Menjadi Penulis, Tak Sekadar Royalti (2)

4 menit baca |

uangEmang, punya duit royalti dosa?

Ya, enggak lah. Malah, dapat pahala karena membantu kemandirian. Dari royalti disisihkan infak, dapat memberi hadiah kepada orang tua dan saudara, dapat membantu teman yang kesulitan. Plus membeli barang yang dibutuhkan.

Tapi kalau royalti satu-satunya tujuan, cepat sekali impian ini menjadi redup. Pasalnya, royalti yang dibayar per 3 bulanan, 4 bulanan, 6 bulanan atau malah ada yang per tahun; baru terasa besarannya bila buku terjual sekitar 2000 eksemplar. Eit, jangan keburu senang mendengar buku kita terjual 2000 eksemplar, sebab buku itu telah terjual tetapi boleh jadi uang yang beredar dari toko buku dan distributor belum masuk seluruhnya ke kas keuangan penerbit sehingga bisa jadi royalti yang terbayar ½ atau ¼ dari total buku terjual.

Bicara masalah royalti memang cukup pelik. Dimulai dari harga kebutuhan masyarakat yang semakin tinggi, harga kertas yang menjulang, membuat penerbit harus berhati-hati mengeluarkan satu buku. Buku pun berharga mahal, royalti penulis sekitar 10%. Akibatnya, masyarakat menjadi enggan membeli buku, belum lagi kecintaan pada dunia literasi tidak terlalu tinggi. Akibatnya, buah pikiran penulis yang ditulis lamaaaa sekali, dihargai sangat murah.

Apalagi, tidak ada kamus baku mutlak untuk sebuah buku best seller. Apakah jika judulnya berbau ke inggris-inggrisan? Apakah jika temanya kemanusiaan? Apakah jika alurnya supranatural dan fantasi? Apakah pendidikan sedang menggaung sehingga novel motivasi sangat diminati? Setiap tulisan punya peluang menjadi best seller, terjual secara baik atau sebaliknya terpuruk di pasaran. Saya punya buku-buku yang diprediksikan best seller, ternyata jeblok di pasaran. Saya punya buku-buku yang temanya biasa-biasa saja…eh, respon pasar bagus. Banyak faktor yang mengikuti sebuah buku terbit.

But, don’t worry. Pintu rezeki bukan cuma royalty, lho! Karena Allah SWT membukakan pintu-pintu lain semisal: menulis cerpen/artikel di media lebih diperhitungkan karena punya buku, dapat beasiswa, mengisi pelatihan, mengisi acara seminar, dll. Tuh, kan, menjadi penulis itu banyak gunanya!

Jadi, sekalipun berpikiran pragmatis, tetapi jangan jadikan satu-satunya alasan. Meski royalti kecil, tetaplah menulis. Meski sesudah peredaran tahun ke-3 royalti kita adalah …. Dan sebuah surat pemberitahuan: maaf, kami belum bisa mentransfer royalti anda karena jumlahnya kurang dari Rp.50.000; keep on writing.

Sebab menulis itu menyenangkan. Yey! dan kita tidak tahu di buku keberapakah Dia menitipkan rezeki terbaikNya, kan?

aaa

Self Publishing

Capek ngurus royalti? Capek berbelit dengan editor, redaksi, penerbit? Self publishing, ah! Atau bikin penerbitan sendiri! Beberapa penulis perempuan yang sudah berhasil dalam dunia penerbitan adalah mbak Asma Nadia dan mbak Afifah Afra.

Saya sendiri pernah tergoda mendirikan penerbitan sendiri. Ah, masak enggak bisa menjual buku sendiri sampai 3000 eksemplar, sih? Kebangetan banget! Setelah tanya sana sini terkait banyak hal mulai modal sampai teknis; sebelum saya menerbitkan buku sendiri, ada saran seorang penulis muda Mohammad Arif Luthfi aktivis FLP Jatim yang sempat setahun mengajar di  program Indonesia Mengajar.

“Mbak Sinta, mendirikan penerbitan itu enggak gampang, lho. Nanti apa masih bisa punya waktu untuk nulis?”

Saya salut dengan mbak Asma dan mbak Afra yang masih bisa tetap  menulis sembari mengelola penerbitan; tapi apa saya sanggup? Waktu #Rinai baru terbit, saya melayani penjualan buku-buku preorder. Membungkus, memberikan alamat, mengirim ke JNE. Belum lagi kalau ada klaim dari pembaca yang menanyakan, kok, bukunya belum sampai. Hehe, maklum semua masih dikerjakan sendiri.

Mungkin karena saya sedang sibuk kuliah. Mungkin karena saya kurang cermat membagi waktu. Mungkin karena semua agenda kebanyakan ada di hari Jumat-Sabtu-Minggu sehingga nyaris tak ada hari libur. Mungkin, mungkin, mungkin yang lain. Tapi membuat penerbitan sendiri, dibutuhkan satu hal: team work.

Bukan sekadar penulis yang bisa membuat sebuah karya. Mbak Asma punya kerja tim yang baik, mbak Afra punya tim yang andal. Karena bagi saya, alangkah kelelahan menulis, promosi, mengisi kesana kemari, mengelola penerbitan yang merupakan sebuah entitas usaha dengan segala dinamikanya.

Meski, saya tetap punya cita-cita menerbitkan buku sendiri. Karena enggak semua karya kita bisa lolos di penerbit padahal kita suka sekali karya tersebut. Saya ingin menerbitkan buku-buku yang tipis, cepat edar di kalangan teman-teman sendiri. Bukan  buku yang spektakuler, hanya sekedar sharing pengalaman sehari-hari sebagai ibu, anggota masyarakat, istri dan penulis. Enggak mungkin menuntut penerbit untuk menerbitkan semua karya kita sebab mereka punya kebijakan masing-masing. Penerbit juga punya modal yang harus dikembangkan, punya pegawai yang harus diperhatikan.

Self publishing adalah salah satu dinamika menarik di tengah masyarakat penulis. Mereka cepat tanggap terhadap kebutuhan penulis yang mungkin lelah mengantri lama di penerbit regular. Ada banyak self publishing, silakan cermati. Membuat penerbitan sendiri juga bukan hal yang sulit asalkan punya tim kerja, solid membagi peran, transparan dan memiliki akuntabilitas terkait masalah pendanaan.

Saya pribadi tetap menyarankan teman-teman penulis di dua jalur: self publishing dan penerbit reguler. Self publishing bagus untuk mendongkrak motivasi, memiliki buku sendiri meski tipis dan berjumlah terbatas. Tetapi penerbit regular harus tetap ditembus, sebab dalam penerbit reguler berkumpul tim yang sudah punya pengalaman: editor, redaksi, pelaku pasar, distributor.

Apapun penerbitnya, tetaplah punya visi misi besar sebagai penulis!

Post Author: Sinta Yudisia

1 thought on “Menjadi Penulis, Tak Sekadar Royalti (2)

    Ganjar Widhiyoga

    (26 Feb 2015 - 4:16 pm)

    Sepakat Mbak!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *