Penulis

Kebutuhan Penulis pada Pemahaman

Penulis dengan segala aktivitas literasinya adalah syiar. Ia menyiarkan nilai-nilai dan ide-ide. Nilai-nilai itu menjadi anutan bagi kehidupan pembacanya. Ide-ide itu menjadi arahan bagi kehidupan pembacanya.

Karenanya, ada kebutuhan mendasar bagi seorang penulis; yaitu Pemahaman. Pemahaman akan nilai-nilai, sebelum nilai-nilai itu tersyiarkan ke segenap penjuru menjadi anutan. Pemahaman akan ide-ide, sebelum ide-ide itu tersebarkan ke segenap penjuru menjadi arahan.

Pemahaman akan nilai yang kita usung menjadikan diri mampu menyampaikan nilai secara tepat dalam konteks ruang dan waktu di tengah masyarakat kita. Sehingga masyarakat nyaman menerima nilai itu dan mudah menjadikannya sebagai anutan.

Pemahaman akan ide yang kita usung menjadikan diri mampu menyampaikan ide secara tepat dalam konteks ruang dan waktu di tengah masyarakat kita. Sehingga masyarakat nyaman menerima ide itu dan mudah menjadikannya sebagai arahan.

Begitulah. Sebenarnya itu merupakan kebutuhan setiap manusia, apapun profesinya. Namun menjadi lebih khusus bagi penulis, karena dari kelincahan jari-jemarinya akan tersyiar nilai-nilai dan terlontar ide-ide yang dengan cepat menghampiri banyak benak di sekitarnya, bahkan pelosok penjuru yang mungkin tangannya pun tak mampu menjangkau.

Itulah kebutuhan kita. Sebab, kemudian kita pun disadarkan –di antaranya oleh Dr. Yusuf al Qaradhawi-, bahwa penyimpangan yang terjadi di penjuru dunia ini karena tidak adanya pemahaman yang benar. Baik mereka yang terlampau menyulit-sulitkan maupun yang terlalu memudah-mudahkan dalam banyak hal, karena lemahnya pemahaman. Begitupun segala konflik dan kesalah-pahaman juga akibat dari minimnya pemahaman. Pun sekian banyak kezaliman yang tak kunjung tertumpaskan, juga karena pemahaman yang tak merata.

Sayangnya, di tengah kesadaran kebutuhan akan pemahaman itulah, kita kembali dirundung kedukaan. Salah satu ulama kita telah kembali kepada-Nya. Beliau adalah Dr. Wahbah az Zuhaili, ulama asal Syria. Kita mengenal beliau, sebagai salah satu ulama yang cukup produktif berkarya. Beragam buku dan tulisannya telah kita temui. Dan, mulai Sabtu sore kemarin (8/8), karya-karya itu menjadi warisan kehidupannya bagi kita semua.

Dalam kesadaran bahwa kekuatan pemahaman kita dalam menjalani kehidupan ini tidak lepas dari pondasi petunjuk al Qur’an dan Hadits serta Akal Pikiran, maka sekiranya karya-karya warisan Dr. Wahbah az Zuhaili yang sebagian besar terkait Fiqh mungkin dapat memenuhi kebutuhan kita akan pemahaman.

Sebab dalam fiqh kita mendapatkan pemahaman implementasi nilai-nilai agama ini. Sebab dalam fiqh juga, kita mendapatkan pemahaman mendalam yang dapat mengokohkan bangunan ide-ide kita sesuai kebutuhan masa kini. Bahkan dalam kitab-nya ‘Fiqh al Islami wa Adillatuhu’ (Fiqh Islam dan Dalil-Dalilnya), beliau mengatakan, “Tidak diragukan lagi bahwa umat Islam saat ini sangat butuh pada kitab fiqih yang ditulis dengan metode kontemporer; bahasa yang mudah dipahami, susunan pembahasan yang sistematis, dijelaskan tujuannya, dan dikuatkan setiap pernyataan ijtihad ulama dengan rujukan yang terpercaya, serta mudah bagi para pelajar untuk merujuk kepada pokok pembahasan yang sedang mereka cari sehingga layak untuk dimasukkan dalam rancangan perundang-undangan.”

Beberapa karya beliau selain ensiklopedia fiqh beragam madzhab itu, yang mungkin juga layak untuk kita seksamai adalah studi Disertasi-nya di Cairo University pada tahun 1963 dengan judul “Atsar al Harb fii al Fiqh al Islami –Dirasah Muqarin-“ (Implikasi Perang dalam Hukum Islam –Sebuah Kajian Komparatif-). Selain itu juga ada “al-Huquuq al-Insaan fii al-Fiqh al-Islami bi al-Isytiraak ma`a al-Akharin” (Hak Asasi Manusia dalam Hukum Islam dalam Interaksinya dengan Pihak Lain), “Haq al Hurriyah fii al ‘Alam” (Hak Kebebasan di Dunia), dan masih banyak lagi karya beliau yang lainnya.[]

 

Jalan Raya Bogor, 9 Agustus 2015

Muhammad Irfan Abdul Aziz. Staff Divisi Kaderisasi BPP FLP.

**(Mewarisi Karya Dr. Wahbah az Zuhaili)*

Related posts

[Seri Dua Minggu di Australia (bag.1)] Kali Pertama ke Negeri Kangguru

Yanuardi Syukur

[Seri Dua Minggu di Australia (bag.3)] ABC, Abdullah Saeed, dan Yahudi Muda

Yanuardi Syukur

Penulis Gegge S. Mappangewa: “Saya Semakin Menyadari, Saya Tak Berbakat Menulis”

admin

Leave a Comment