PEKANBARU-Forum Lingkar Pena (FLP) menggoreskan sejarah dalam dunia literasi dan kebahasaan di Bumi Lancang Kuning. Tepatnya pada Jumat, 24 April 2026 di Hotel Alpha Pekanbaru. FLP mengadakan Seminar Nasional bertajuk, “Bahasa Melayu sebagai Cikal Bakal Bahasa Indonesia”. Kegiatan ini sukses digelar dengan menghadirkan para pakar dan tokoh penting untuk membedah peran krusial Bahasa Melayu Riau dalam menyatukan bangsa.
Acara ini dihadiri oleh tokoh-tokoh terkemuka, di antaranya Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau, Umi Kulsum, Perwakilan dari Bappeda, Wartawan Senior Harry B Koriun, Dosen Fakultas Bahasa Indonesia UIR, Roziah, Ketua Umum FLP, Nafi’ah Al Ma’rab, perwakilan mahasiswa dari berbagai universitas di Pekanbaru. Diskusi yang berlangsung dinamis ini dipandu oleh moderator Bambang Kariyawan.
Ketua Umum FLP, Nafi’ah Alma’rab mengatakan, kegiatan seminar ini tidak hanya sekedar berbagi ilmu, tapi sedang menanam benih literasi di tengah-tengah masyarakat
“Dua puluh sembilan tahun bukanlah sekadar angka bagi Forum Lingkar Pena. Ini adalah perjalanan panjang merangkai kata demi kata untuk memberi makna pada peradaban. Melalui seminar ini, kita tidak hanya berbagi ilmu, tapi sedang menanam benih literasi di tengah masyarakat. Di usia yang semakin matang ini, saatnya melangkah lebih jauh: bukan hanya berkarya, tapi semakin berdaya dan memberdayakan,” jelasnya.
Narasumber pertama, Elmustian Rahman memaparkan materi mendalam mengenai linimasa evolusi bahasa. Beliau menegaskan bahwa pilihan jatuh pada Bahasa Melayu Riau sebagai bahasa pengantar nasional didasari oleh beberapa keunggulan teknis dan historis.
“Bahasa Melayu tidak mengenal tingkatan sosial yang kaku, menjadikannya sangat demokratis. Strukturnya yang simpel memudahkan bahasa ini dipelajari oleh berbagai lapisan masyarakat. Diri,” ungkap dosen Pascasarjana Universitas Riau tersebut
Elmustian juga menyoroti peran penting Raja Ali Haji yang telah membina Bahasa Melayu Riau melalui karya-karya monumental seperti Kitab Pengetahuan Bahasa dan Tuhfat al-Nafis. Pengakuan internasional terhadap bahasa ini telah dimulai sejak lama, terbukti dengan diajarkannya Bahasa Melayu di Tokyo University pada tahun 1907.

Sementara itu, M. Irfan Hidayatullah selaku Dewan Pertimbangan FLP yang juga dosen Universitas Padjajaran membawa perspektif segar mengenai ‘Membaca Muasal Kita.’ Dalam penyampaiannya yang puitis, beliau menekankan bahwa Bahasa Melayu bukan sekadar alat komunikasi, melainkan Pengikat Keberagaman.
Menjadi jembatan bagi berbagai suku di nusantara sekaligus identitas kolektif dalam melawan kolonialisme yang memuncak pada Sumpah Pemuda 1928.
“Mudah digunakan dan fleksibilitasnya menjadikannya bahasa yang hidup baik dalam tradisi lisan maupun tulisan digital saat ini,” katanya.
Seminar ini juga merefleksikan capaian besar Bahasa Indonesia di kancah global. Sejak tahun 2023, Bahasa Indonesia telah ditetapkan sebagai bahasa resmi Sidang Umum UNESCO. Sebagai bentuk penghormatan berkelanjutan, di Pekanbaru juga telah hadir Monumen dan Museum Bahasa di Kompleks Perkantoran Walikota yang berfungsi sebagai pusat pendidikan dan ekonomi kreatif.
Bahasa kita berasal dari Melayu, berkembang menjadi bahasa baru yang kini mendunia,” pungkas Irfan Hidayatullah dalam salah satu bait pantunnya.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, akan pentingnya menjaga akar budaya sembari terus memajukan Bahasa Indonesia di era digital. [Hikmah]
