Opini

Gie, Demo, dan Menulis (1)

DemonstrasiPasca kenaikan harga BBM, aksi demonstrasi mahasiswa kembali terjadi dimana-mana. Demonstrasi yang awalnya damai, pada beberapa kasus berakhir dengan bentrok antara mahasiswa dengan aparat keamanan, bahkan mahasiswa dengan warga. Di satu sisi mahasiswa berpikir bahwa aksi yang dilakukannya murni untuk membela kepentingan rakyat, akan tetapi di sisi lain aparat keamanan berharap aksi berjalan damai, dan masyarakat sekitar—sebutlah warga tempatan dan pengguna jalan—kerap merasa terganggu dengan kemacetan, bau asap karena pembakaran ban bekas, dan terjadinya kegaduhan. Apakah demonstrasi satu-satunya cara untuk menyampaikan pendapat?

aaa

Dua Peran

Paling minimal ada dua peran mahasiswa, sebagai agen perubahan (agent of change) dan agen kontrol sosial (agent of social control). Sebagai agen perubahan, mahasiswa memainkan peranan signifikan secara situasional—tidak permanen—untuk mengubah kondisi sosial, ekonomi, hukum, dan politik dari yang tidak kondusif jadi kondusif—bahkan hingga mereka menjadi pejabat di bidang-bidang tersebut.

Agak berat dan banyak memang, tapi secara ideal kekuatan moral (moral force) mahasiswa memang seperti itu. Sedangkan sebagai agen kontrol sosial, mahasiswa  berfungsi mengontrol kebijakan-kebijakan pemerintah yang jika tidak diawasi dan dikontrol bisa jadi bertindak korup, seperti kata Lord Acton (1834-1902), “kekuasaan cenderung korup” (power tends to corrupt). Artinya, semua penguasa punya kemungkinan untuk korup, maka gerakan mahasiswa punya posisi baik sebagai kekuatan moral mengontrol kebijakan pemerintah.

Dua peran mahasiswa itu dimainkan secara baik dalam sejarah. Pada 12 Januari 1966, mahasiswa yang tergabung dalam KAMI dan pelajar dalam KAPPI menuntut Tritura—pembubaran PKI beserta ormas-ormasnya, perombakan Kabinet Dwikora, dan turunkan harga sembako—yang selanjutnya menjadi pendorong dikeluarkannya Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) oleh Presiden Soekarno yang menjadi “jalan mulus” bagi Mayjen Soeharto mengambil tindakan yang perlu untuk memulihkan keamanan, dan itu menjadi pintu bagi terbentuknya Orde Baru.

Para aktivis mahasiswa pun berbondong-bondong masuk ke dalam pemerintahan, menjadi anggota legislatif. Film GIE misalnya, menceritakan tentang bagaimana Soe Hok Gie melihat perubahan sikap teman-temannya sesama aktivis mahasiswa yang menjadi anggota parlemen—mewakili mahasiswa dalam DPR-Gotong Royong—dan larut-mabuk dalam kekuasaan: menumpuk harta.

Orang-orang seperti itu, kata Gie, adalah orang-orang yang mencatut perjuangan mahasiswa. Kata Gie, sebagaimana tulis John Maxwell (2005) dalam Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani, “Sebagian dari pemimpin-pemimpin KAMI adalah maling juga. Mereka korupsi, mereka berebut kursi, ribut-ribut pesan mobil, dan tukang kecap pula” (www.airlambang.wordpress.com, 22/03/2010). Ini bermakna bahwa demonstrasi jalanan kadang hanya berhenti di jalanan, dan belum tentu semangat tersebut bisa terus dibawa ketika seorang aktivis masuk parlemen.

Tambahan lagi, beberapa waktu lalu ketika foto anggota DPR Adian Napitupulu, tertangkap kamera sedang tidur saat rapat paripurna kubu Koalisi Indonesia Hebat. Media sosial mem-bully-nya karena dulu ia sangat terkenal kritis kepada pemerintah. Namun ketika sudah duduk di kursi dewan, rupanya tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang dulu dikritiknya.

 Republika menulis, “Adian Napitupulu kena batunya. Ketika menjadi aktivis, dulu paling kencang mengkritik penghuni Senayan. Kini, setelah menjadi anggota DPR malah kinerjanya mendapat sorotan” (www.republika.co.id, 6/11/2014). Bagi mahasiswa—dan para aktivis jalanan—yang selanjutnya meloncat menjadi aktivis partai dan menjadi legislator, tentu saja konsistensinya (ketika mahasiswa dulu) semakin teruji ketika ia duduk di kursi yang empuk, udara yang sejuk, dan posisi yang “basah.”

aaa

Menulis

Suatu waktu Friedrich Nietzsche merasa putus asa. Ia sakit-sakitan sejak kecil, ditambah pula luka yang dideritanya ketika jatuh dari kuda saat bertugas di pasukan artileri berkuda tentara Prussia. Pada 1879, karena kondisi kesehatannya memburuk, dia terpaksa mengundurkan diri sebagai professor filologi di University of Basel. Dalam keputusannya, dia membeli sebuah mesin ketik, Writing Ball namanya. Akhirnya ia menulis dengan alat itu, dan melahirkan karya-karya brilian.

Pada bulan Maret, sebuah koran Berlin melaporkan bahwa Nietzsche “merasa tak pernah sebaik ini” dan berkat mesin ketiknya, “ia telah kembali menulis.” Menurut penulis dan komposer Heinrich Koselitz, tulisan-tulisan Nietzsche setelah memiliki alat mengetik itu lebih padat, kuat, dan telegrafis (Carr, 2011: 14-15).

Kisah Nietzsche ini mengajarkan kita fakta ringan bahwa menulis dapat menyembuhkan dan membuat kita lebih bahagia. Mungkin ada yang berkomentar, “contoh tadi tepatnya untuk dosen, bukan untuk mahasiswa.” Tapi saya punya contoh lain dari mahasiswa yang menulis. Soe Hok Gie, misalnya, sudah menulis sejak mahasiswa di Fakultas Sastra UI (1962-1969)—bukan cuma artikel koran di Kompas, Suara Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya, tapi juga buku yang selanjutnya diterbitkan seperti Zaman Peralihan, Di Bawah Lentera Merah, dan Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (www.wikipedia.org, “Soe Hok Gie, 20/11/2014).

Dalam Catatan Seorang Demonstran, Gie menulis pengalaman-pengalamannya dalam memandang dunia. Dia jadi sehat, sampai kemudian ia harus menghabiskan usianya ketika naik Gunung Semeru di usia yang sangat muda: 26 tahun. Di Unkhair, mahasiswa saya asal Galela, M. Guntur Cobobi bisa dijadikan contoh. Walau sering ada kabar kesehatannya terganggu, tapi ia sering menulis artikel, bahkan buku—salah satunya Menghamba Senja—dan menjuarai berbagai lomba tidak hanya di tingkat kampus dan lokal Maluku Utara, tapi juga untuk skala nasional.

Tentu saja, ini menjadi prestasi baik yang akan dicatat lama oleh sejarah, paling tidak sejarah mahasiswa Program Studi Antropologi Sosial. Mahasiswa lainnya, Rajif Duchlun, juga aktif menulis cerpen, dan beberapa bukunya seperti Orang Miskin Menatap Masa Depan dan Lentera Fajar, telah terbit baik fiksi dan non-fiksi. Poin yang hendak disampaikan di sini adalah, menulis itu menyehatkan dan membuat kita semakin cerdas. Maka baik sekali jika para mahasiswa kita juga melatih dirinya untuk menulis di media-media kampus, koran-koran lokal dan nasional, serta menulis buku.

 

 

(bersambung ke bag 2)

Related posts

FLP dan Fitrah Perubahan

Kontributor FLP

Tantangan Penulis Muslim

Kontributor FLP

FLP: Berbakti, Berkarya dan Berarti

Kontributor FLP

1 comment

Nurul Fauziah 29 Nov 2014 at 8:11 am

Setuju Mas, pengen jadi mahasiswi lagi

Reply

Leave a Comment