BPP Pilihan Editor Pojok

Tips Sukses Mengembangkan Tulisan Ala Penulis Mancanegara

Pada awal Mei hingga awal bulan Juli 2016 yang lalu,  saya menghadiri  undangan Seoul Foundation for Arts and Culture. Sebagai penulis, bertemu dengan beberapa penulis mancanegara ketika itu merupakan salah satu pengalaman sangat berharga. Diskusi dan bertukar pikiran dengan berbagai penulis dari berbagai belahan dunia, membuat saya banyak belajar tentang bagaimana mengasah kemampuan sebagai penulis.

Sebagai tanda cinta saya, di bawah ini saya bagikan rangkuman singkat hasil diskusi dengan penulis yang mewakili kiprah literasi mereka di Negaranya masing-masing:

  1. Batkhuyag Purevkhuu

Beliau adalah seorang profesor berasal dari Mongolia yang menguasai secara fasih bahasa Rusia. Sekalipun diskusi kami dalam bahasa Inggris cukup terkendala, beliau banyak memberikan filosofi hidup sebagai seorang penulis. Sebetulnya, Batkhuyag dapat berbahasa Inggris namun ia khawatir pengucapannya tak cukup lancar maka sepanjang acara resmi beliau senantiasa didampingi penerjemah perempuan, Enkhjargal.

Bagi saya, ia mewakili bangsa Mongolia yang mengesankan. Saat sesi perkenalan diri, ia begitu bijak membuka pidato dengan mendoakan kami agar menjadi penulis yang semakin sukses di kemudian hari.

Batkhuyag menjelaskan, bagi bangsa Mongolia tak menguasai bahasa Inggris bukan hal yang memalukan. Mereka harus terlebih dahulu menguasai syair-syair asli Mongolia yang berjumlah puluhan ribu kata.

Sastra, membuat perjalanan hidup sebuah negara lebih bermakna. Batkhuyag pernah mengunjungi beberapa Negara dan ia sangat prihatin dengan Taiwan yang minim jejak budaya serta sastra. Nafas manusia berkejaran dalam uang dan materi.

Manusia, seharusnya tidak mengukur kesuksesan hidupnya hanya dari materi. Ada yang diperhatikan, dicapai, diraih di luar ukuran materi. Penulis, adalah salah satu profesi yang bertugas untuk mengingatkan manusia pada makna hidupnya. Sebab, kehidupan seorang penulis yang biasanya penuh komitmen, perjuangan dan kesederhaan mengalir dalam kata-kata yang ditulisnya.

  1. Sandra Roldan

Penulis cantik dari Filipina ini merupakan teman diskusi yang hangat dan menyenangkan. Ia punya tiga tips untuk menjadi penulis:

  1. Read and read
  2. Write
  3. Get another job!

Baik di Indonesia, Filipina, atau belahan manapun dari dunia ini; ilmu sastra tidaklah mendapatkan penghargaan materi berlimpah sebagaimana sains atau disiplin ilmu lainnya. Menjadi seorang penulis, berarti harus siap dengan kehidupan yang jauh dari standar kecukupan. Maka, alangkah baiknya bila sebagai penulis kita memperkaya diri dengan baca, baca, baca lagi. Menulis, menulis, menulis lagi. Lalu meopang hidup dari pekerjaan selain menjadi penulis. Sandra sendiri menjadi asisten profesor.

  1. Pankaj Dubey

Banyak ilmu unik  yang saya dapatkan dari penulis dan sutradara film ini.

Ketika membahas film, PD , panggilan akrab Pankaj Dubey mengatakan : Bollywood tak akan dapat mengejar Hollywood dalam hal teknologi. Ya! Bayangkan saja film James Bond, Bourne, Mission Impossible, atau science fiction macam Interstellar atau The Martian. Film horrornya pun membutuhkan kecanggihan rekayasa seperti Conjuring 1 dan 2, Mama dan Crimson Peak. Film-film imajinasi tak kalah seru mengusung teknologi: Mirror Mirror, Snow White & Huntsman, Harry Potter, Narnia dst.

Lalu apa yang ditawarkan oleh Bollywood serta sastra India?

Storytelling. Bagaimana mengisahkan sesuatu dengan indah, mendayu, memukau.

Dan fiksi India lebih menggaungkan myths, mitos. Fiksi yang benar-benar fiksi. Khayalan. Tidak harus ada alur cerita yang masuk akal. Bagi PD, bila ingin menulis cerita yang serba masuk akal, tulislah buku motivasi. Fiction is fiction. Keunggulan sebuah fiksi adalah karena unsur-unsur mitos serta hal tak masuk akal yang masuk ke dalam cerita.

  1. Shaheen Akhtar.

Shaheen Akhtar adalah penulis Bangladesh yang mewakili suara perempuan. Bagi Shaheen kisah-kisah perempuan tak ada habisnya untuk dieksplorasi. Shaheen memberikan saya sebuah buku luarbiasa Women in Concert, An Anthology of Bengali Muslim Women’s Writings, 1904-1938. Bagaimana perempuan menghadapi polemik hidup terkait busana muslim, kehidupan sosial politik, juga tantangan ekonomi.

Menulis cerita tentang perempuan dari sudut pandang perempuan, akan menjadi kisah istimewa bagi pembaca dunia.

  1. Penulis-penulis Korea : Yun Dong Ju, Kim Nan Il, Go San Dol, Han Kang dll

Content.

Isi.

Dalam diskusi di ruang laboratorium di Yeonhui serta dalam perjalanan mengunjungi monumen Yun Dong Ju; penulis-penulis Korea menekankan tulisan pada content atau isi. Tak akan ada publishing, promosi, resensi bila penulis tidak memiliki tulisan dengan isi berbobot. Content adalah bahan bakar. Dengan content, promosi dapat dinyalakan.

Maka, penulis-penulis Korea selalu berusaha menajamkan isi serta cara penulisan dalam setiap karyanya. Kim Nan Il menuliskan Underwear , dengan dialog-dialog yang ringan seputar kehidupan sederhana seorang penulis hingga perseteruan panjang Korea Utara-Korea Selatan. Han Kang menuliskan The Vegetarian , seorang perempuan yang mengubah gaya hidupnya dari penyantap segala menjadi seorang vegan. Peralihan gaya hidup ini menimbulkan kontroversi yang tiada habisnya di tengah keluarga hingga ia harus berhadapan dengan suami, adik, adik ipar serta dokter yang menvonisnya mengalami gangguan jiwa.

Nah, setelah mendapatkan masukan dari penulis-penulis mancanegara di atas, Anda ingin menjadi penulis yang seperti apa?

*Sinta Yudisia. Ketua Umum FLP periode 2013-2017. Magister Psikologi Profesional. Beliau dapat dihubungi melalui email: sintayudisia@gmail.com atau twitter: @penasinta.

Related posts

FLP Peduli Nepal

admin

FLP Cirebon: Cabang Pertama yang Bentangkan Layar 5PM

Irfan Azizi

Merayakan Komunitas Cerdas

Kontributor FLP

1 comment

Naqiyyah Syam 29 Jul 2016 at 4:26 pm

Masya Allah ilmunya keren. Makasih sharing nya, Mbk. walau nama penulisnya susah disebut di lidah

Reply

Leave a Comment