Rabu, September 30Literasi Berkeadaban - Berbakti, Berkarya, Berarti

Sedekahku dengan Tulisan

Bagaimana jika sedekah tidak selalu harus berasal dari isi dompet?

Pertanyaan sederhana itu menjadi semakin bermakna bagi saya sejak pandemi Covid-19.

Awalnya adalah kerisauan melihat kondisi yang dirasakan di saat terjadi pandemi covid-19, yang menjadi titik perubahan dari karyaku yang hanya ada di website dan tersimpan di laptop agar menjadi buku yang dapat kupegang. Ada rasa haru yang bercampur dengan bahagia, ternyata saat bisa mewujudkannya karena semua kegiatanku harus banyak yang diistirahatkan dan atau dijalani dengan online. Jadi banyak waktu yang dapat kugunakan untuk merapikan tulisan lalu dibukukan.

Saat banyak hal berubah dan kehidupan terasa tidak mudah, saya mulai melihat kembali apa yang bisa saya lakukan dengan sesuatu yang saya miliki: tulisan dan buku.

Dari sanalah muncul sebuah ikhtiar sederhana: menjadikan karya sebagai jalan berbagi.

Ketika karya menjadi jalan berbagi dan menguatkan sesama, itu benar kurasakan. Saat awal membukukan karyaku yang tercecer itu adalah karena ingin menjadi sedekah yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Aku ingin membukukan karyaku, lalu dijual dan hasilnya untuk donasi bagi yang terdampak covid-19. Mewakafkan karya di saat mungkin secara materi terbatas membantu saudara yang memerlukan dan dengan menjual buku motivasi ini, berharap bukan hanya secara materi dari hasil penjualannya dapat bermanfaat tetapi juga donatur dapat bacaan yang bergizi untuk dinikmati. Inilah awal mengapa saya ingin agar karya ini tidak hanya kunikmati sendiri dan mungkin pembaca website yang saat itu menjadi ajang setor karyaku yaitu dakwatuna itu saja. Kuingin agar karyaku bisa disebarkan melalui media lain yaitu buku. Apalagi saat ini dakwatuna sudah tidak ada lagi websitenya.

Dari Tulisan Menjadi Kebaikan

Beberapa buku yang saya tulis dan kemudian ikut dijual untuk mendukung dana kemanusiaan di antaranya:

Self Healing Energi Ketundukan Menyembuhkan Diri, Merayu Tuhan, Bengkel Diri, Wanita yang Dirindukan Penduduk Langit, Tiada Beban Tanpa Pundak, Berhentilah Sejenak, Mengeja Rasa, Hijrah Tak Cukup Sekali, Semua Ada Waktunya, dan Menjadi Hamba yang Ditolong Allah.

Buku-buku tersebut mulai saya jual sejak masa pandemi Covid-19.

Awalnya mungkin terlihat sederhana. Sebuah buku dijual kepada pembaca, kemudian sebagian hasilnya diarahkan untuk membantu donasi kemanusiaan. Baik itu yang terdampak covid-19, bencana dan juga untuk Palestina.

Tetapi ternyata, dari proses sederhana itu lahir sebuah rantai kebaikan yang panjang.

Ratusan buku telah terjual. Memang karyaku belum best seller, tapi kuharap dengan yang sedikit ini dapat memberi manfaat kebaikan untuk banyak orang. Dengan harga buku yang berkisar antara Rp50.000–Rp85.000, setiap bulan hasil lelang buku dapat terkumpul sekitar Rp500 ribu hingga Rp1 juta untuk disalurkan untuk donasi kemanusiaan. Jumlahnya mungkin tidak fantastis.

Tetapi saya belajar bahwa kebaikan memang tidak selalu harus dimulai dari jumlah yang besar.

Kadang ia dimulai dari satu buku.

Satu pembeli.

Satu tulisan.

Lalu perlahan menjadi sesuatu yang lebih besar.

Pembeli yang Tidak Hanya Membeli Buku

Hal yang paling berkesan dari perjalanan ini bukan sekadar jumlah buku yang terjual atau nominal yang terkumpul.

Yang membuat hati terasa hangat adalah melihat bagaimana para pembeli dan donatur mendapatkan dua kebahagiaan sekaligus.

Mereka mendapatkan buku yang bisa dibaca, menjadi asupan bagi pikiran dan hati, mendapatkan inspirasi dari tulisan di dalamnya, sekaligus merasa bahwa uang yang mereka keluarkan ikut membantu saudara-saudara yang sedang membutuhkan.

Jadi, mereka tidak merasa hanya “mengeluarkan uang”.

Mereka merasa mendapatkan sesuatu.

Mendapatkan buku yang bermanfaat sekaligus mendapatkan kesempatan untuk berbuat baik.

Ada pula orang-orang yang sengaja membeli karena mengetahui bahwa hasil penjualannya akan digunakan untuk kemanusiaan.

Mereka tidak hanya mencari buku yang ingin dibaca, tetapi juga mencari kesempatan untuk ikut berkontribusi. Aku merasa gayung tersambut, saat ajakan donasi dari penjualan buku ini yang menjadikan semangatku untuk menebar kebaikan sebisa yang kulakukan.

Agenda bedah buku dan lelang buku menjadi media penyebaran virus kebaikan, bahkan dari situ banyak yang minta diajarkan menulis dan berkarya untuk ikut berbagi kebaikan.

Semangat itu terasa semakin kuat ketika memasuki bulan Ramadan.

Ada yang sengaja ikut membeli dan melelang buku karena ingin memperbanyak amal di bulan yang penuh keberkahan. Buku menjadi barang yang berpindah tangan, tetapi bersama perpindahan itu ikut berpindah pula manfaat dan kepedulian.

Buku sampai kepada pembaca.

Dana sampai kepada mereka yang membutuhkan.

Dan semoga pahala kebaikan juga sampai kepada semua orang yang terlibat di dalamnya.

Kalau Dompetmu Tak Banyak, Mungkin Karyamu Bisa Berbicara

Dari pengalaman tersebut saya belajar satu hal:

Jangan merasa tidak bisa bersedekah hanya karena kita tidak memiliki banyak uang.

Kalau dompet kita belum banyak isinya, mungkin Allah memberi kita kemampuan lain.

Ada yang pandai menulis.

Ada yang pandai menggambar.

Ada yang memiliki jaringan dan kemampuan menggerakkan orang lain.

Semua itu bisa menjadi jalan kebaikan.

Kalau saya bisa menulis buku lalu menjualnya untuk dana kemanusiaan, mungkin orang lain juga bisa menemukan bentuk sedekahnya sendiri.

Sebab sedekah tidak harus selalu berbentuk uang yang kita berikan secara langsung.

Karya pun bisa menjadi pintu sedekah. Membumikan literasi untuk kebaikan. Literasi yang tidak berhenti di rak buku. Selama ini kita mengenal literasi sebagai aktivitas membaca dan menulis. Tetapi bagi saya, pengalaman ini membuat makna literasi terasa lebih luas. Tulisan bukan hanya kumpulan kata.

Buku bukan hanya benda yang memenuhi rak. Karya bisa menjadi jembatan antara pengetahuan dan kepedulian. Seseorang membeli buku untuk mendapatkan ilmu. Penulis mendapatkan apresiasi atas karyanya. Sebagian hasilnya disalurkan kepada kemanusiaan. Orang yang membutuhkan mendapatkan manfaat dari dana tersebut. Maka sebuah buku ternyata bisa melakukan perjalanan yang jauh lebih panjang daripada sekadar dari toko menuju rak pembaca. Ia bisa bergerak dari pikiran menuju hati, dari hati menuju kepedulian, dan dari kepedulian menuju aksi kemanusiaan.

Tidak Harus Menunggu Kaya untuk Berbagi

Sering kali kita berkata,

“Nanti kalau sudah punya banyak uang, saya akan banyak bersedekah.”

Padahal kita tidak pernah tahu kapan “nanti” itu akan tiba.

Mungkin hari ini kita belum punya banyak uang.

Tetapi kita punya waktu.

Kita punya ilmu.

Kita punya tenaga.

Kita punya kreativitas.

Kita punya karya.

Mengapa harus menunggu kaya untuk mulai memberi?

Bukankah lebih baik memulai dari apa yang ada?

Karena boleh jadi, sesuatu yang kita anggap kecil justru menjadi sangat berarti bagi orang lain.

Bagi saya, menjual buku untuk dana kemanusiaan adalah salah satu cara sederhana untuk mengatakan:

“Saya mungkin tidak memiliki banyak harta, tetapi saya ingin apa yang Allah titipkan kepada saya tetap memiliki manfaat bagi sesama.”

Saya tidak tahu sejauh mana tulisan-tulisan yang saya buat akan berjalan. Mungkin ada yang hanya dibaca satu kali. Mungkin ada yang disimpan di rak. Mungkin ada yang dibaca kembali ketika seseorang sedang membutuhkan penguatan.

Tetapi saya percaya, selama sebuah karya diniatkan untuk kebaikan, kita tidak pernah benar-benar tahu ke mana Allah akan membawa manfaatnya.

Sebuah buku yang ditulis di satu tempat bisa dibaca oleh seseorang di tempat lain.

Uang yang dibayarkan untuk sebuah buku bisa berubah menjadi makanan bagi korban bencana.

Bisa menjadi bantuan untuk saudara yang membutuhkan.

Bisa menjadi dukungan untuk kemanusiaan di Palestina.

Dan bisa menjadi bagian kecil dari sebuah perjuangan besar untuk membantu sesama.

Maka, mungkin inilah bentuk sedekahku dengan tulisan.

Saya menulis.

Orang membaca.

Karya diapresiasi.

Dana terkumpul.

Dan semoga dari sana lahir manfaat yang lebih luas.

Karena ternyata, kita tidak harus memiliki banyak untuk bisa berbagi. Kita hanya perlu menyadari apa yang Allah titipkan kepada kita, lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Kalau dompetmu belum banyak memberikan sebagian isinya untuk kemanusiaan, mungkin karyamu bisa menjadi jalan kebaikan.

Kalau belum bisa memberi banyak uang, mungkin bisa memberi ilmu.

Kalau belum bisa membantu dengan harta, mungkin bisa membantu dengan tenaga.

Dan kalau Allah memberimu kemampuan untuk menulis, tulislah sesuatu yang membuat orang lain mendapatkan asupan bagi jiwanya.

Sebab bisa jadi, satu tulisanmu bukan hanya menginspirasi seseorang untuk berubah.

Tetapi juga menjadi jalan bagi seseorang untuk membantu orang lain.

Seperti Motto dari Forum Lingkar Pena (FLP) : Berbakti – Berkarya – Berarti

Berbakti kepada Allah dengan Iman, menghasilkan karya menjadi amal shalih dan lalu kita akan berarti bagi Allah dan sesama. Semoga setiap kata yang lahir dari tangan kita tidak berhenti sebagai tinta di atas kertas, tetapi menjadi jejak kebaikan yang terus mengalir kepada sesama.

 

Choiriyah (Koordinator Divisi Kaderisasi BPP FLP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest

Share This