Resensi

Bijak Berumahtangga Melalui Cerita

Ilustrasi Sampul Sakinah BersamamuSakinah Bersamamu merangkum 16 cerita pendek karya Asma Nadia dari rentang tahun 2001 sampai dengan 2010. Sebagian besar dari cerita pendek yang ada dalam buku ini, sudah pernah dimuat di buku-buku Asma Nadia yang lain, seperti Rembulan di Mata Ibu, Meminang Bidadari, Cinta Tak Pernah Menari, Jadilah Istriku, Cinta Laki-laki Biasa, dan sebagainya. Satu cerita yang betul-betul baru adalah cerita pendek berjudul Sakinah Bersamamu. Selain itu, ada sebuah cerita pendek lain sumbangan peserta terbaik Asma Nadia Writing Workshop yang diselenggarakan di Jakarta pada 24 Juli 2010. Cerita pendek tersebut berjudul Kalung, karya Galuh Chrysanti.

Seluruh cerita pendek dalam buku ini berbicara tentang problematika hidup berumah-tangga. Di antaranya mengenai perbedaan karakter suami-istri, perselingkuhan, cinta lama bersemi kembali (CLBK), kejujuran, cemburu, gosip, bakti terhadap pasangan dan orang-tua, poligami, dan kematian pasangan hidup.

Menurut peresensi, salah satu cerita yang sangat bergetah dan meninggalkan sidik jari di hati pembaca adalah cerita pendek berjudul Ibu Pergi Sebulan (halaman 123-133). Tanpa bahasa yang dicanggih-canggihkan atau alur serta penokohan yang njlimet tur  bikin mumet, cerita pendek ini justru berhasil menohok pembaca, karena kuat dan uniknya gagasan yang ditonjolkan Asma Nadia. Ibu Pergi Sebulan setidak-tidaknya memunculkan tiga persoalan, yaitu pola hidup konsumerisme, rasa syukur terhadap suami, dan kejujuran.

Selain itu, ada cerita pendek Mata yang Sederhana (halaman 20-30) yang secara tersirat memaparkan benturan dua dunia, ialah dunia lelaki dan perempuan. Melalui Mata yang Sederhana, untuk kesekian kalinya pembaca diingatkan betapa lelaki adalah makhluk buas yang senantiasa lapar mata dan sangat mementingkan penampilan lahiriah. Sementara perempuan lebih kerap mengutamakan kenyamanan hati dan perasaan. Perbedaan mendasar namun mencolok inilah yang nyaris selalu dijadikan alasan lelaki untuk berlaku serong.

Urutan berikutnya ada cerita pendek Nyonya Kokom dan Para Suami (halaman 156-166) yang secara halus—tanpa menghakimi—menyindir kebiasaan bergunjing para ibu. Nyatanya, para ibu yang gemar bergunjing kerap kali justru menjadi cermin sebuah peribahasa: gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan justru tampak.

Cerita pendek yang lain pun amat layak konsumsi, karena gaya penuturannya yang variatif, mulai dari dramatik emosional, cenderung serius, renyah—mirip obrolan, dan juga segar. Lebih dari itu, buku ini bukan sekadar kumpulan cerita belaka. Pembaca juga akan menemukan obrolan seru dan akrab bersama pengarang Asma Nadia di akhir setiap cerita, mengenai pelbagai cara menghadapi serbaneka ujian berumah-tangga.

Sesuai tagline judul buku, yaitu Belajar Bijak Berumah-tangga Melalui Cerita, pembaca tidak melulu disodori aneka problematika rumah-tangga. Pembaca juga akan menemukan berbagai solusi, baik di badan cerita maupun di bagian obrolan bersama pengarang. Sekali lagi, kesemuanya dituturkan tanpa bahasa yang menghakimi dan juga jauh dari kesan menggurui.

Belajar bijak berumah-tangga melalui cerita? Insyaallah. Semoga sakinah, mawaddah, dan rahmah Allah hadirkan di setiap jengkal rumah kita.

Judul             :  Sakinah Bersamamu
Pengarang    :  Asma Nadia
Penerbit        :  Asma Nadia Publishing House
Cetakan        :  Kesepuluh, Desember 2011
Tebal           :  xii + 344 halaman
ISBN             :  978-602-96725-5-8

Ledug, 5 Februari 2013

Related posts

Film 5PM: Mencintai Masjid, Mencintai Indonesia

admin

Cerita dari Para Juara

Thomas Utomo

No Ngutang, Please! [Review Buku]

admin

Leave a Comment