kontributor FLP