• Home
  • Karya
  • Opini
  • GERAKAN LITERASI NASIONAL,  POSISI SASTRA (WAN)  DI MANA?
Opini

GERAKAN LITERASI NASIONAL,  POSISI SASTRA (WAN)  DI MANA?

Oleh Gol A Gong

Sejak 2017,  Pemerintah RI lewat Kemdikbud meluncurkan Gerakan Literasi Nasional hingga 5 tahun ke depan. Setiap tahun, di bulan Oktober ada Perayaan Hari Aksara Internasional. Kampung Literasi didirikan di mana-mana.  Lantas,  posisi sastrawan di mana?  Tahukah mereka dengan itu semua?

Ada sastrawan yang tidak peduli dengan itu semua, bahkan cenderung alergi . Ah, itu proyek pemerintah!  Tapi ada juga yang tertarik,  hanya saja mereka tidak tahu mesti menemui siapa.

Lantas siapa yang diuntungkan dan mendapatkan manfaat dari itu semua? Secara keorganisasian,  semua sepakat adalah Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM). Para pengelola TBM tidak bisa disalahkan. Mereka menjalankan amanat UU 43 tahun 2007 tentang perpustakaan.

Saya pernah jadi Ketua Umum PP FTBM Indonesia 2010 – 2015. Miliaran rupiah digelontorkan pemerintah Indonesia untuk kampanye membaca dan menulis, tapi pesertanya itu-itu saja dan tidak ada penulis buku yang buku-bukunya sering kita baca atau lihat di rak buku. Kesan seremoni dan silaturahmi yang terasa.

Selama 5 tahun jadi Ketum PP FTBM, saya memilih blusukan,  mulai dari Sabang dan mentok di Manado,  minus NTT, Maluku, dan Papua. Tentu persoalan saat itu, tidak ada anggaran untuk membiayai itu. Saya melakukan subsidi silang dari kegiatan pribadi sebagai pemateri pelatihan dan Forum TBM di daerah iuran memfasilitasi kedatangan saya; kadang ada yang mampu menginapkan saya di hotel melati atau tidur di TMB dan rumah pengelolanya. Itu tidak menjadi kendala.

Saya banyak menemukan kelemahan dari para pengelola TBM. Mulai dari tempat di rumah pengelola,  kelembagaan yang bersifat keluarga,  koleksi buku yang kurang variatif,  program yang belum kreatif dan inovatif,  jejaring yang lemah dengan komunitas literasi lainnya, dan minimnya publikasi atau promosi.

Pertanyaan saya waktu itu sebagai Ketum PP FTBM: kenapa para pengelola TBM begitu minder dan cenderung tertutup?  Padahal di luar sana ada banyak “TBM” dalam bentuk lain,  seperti komunitas literasi,  pojok baca, rumah baca, komunitas sastra dan nama-nama lainnya yang merujuk ke “baca tulis”. Kemudian organisasi Forum TBM di wilayah dan daerah juga lemah dalam berjejaring dengan organisasi literasi seperti Dewan Kesenian atau PWI,  IWO (Ikatan Wartawan Online), Forum Lingkar Pena, dan Pustaka Bergerak yang muncul belakangan. Padahal di dalam organisasi itu ada berkumpul para penulis yang diakui karyanya secara nasional?

Di dalam diskusi-diskusi literasi atau pelatihan menulis yang saya Ikuti sepanjang 5 tahun jadi Ketum PP FTBM,  di mana penyelenggaranya bukan FTBM, saya sering mewartakan kepada para pengelola TBM. Sedikit bahkan kadang nyaris tidak ada yang datang. Alasannya, itu bukan kegiatan Forum TBM.

 

Di sisi lain,  para pegiat literasi di luar TBM,  menganggap TBM itu proyek pemerintah, yang tidak ada produk dari membacanya,  yaitu buku. Mereka kadang meragukan kualitas membaca para pengelola TBM. Indikator mereka,  buku-buku yang mereka tulis tidak pernah dibedah atau diluncurkan di TBM. “Boro-boro dibedah, dijadikan koleksi bacaan juga tidak,” begitu ungkapan kekesalan mereka.

Begitulah yang terjadi di era kepemimpinan saya sebagai Ketum PP FTBM 2010-2015. Kemudian saya mencoba melibatkan para sastrawan,  yang memiliki jiwa sosial untuk terlibat di TBM. Benny Arnas di Lubuk Linggau,  Iyut Fitra di Payakumbuh, Yusrizal KW di Padang, Asma Nadia dengan “Rumah Baca Asma Nadia”, Mat Don di Bandung, Aan Mansyur di Makasar,  Neni Muhidin di Palu.

Tapi secara keseluruhan, para sastrawan yang memiliki kepedulian terhadap dunia literasi masih menjaga jarak.  Harus ada yang menjembatani. Peluang itu ada di Dewan Kesenian , PWI, IWO, Forum Lingkar Pena,  Pustaka Bergerak, dan Forum TBM. Keenam organisasi ini harus duduk membicarakan program andalan, supaya lebih masif dan terarah serta melibatkan para sastrawan.

Sekadar contoh. Di setiap perayaan Hari Aksara Internasional, Kemdikbud RI belum maksimal memberi ruang kepada organisasi literasi setempat, di luar FTBM, untuk terlibat. Misalnya memberi stand untuk pemeran; memamerkan karya tulis mereka.

Ada hal menarik saat diskusi “Motivasi Literasi ” yang digelar MEP,  josstoday dot com,  dan JFi Production di Balai Kopi Rakjat,  Jombang,  13 Desember 2018. Binhad Nurrohmat,  sastrawan, melontarkan pengakuan,  “Para sastrawan kadang egois,  terlalu memikirkan pencapaian estetikanya. Tapi jika didekati,  mereka siap menularkan ilmu.” Sebaliknya,  para pengelola TBM atau komunitas literasi lainnya, mulai aktif berkomunikasi dengan para sastrawan. Mulailah dengan membuat program bedah atau peluncuran buku sebulan sekali.

Saya tahu,  jejaring di antara pengelola atau pelaku komunitas literasi masih lemah. Butuh perjuangan untuk mencapai itu. Yusron Aminulloh, master training dari MEP memberi ilustrasi betapa lemahnya jejaring TBM,  Ketika TBM Alam Riang terpilih menerima “TBM Kreatif Award” di Hari Aksara Internasional, Deli Serdang,  Oktober 2018, komunitas literasi di Jombang tidak mengenalnya. Tapi saya yakin, pelan-pelan, ini bisa kita atasi.

Dari permasalahan di atas,  saya rasa PP Forum TBM Periode 2015 – 2020, yang sekarang dikomandani Firman Venayaksa- sastrawan juga, harus terus meluaskan jejaring dengan organisasi literasi lainnya seperti Dewan Kesenian,  IWO,  PWI, Forum Lingkar Pena dan Pustaka Bergerak. Begitu juga sebaliknya, organisasi literasi yang saya sebut itu harus mendekati Forum TBM, yang mendapat posisi strategis di Pemerintah RI. Ada kerendahan hati di masing-masing diri kita. Terutama para sastrawan secara pribadi,  mulai rajin mendatangi TBM yang jumlahnya sudah lebih dari 10 ribuan,  menyebar  di pelosok Indonesia.

Saya yakin,  jika terjalin harmonis, hasil penelitian lembaga-lembaga asing yang selalu menyudutkan budaya membaca Indonesia rendah,  bisa kita mentahkan. Dan tentu, dana pemerintah Indonesia yang miliaran rupiah untuk Gerakan Literasi Nasional sejak 2017, semakin efektif dan produktif. (*)

 

– Makalah ini dipaparkan di Terminal Sastra,  Dewan Kesenian Mojokerto, Kedai Ara,  Senin 17 Desember 2018.

– Penulis Penasehat PP FTBM dan Dewan Pembina Forum Lingkar Pena

Related posts

Opini: Nasib Imigran Rohingya

admin

Adakah Teladan Untuk Indonesia?

Sinta Yudisia

Maukah Kamu Jadi Penulis?

Sinta Yudisia

Leave a Comment