FLP Kalimantan Barat: Wilayah Generasi Awal yang Menyimpan Keistimewaan Tersendiri

2 menit baca |

Sabtu, 27 Januari 2018. Sebenarnya saya sudah tidak diizinkan masuk. Karena konter check in sudah tutup. Tapi saya langsung pasrahkan semua kepada Allah, bagaimanapun semua ketetapan-Nya adalah terbaik. Alhamdulillah, petugas yang tadinya menolak justru tetiba keluar dari ruangannya dan menyerahkan boarding pass. “Pak, langsung ke pintu A6 ya,” pesannya singkat. Saya pun langsung berjalan cepat semi berlari. Sesampainya di ruang tunggu, ternyata memang hanya saya penumpang yang ditunggu. Begitu masuk pesawat, petugas segera mengemas tangga dan menutup pintu pesawat. Pramugari pun sudah bersiap memperagakan alat-alat keselamatan. Saya bernafas lega, sungguh semua atas izin Allah.

Tiba di Bandara Internasional Supadio – Pontianak, saya dijemput oleh Bang Darwadi, Ketua FLP wilayah Kalimantan Barat. Setelah menunggu sejenak dan beliau datang, saya pun dibawanya melaju di jalan protokol Ayani dengan motor off road Kawasaki KLX Hijau-nya, hingga tak berapa lama sampai di Masjid At Tanwir tempat Musyawarah Wilayah 3 FLP Kalimantan Barat. Saya datang mewakili Ketua Umum FLP dan Badan Pengurus Pusat.

FLP wilayah Kalimantan Barat ini unik. Meski tertatih, namun tetap berusaha menampilkan wajah utuh FLP dengan visi memberikan pencerahan melalui tulisan serta misi membina kualitas literasi dan membangun jaringan sebagaimana amanat Anggaran Dasar pasal 4 dan 5. Hal itu tampak dari program-programnya. Dan bagaimanapun, FLP Kalimantan Barat yang kini memiliki 64 Anggota memang termasuk generasi awal dari struktur wilayah FLP, yang terbentuk tahun 2000 dengan pusat kegiatannya di Universitas Tanjungpura (Untan). Sebagai generasi awal, tentu menyimpan keistimewaan tersendiri. Mantan Ketuanya ada yang kini menjadi Kepala Seksi Akuisisi, Pengolahan, dan Preservasi Arsip Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sukamara – Kalimantan Tengah (pak Deddy Setiawan), ada juga yang kini menjadi Polisi (Iptu Helmiady), dan juga ada yang menjadi Humas IAIN Pontianak (bang Aspari Ismail).

Apa yang dilakukan FLP Kalimantan Barat dengan kerja membina kualitas literasinya? Pertama dengan PEDASMEN (Pelatihan Dasar Menulis), yaitu program rekrutmen dan orientasi calon anggota. Sejak terbentuk, telah mengadakan PEDASMEN hingga ke-8. Namun sejak 2015, program rekrutmen ini dialihkan dari wilayah ke cabang seiring penataan 3 cabangnya yaitu FLP cabang Pontianak, FLP cabang Mempawah dan FLP cabang Kubu Raya. Toh, anggota FLP itu memang dikelola oleh struktur terbawah. Kedua dengan menyertakan anggota dalam pelatihan relawan perpustakaan, dialog sastrawan dan pelatihan blogger. Sehingga kira-kira, bila hendak mengoptimalkan Rumah Cahaya, Divisi Karya dan BloggerFLP, maka telah mulai tersemai SDM-nya di tiga ranah itu. Ketiga dengan menugaskan anggota sebagai juri lomba, pemateri kepenulisan hingga perlombaan, yang semuanya terdata rapih dalam Daftar Juri, Daftar Pemateri serta Daftar Juara dari FLP Kal-Bar. Jadi singkatnya, setelah direkrut lalu diadaptasikan, hingga kemudian siap dikontribusikan dalam pengembangan literasi di tengah masyarakat Kalimantan Barat.

Apa yang dilakukan FLP Kalimantan Barat dengan kerja membangun jaringannya? Pertama adalah kerjasama dengan Badan Kearsipan dan Perpustakaan Propinsi. Kerjasama ini membuat FLP tiap tahunnya diundang berpartisipasi dalam Kalbar Book Fair yang biasa diselenggarakan di Rumah Radank, Rumah Adat di Kalimantan Barat. Bahkan antologi “Langit Bumi Arwana” (2015) terbit dengan pendanaan dari Badan Kearsipan dan Perpustakaan Propinsi. Kedua adalah kerjasama dengan Radio Mujahidin, yang merupakan Radio milik Masjid terbesar di Kalimantan Barat. Setiap bulan ada 3 jadwal siar dengan 2 program, yaitu program Pena Muda setiap Ahad pertama jam 13.00 – 14.30 yang menjadi ajang memperkenalkan Anggota serta program I Love Book setiap Sabtu kedua dan keempat jam 13.00 – 14.30 yang menjadi ajang memperkenalkan Karya. Ketiga menghadirkan program RAME (Ramadhan Menulis) sebagai layanan sosial yang salah satu objeknya adalah Lapas Anak. Keempat adalah pengurusan SKT (Surat Keterangan Terdaftar) di Kesbangpol Propinsi, meskipun masih terkendala domisili sekretariat.

 

Jakarta, 21 Februari 2018

Irfan Azizi
Koordinator Divisi Jarwil BPP

Post Author: Irfan Azizi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *