Berita Kabar

Children’s Day, FLP Maluku Perkuat Karakter Anak Dengan Mendongeng Sehari

MALUKU, FLP,or.id – Anak merupakan generasi penerus bangsa. Karena itu, usaha pembinaan diperlukan untuk menggugah dan meningkatkan kesadaran pada hak, kewajiban dan tanggung jawab orang tua, masyarakat, bangsa dan negara terhadap masa depan anak.

Hari Anak Nasional (Children’s Day) diperingati kemarin (23/07) menjadi momentum bagi semua elemen bangsa dalam melaksanakan serta menghormati hak-hak anak di Indonesia maupun di seluruh dunia.

Kesempatan tersebut dioptimalkan dengan baik oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Maluku dalam merayakan hari bersejarah tersebut, sesuai hasil rapat pengurus pada hari Ahad (22/07) lalu.
Peringatan hari anak ini dimaksimalkan dengan menggelar kegiatan mendongeng di dua tempat berbeda, yaitu MIT Daarunnaim Wayame Ambon (formal) dan Pondok Cendekia Dar As Syukur Ambon (non-formal).

Proses mendongeng dimulai dari pukul 09.00 WIT pada MIT Daarunnaim Ambon yang beralamat di Desa Wayame, Kacamatan Teluk Ambon. Pendongeng, Ka Nisa dan Ka Sukma menemani puluhan siswa dengan gaya mendongeng khas mereka. Kadang ruangan hening, ada pula serius sesuai dengan irama suara kakak pendongeng.

Bahkan menurut Alya (Kelas 1A) dan Taqy (Kelas 1B) yang diwawancarai setelah itu, mengatakan,” akang carita paling bagus. Beta sanang. Besok biking lai, kaka,” kata Taqy. Sementara, Alya mengatakan, “kalo bisa setiap hari belajar kayak bagini, kaka.” Jelang pamit istirahat dan pamit pulang, Kepala Sekolah, Sartono A. Assanusy, S.Pdi menyampaikan terima kasih. “Sejak sekolah ini berdiri dua tahun, ini kali perdana, acara semacam ini dilaksanakan di sekolah kami. Awal koordinas dengan pihak FLP untuk menyelenggarakannya, langsung saya mengiyakan tanpa syarat. Saya juga mengatakan apapun yang dibutuhkan guna terselenggaranya kegiatan akan kami suport dengan maksimal.” “Harapannya, semoga FLP bisa menjadi mitra kami dalam membangun sumber daya manusia, terutama anak,” lanjutnya.

Setelah makan siang, tim “Mendongeng Sehari” melanjutkan perjalanan ke arah kota sebagai rangkaian kegiatan berikutnya. Perjalanan menuju lokasi kedua tidaklah memakan waktu lama. Kelelahan membersamai anak-anak di waktu pagi hingga siang terobati dengan skala teduhnya laut teluk dan kipasan pohon-pohon di tepian Tanjung Martafons. Jembatan Merah Putih tak berkelar lagi, tiang-tiangnya tetap kokohkan persaudaraan laut, pasir dan beton.

Hampir tiga puluh menit, kami tiba di tempat kedua, yaitu Pondok Cendekia Dar As Syukur Ambon. Letaknya, di antara pemukiman masyarakat dan tepian jalan raya. Dulu, sebelum komunitas ini didirikan, orang biasa menyebut daerah sebagai kampung alor, dan bahkan orang tidak tau, bahwa di areal ini ada pemukiman masyarakat. Karena dilebati oleh pohon-pohon dan sampah.

Namun, berkat ketekunan Kang Asep M. Tarmono, Alumni Unpatti dkk telah mengubahnya menjadi taman baca, rumah kreatif bagi anak-anak maupun masyarakat disitu. Tangan dinginnya berhasil membawa perubahan walau dirasa step by step. Tapi, itu sebuah perjuangan. Lebihnya lagi, buah tangannya itu telah mendapat dukungan dari masyarakat dengan dibangunnya saung/ rumah bambu sebagai tempat belajar anak-anak.

Setelah sampai di lokasi, tim FLP mempesiapkan segalanya. Tim disambut dengan senyuman anak-anak yang lagi belajar. Tim tetap optimis, awal dan akhir harus maksimal. Dengan diskusi panjang, akhirnya diputuskan Bada Magrib kegiatan dimulai.

Uniknya, komunitas ini memadukan keterpaduan materi dalam pembelajaran. Nilai-nilai karakter diajarkan sangat kental. Kata Tarmono sebagai koordinator, ” kami sangat fokus pada karakter anak. Zaman ini, membutuhkan karakter yang kuat. Mulai, karakter spiritualitas, karakter intelektual dan karakter emosional.”Tentu ini senada dengan ide FLP dalam perayaan hari anak kali ini.

Usai sholat Magrib berjamaah, Ka Tika sebagai pendongeng memulai sesinya. Sekitar 30 menit mendongeng, anak-anak minta ditambahin ceritanya. Awalnya, Ka Tika grogian juga, namun akhirnya Ka Tika pun menuruti kemauan anak-anak. “Wao,, ini suprise bagi beta. Beta seng sangka ana-ana dong aktif bagini. Beta tamba pengalaman baru,” sahut Bendahara FLP ini.

Ada yang bertanya kenapa mengambil dua lokasi yang berbeda dalam perayaan hari anak tahun ini. Erna selaku admin humas menyampaikan bahwa jalur pendidikan itu ada tiga yaitu formal, informal dan formal. “Tentu soal anak dalam momen ini, tidak akan kami bedakan. Anak punya hak yang sama di mata negara. Sebagaimana dalam pasal 28B ayat 2 UUD 1945. Maka, kami mencoba memaksimalkannya. Anak-anak di lembaga formal maupun non-formal harus kita sentuh dengan baik. Untuk informal, kami kira itu tanggungjawab orang tua di rumah,” papar Mahasiswa English Departement Unpatti Ambon.

“Kita juga tau, bahwa anak seusia mereka adalah peniru. Efektifitas cerita dongeng menjadi senjata ampuh dalam mengubah karakter anak. Ke depan kami akan mencoba memadukan aspek kelokalan, aspek religiositas, media dan peraga sebagai metode belajar abad 21. Kini, kami lagi merancangnya, ” imbuh wirausaha muda ini.

Sumber Humas FLP Maluku

Related posts

Peluncuran Novel Fitrawan Umar, “Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan”

Kontributor FLP

Literasi Hijau: Menanam Aksara, Merawat Bumi Ajak Masyarakat Lestarikan Alam

admin

FLP Sumbar: Literasi Tidak untuk Kalangan Eksklusif dengan Sosialisasi Gelap

admin

Leave a Comment