Ayat-ayat Cinta 2, yang Psikologis dan yang Sosiologis

4 menit baca |

SENANDIKA, FLP.or.id – Setiap film memiliki titik krusial dalam keterhubungannya dengan penonton. Titik krusial ini juga yang kemudian bisa menjadikan film tertentu dimasukkan pada genre tertentu.

Sudah pasti titik krusial itu pula yang digarap penulis skenario dan sutradara film untuk membangun identitas film yang sedang digarapnya. Namun, tidak jarang film yang tidak optimal dalam menggarap titik krusial ini sehingga ia gagal diposisikan oleh penontonnya.

Sebaliknya, banyak yang berhasil menggarap tidak hanya satu titik krusial sehingga ia bisa dinikmati oleh berbagai jenis penonton.

Secara sosiologis ini bisa jadi salah satu alasan box office-nya sebuah film. Dalam hal ini, AAC 2, dalam pandangan saya, memiliki dua titik krusial sekaligus, yaitu yang psikologis dan yang sosiologis.

Yang psikologis, seperti tak semenonjol yang sosiologis dalam film ini, tetapi bila dicermati lebih dalam, film ini menyimpan sekam krusial di sana.

Pada cerita (story, dalam terminologi Chatman yang disandingkan dengan discourse) dikisahkan seorang Fahri (Fedi Nuril) yang sedang dalam puncak karier akademisnya di Universitas Edinburgh.

Ia menjadi profesor bidang filologi di universitas tersebut. Pada saat bersamaan, Ia pun memiliki kehidupan sosial, spiritual, dan ekonomi yang mapan. Secara sosial ia seorang tetangga yang baik dan sangat toleran terhadap berbagai perbedaan ideologis di sekitarnya.

Secara spiritual ia adalah seorang muslim taat yang mampu menunaikan kewajibannya sebagai muslim dalam keadaan apa pun (film ini diawali oleh adegan Fahri yang salat di kelas). Tak tertinggal, secara ekonomi Fahri diceritakan sebagai seorang pengusaha yang memiliki beberapa swalayan selain tentu saja sebagai seorang dosen.

Kelengkapan kapital (meminjam istilah Bourdieu) tersebut dalam film ini depergunakan untuk menaklukkan yang sosiologis atau ranah yang bersifat sosial. Persoalan multikulturalisme jadi titik krusial utama dalam hal ini. Karena itu, konflik yang dibangun adalah pertentangan antara Fahri dengan beberapa tetangganya yang berbeda identitas ideologis dan kultural.

Resolusi yang dicapai di akhir cerita pun terdapatnya rekonsiliasi antara “ideologi” Fahri dengan “ideologi yang lain”. Simpul utama keterleraiannya adalah berbaliknya nenek Katerina (Dewi Irawan) dan Keira (Chelsea Islan) disebabkan oleh kebaikan sosial Fahri.

Nenek Katerina menjadi aktan (meminjam istilah Greimas) penolong setelah sebelumnya sebagai penentang. Sementara Keira bergeser dari aktan penentang menjadi pendukung Fahri dalam meraih Objek, yaitu cinta tunggalnya Hulya (Tatjana Saphira).

Narasi psikologis
Jalinan perpindahan naratif itu yang membuat cerita ini seperti hanya berkutat dalam ranah sosiologis dan romansa. Namun, ternyata ada narasi (discourse) lain di balik itu semua, dialah yang psikologis.

Narasi psikologis ini melengkapi narasi sosiologis. Narasi sosiologis akan dengan jelas terbaca bila naratif hubungan antarideologi tidak dinilai sebatas jalinan cerita.

Pada narasi ini lakuan tokoh Fahri yang bersifat sosiologis itu sebenarnya bagian dari tegangan psikologis yang cukup dalam.

Ada satu scene yang menjadi penanda aspek ini, yaitu saat Fahri meminta nasihat dari Misbah di sebuah masjid. Pada saat itu Misbah menegur Fahri bahwa jangan-jangan semua kebaikan yang dilakukannya adalah pelarian dari kegelisahan akibat ditinggal Aisha.

Keberadaan Aisha di ruang psikis Fahrilah yang menggantikan keikhlasan yang seharusnya menjadi landasan segala amal Fahri.

Keinginan Fahri untuk memenuhi segala amanat Aisha dan harapan kembalinya Aisha adalah titik krusial psikologis yang menggerakan cerita ke arah wacana. Bahwa seorang Fahri Abdullah yang memiliki modal kehidupan lengkap diam-diam ternyata kehilangan pijakan paradigmatis.

Menurut saya, yang psikologis semacam inilah yang diam-diam merasuk pada jiwa penonton mendasari berbagai konstruksi narasi lainnya, termasuk kisah cinta dan (kemungkinan) poligami.

Menariknya, yang psikologis ini tidak dihadirkan dengan polos dalam film. Keapikan akting Fedi Nuril sebagai Fahri mendukung itu semua.

Kegugupan-kegugupan yang ditampakkan dalam menghadapi para perempuan dan saat menghadapi aksi-aksi “ekstrem” beberapa tetangganya menjadi penanda ada narasi psikologis tersebut. Hal inilah yang kemudian menjadikan cerita menarik untuk diikuti dari hanya pergerakan plot satu tokohnya; Fahri. Namun, tidak hanya Fahri yang menyimpan itu, Aisha juga.

AAC 2 juga adalah tentang perjalanan psikologis seorang Aisha yang bersembunyi di balik masa lalunya untuk mengantarkan Fahri (suaminya) ke masa depan.

Adegan-adegan Aisha di Palestina menjadi titik krusial bagi pergerakan Aisha pada keseluruhan cerita. Hanya, bangunan karakterisasi Aisha diganggu oleh hal lain yang menjadi twist besar AAC 2 (akan saya bahas kelak agar tidak spoiling).

Pada titik inilah kontestasi narasi psikologis antara Fahri dan Aisha menarik untuk dibaca. Namun, walau bagaimanapun, tulang punggung cerita ini adalah kisah dua manusia ini; kedatangan wanita-wanita lain adalah semacam eksposisi, dramatisasi, kelanjutan konflik utama, dan bukti dari kepahlawanan Fahri.

Hal ini bisa terbaca bila keseluruhan aksi cerita dimasukkan dalam scene function models (meminjam istilah Chatman).

Demikianlah, yang psikologis menjadi kelebihan AAC 2, bahkan jika dibandingan dengan AAC (2008) sekallipun. Bobot psikologis Fahri yang tampaknya biasa-biasa saja pada AAC 2 justru lebih besar dibandingkan dengan saat Fahri dirundung malang oleh fitnah Noura hingga dia dipenjara dan diadili pada AAC.

Begitupun, haru biru kisah temu-pisah Fahri-Aisha dalam AAC kadarnya di bawah narasi psikologis pisah-temu Fahri Aisha pada AAC 2.

Hal ini, tentu saja juga dibantu oleh faktor keberhasilan Guntur Suharjanto menghidupkan latar Edinburgh dalam cerita sehingga narasi yang dibangun menjadi nyata terasa.

Islam global
Bila dibaca secara semiotik, yang psikologis pada AAC 2 dapat menjadi simbol bagi keberadaan umat Islam global yang sedang terus menerus berupaya eksis dengan narasi-narasi heroik sejarah atau sirahnya.

Sementara secara psikologis terbelah antara kenyataan yang ada, masa lalu yang bahagia, dan masa depan yang masih misteri dirundung Islamophobia.

Karenanya, AAC 2 ini bisa juga dibaca sebagai upaya membangun psikologi umat dalam menghadapi deraan fitnah dan stigmatisasi global atas Islam dan muslim.

Pada titik inilah bila yang psikologis telah bergabung dengan yang sosiologis, film ini memiliki diferensiasi yang tajam dengan film-film tentang Islam lainnya dan hal ini yang ditunggu penonton apa pun agamanya.***

Post Author: M. Irfan Hidayatullah

M. Irfan Hidayatullah lahir di Tasikmalaya, 3 Maret 1973. Ia menyelesaikan pendidikan TK sampai SMA-nya di kota kelahirannya itu. Namun, setiap libur pendek maupun panjang, ia habiskan di rumah ayah-ibunya di tepi Pantai Pangandaran. Ia memang besar, selain dalam didikan ayah-ibu tercintanya, juga dalam asuhan kakek-neneknya di Tasikmalaya. Pada kultur dua ruang itulah (Tasikmalaya dan Pangandaran) ia tumbuh. Setelah selesai SMA, ia lantas menyelesaikan kuliah sarjananya di Jurusan Sastra Indonesia Unpad tempat ia sekarang bekerja sebagai dosen. Saat ini penulis tercatat sebagai mahasiswa S3 Pascasarjana Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI setelah pada tahun 2006 ia raih gelar magister Humaniora di tempat yang sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *