Kekuatan Berdakwah

1 menit baca |

SENANDIKA, FLP.or.id – Katanya, harta dan tahta dikuasai untuk menunjukkan kita berdaya, sehingga hanya yang kuat saja yang boleh masuk ke sana (politik). Ini logika aneh karena ‘berdayanya’ kita tidak ditunjukkan dengan penguasan harta dan tahta. Berdayanya kita adalah seperti Bilal yang tidak goyah walau sesenti pun. Ahad. Ahad. Ahad. Di hadapan penguasa tirani.

Walaupun BIlal adalah budak, dimiliki tuannya, saat dia berdakwah dengan kesederhaan seseorang yang tidak berpendidikan, kata ‘ahad’ Bilal adalah ‘batu’ yang kerasnya melebihin dua batu yang menghimpitnya. ‘Batu’ yang membuat gemetar hati-hati yang mendengarkan.

‘Ahad’ Bilal dalam siyasi adalah berdiri tegak dan lurus dan menjadikan aturan Allah sebagai komando. Bukan kepentingan menguasai uang dalam jumlah fantastis, atau posisi strategis yang mengarahkan pilihan sikap dalam pertarungan politik. Apa bedanya ini dengan menjual ayat-Nya?

Jika karena kita ingin menunjukkan kita ‘berdaya’ maka kita gunakan rolex mewah, naiki alphard super nyaman, maka sejatinya kita bukan orang yang percaya diri dengan diri sendiri. Kita meletakkan nilai kita di mata manusia dengan barang mewah dan posisi ketua lembaga. Jangan-jangan konten di dalamnya kosong sehingga memang perlu dikuatkan dengan aksesori luar.

Lalu di mana aplikasi ‘Mohon ampunlah pada Rabbmu, maka Dia tambahkan kekuatan di atas kekuatanmu’?

Kekuatan dakwah datang dari Allah, bukan dari apa yang kita kuasai/genggam.

Saat Islam datang dan diperjuangkan, harta dan tahta tidak dijadikan sumber kekuatan untuk berdakwah. Kalau iya, Rasulullah akan menerima tawaran ‘tahta’ dari Quraisy Mekkah. Kalau iya, Al Amin -Abu Ubaidah bin Jarrah- akan memilih baju bagus dan rumah berpagar seperti beberapa sahabat, para panglima pasukan yang lain.

Kekuatan berdakwah datang dari Sang Maha Kuat.

Yang dipercaya dari umat Muslim ini (gelar Rasulullah SAW untuk Abu Ubaidah ra) membuat airmata Umar meleleh melihat Al-Amin yang telah menakhlukkan Syam ini tidur dalam sepetak kamar, beralaskan kulit dan hanya memiliki sebilah pedang dan perisai yang tersender pada dinding kamarnya.

Berlindunglah dari syahwat perut, ya ikhwah. Mohon ampunlah pada Allah. Mintalah kekuatan pada-NYA untuk dikuatkan bersama dalam kebaikan. Mohon ampunlah. Mohon ampunlah.

Pertama kali terbit di Facebook Maimon Herawati tanggal 8 Oktober 2018.

Post Author: maimonh

Journalism lecturer @unpad. Author of novels (Rahasia Dua Hati, Pingkan), anthologies & features writings. Pen name: Muthmainnah. IG: maimonherawati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *