Senandika

Sastra yang Menggerakkan; Memecahkan Problem Sosial dengan Sastra? | Helvy Tiana Rosa

JAKARTA, FLP.or.id — Sakti Wibowo memulai karirnya sebagai buruh panggul pabrik roti di sebuah kota di Jawa Tengah. Siapa mengira, beberapa tahun kemudian ia telah menulis lebih dari 20 novel dan kumpulan cerpen. Kini ia bekerja sebagai scriptwriter lepas dan editor di sebuah penerbitan.

Nasirun selalu memperkenalkan dirinya sebagai “Lulusan TK Pertiwi”. Ia berangkat dari desa ke kota dan bergelut dengan berbagai macam pekerjaan: tukang parkir hingga menjadi penjaga kotak WC. Lalu kemudian ia dimerdekakan oleh sebuah pekerjaan: menulis. Kini banyak orang belajar menulis dari seorang penyair yang juga kartunis itu.

Paris J. Ipal bekerja sebagai SPG di sebuah mall di Jakarta, kini telah menulis lebih dari lima buku. Amir, jauh-jauh merantau dari Sulawesi Selatan dengan kesadaran penuh: pergi ke Jakarta dan menjadi penulis. Ia sempat terlunta-lunta sebelum akhirnya menjadi SPG di Gramedia dan tahun lalu memenangkan sebuah sayembara penulisan cerpen berhadiah jutaan rupiah. Kini ia tengah menyiapkan buku pertamanya. Begitu juga yang dilakukan Arlen Ara Guci; dari pengangguran di kota, menjelma penulis lima buku, bahkan bisa bekerja di penerbitan. Suhartono adalah seorang loper koran yang cukup produktif dalam menulis dan kini menjadi pengurus FLP Tegal[22].

Afifa Afra seorang mahasiswi pekerja sosial, yang dari jalanan kemudian menulis puluhan buku, bahkan membuat sekolah menulis. Noor H Dee adalah koki sebuah kafe di Jakarta yang kemudian menemukan jalan sejatinya sebagai pengarang dan penggiat sebuah penerbitan. Bukunya: Sepasang mata untuk Cinta yang Buta, baru saja terbit dan menegaskan keseriusannya di dunia sastra.

Andi Birulaut juga contoh, bagaimana seorang “preman” kemudian bermetamorfosis menjadi pengarang, dan berhasil membawa preman-preman lain di daerah sekitar Penjaringan, Jakarta Utara untuk peduli dan bergerak membuka Rumah Cahaya (Rumah Baca dan Hasilkan karya), bagi anak dan remaja dhuafa di sana[23].

Para TKW Hong Kong, Sakti Wibowo, Nasirun Purwokartun, Noor H. Dee, Suhartono, Andi Biru Laut dan sejumlah nama lainnya bisa jadi merupakan bagian dari problema sosial yang dihadapi negeri ini. Orang-orang ini mengingatkan saya pada apa yang pernah ditulis Ang Tek Khun:

Aku belajar

bahwa belajar seringkali bukan ketersediaan waktu

melainkan pada kesediaan

pada ketundukan hati

Aku belajar

bahwa belajar seringkali bukanlah rangkaian aksi

melainkan proses membuka diri

proses menerima

Bagi mereka sastra bukan sekadar “obat” dari problema sosial yang mereka hadapi, melainkan juga sesuatu yang membebaskan. Sastra telah memerdekakan mereka dari pandangan sempit yang melihat mereka sebagai pembantu, buruh panggul, penjaga kotak WC, pengangguran, koki, dan sebagainya itu. Sastra mereka mungkin bagian dari eskapisme, namun dengan sastra mereka berupaya pula mencerahkan orang lain (baca: pembaca) melalui apa yang mereka tulis. Sastra kini  tak lagi semata milik kaum “cendekia”, tak lagi menara gading para “elitis”.

Mereka  menyadari bahwa sastra bisa mencintai dan membawa mereka sebagaimana mereka mencintai dan membawa sastra. Karena itulah orang-orang seperti mereka, akhirnya turut peduli, bergerak melakukan semacam kampanye gerakan membaca dan menulis dan berbagai pelatihan yang menyentuh ragam lapisan masyarakat. Mereka yang telah menghasilkan karya nyata biasanya secara sukarela menjadi “mentor” bagi teman-teman yang belum memiliki karya[24].

Banyak pihak merasa apa yang saya lakukan bersama FLP adalah suatu perubahan sosial yang nyata dari sebuah gerakan sastra. Pihak lain mengatakannya sebagai perubahan sastra melalui gerakan sosial[25]. Dalam tulisannya yang juga menyinggung FLP ”Kemana Hala Tujuan Sastra Melayu?” DR. Moh. Zariat Abdul Rani dari University Kebangsaan Malaysia (2007), menyatakan, FLP bukanlah organisasi yang semata memproduksi karya sastra, melainkan harus dilihat sebagai gerakan di bidang budaya, sosial, dan pendidikan yang membawa perubahan sosial di Indonesia.

Tahun 2008, FLP mendapatkan Danamon Award dalam kategori organisasi nirlaba dan dianggap telah memberikan kontribusi signifikan terhadap masyarakat negeri ini selama satu dekade terakhir, serta disebut sebagai ”Pahlawan di Sekitar Kita” atau ”Pejuang Masyarakat.”[26]

Seperti yang dinyatakan Maman S. Mahayana,

“Dalam sejarah sastra Indonesia, belum ada satu pun organisasi atau komunitas (sastra) yang kiprah dan kontribusinya begitu menakjubkan, sebagaimana yang pernah dilakukan FLP. FLP telah membuat catatan sejarah sastra Indonesia dengan tinta emas!”[27]

Simpulan dan Penutup

You are what you write!

Sebagai anggota masyarakat, saya menyadari munculnya beragam perubahan dalam diri saya yang disebabkan oleh sastra. Perubahan pribadi tersebut kemudian menjadi dasar dari perubahan yang lebih luas dan melibatkan masyarakat. Perubahan tersebut sebagai berikut: (1) Perubahan diri saya, dari yang belum mengenal sastra menjadi keranjingan membaca karya sastra, (2) perubahan cara pandang saya dalam melihat, menilai dan menghadapi kehidupan dikarenakan– antara lain, karya-karya sastra yang saya baca, (3) perubahan kondisi dari pembaca menjadi penulis. Munculnya dorongan untuk menulis karya sastra, (4) perubahan-perubahan dalam skala tertentu yang dialami oleh para pembaca buku saya, di mana pun mereka berada (meski tentu saja banyak pula pembaca buku saya yang boleh jadi tak mengalami perubahan apapun setelah membaca buku saya). Perubahan pandangan atau sikap mereka juga menjadi pemicu untuk saya menulis lebih banyak dan lebih baik, (5) Perubahan sosial yang saya lakukan bersama FLP dalam budaya menulis sastra di Indonesia.

Sementara itu respon dan sikap saya sebagai pengarang terhadap problema sosial masyarakat dalam menghadapi perubahan sosial antara lain:

(1) Berusaha untuk rutin membaca karya sastra sebagai salah satu hal yang bisa mengisi jiwa dan menyalakan nurani. Saya berusaha menjadi orang yang terus mencermati dan berempati terhadap sekitar serta meningkatkan wawasan terhadap ilmu pengetahuan dan masyarakatnya.

(2). Berusaha selalu menulis dengan mengedepankan nurani, termasuk dalam hal ini mengangkat berbagai problema sosial yang terdapat dalam masyarakat dan mengemasnya dalam karya sastra yang berkualitas, yang bisa menggugah diri, lingkungan serta masyarakat[28].

(3). Berusaha melakukan sesuatu selain menulis yang dekat dengan dunia sastra yang saya tekuni. Dalam hal ini saya membentuk komunitas yang mewadahi berbagai kalangan, khususnya kaum muda dan masyarakat marjinal untuk mengajak mereka mencintai sastra dan memberi berbagai pelatihan menulis yang berkesinambungan yang di kemudian hari bisa menjadi skill guna meningkatkan kesejahteraan mereka. Apa yang saya lakukan secara individu maupun bersama-sama ini diharapkan bisa menjadi solusi dari salah satu problema sosial dan budaya yang kita hadapi, yaitu maraknya pengangguran dan kaum miskin sekaligus sebagai siasat meningkatkan minat membaca dan menulis di negeri ini.

Tentu saya masih harus terus belajar, terus berproses. Dan saya sepakat dengan apa yang disampaikan penulis idola saya, Mohammad Iqbal, bahwa karya sastra yang baik haruslah memenuhi kaidah-kaidah sebagai berikut, (1) mampu membawa pembacanya pada kesadaran bahwa pada hakikatnya manusia adalah mahluk spiritual, (2) sastra yang ideal adalah yang mampu memancarkan dimensi sosial dan dimensi transendental dalam kesatuan yang tak terpisahkan, (3) dalam proses penciptaan karya, seorang pengarang harus memadukan cinta, pengetahuan dan mengaktifkan akal serta hatinya, maka ia akan memperoleh ilham yang tinggi, (4) keindahan tertinggi dalam karya seni bukanlah keindahan estetis atau zahir, melainkan keindahan yang memancarkan hikmah, yaitu pengetahuan yang dapat membawa pembaca pada pencerahan kalbu, (5) sebagaimana Rumi atau Attar, sastrawan harus berperan pula sebagai guru kerohanian dan kemanusiaan di tengah masyarakatnya yang dilanda krisis dan kemunduran.[29]

Akhirnya, saya akan selalu ingat pesan singkat yang ditulis Putu Wijaya di notes saya saat saya bertemu dengannya pertama kali dalam seragam putih biru: “Helvy, Menulis adalah berjuang!” atau perkataan Taufiq Ismail tentang Sastra Dzikir. “Sastra itu harus bisa mengingatkan.” Hal-hal itu mempengaruhi arah penulisan saya. Dan mengutip Vaclav Havel, seorang pengarang harus hidup dan bergerak dalam kepedulian dan kebenaran, selamanya. Semoga!

Related posts

Ketika Anak Menghadiahkan Buku

Sinta Yudisia

Menjadi Penulis, Tak Sekadar Royalti (2)

Sinta Yudisia

9 Langkah Menghadapi Kritik (2/2)

Intan Savitri

1 comment

Two decades of preaching with the pen - Asian Studies Association of Australia 21 Feb 2017 at 6:06 am

[…] of publishing and distributing new literature blurs the line between producer and consumer, and as Helvy Tiana Rosa puts it, ‘today, literature is no longer solely the domain of intellectuals, no longer an ivory tower for […]

Reply

Leave a Comment