“Kalau saya seorang politikus, saya akan membela Palestina lewat politik. Kalau saya seorang penyanyi, saya akan membela Palestina lewat lagu. Jadi, karena saya seorang penulis, saya membela Palestina lewat buku.”
Demikian yang diungkapkan Helvy Tiana Rosa secara berapi-api pada sesi “Meet and Greet” di Panggung Lobi Indonesia International Book Fair 2026, JICC Senayan (1/10/2026). Acara ini membincangkan buku terbaru Helvy berjudul “Gaza: Suatu Malam di Jakarta” yang diterbitkan oleh Penerbit Obor.
Buku kumpulan cerpen tentang Palestina tersebut baru saja meraih IKAPI Award 2026 kategori “Book of the Year”. Menurut Helvy, dari pengalaman menulis lebih dari 45 tahun, buku Gaza adalah pencapaian terbaiknya.

Helvy telah menulis tentang Palestina sejak tahun 1988. Ia terus konsisten menulis untuk menyuarakan kemanusiaan dari berbagai format karya, tentu tanpa meninggalkan isu-isu lain di dalam negeri.
“Menulis tentang Palestina bukan berarti mengeksploitasi penderitaan. Saya hanya ingin kita menolak lupa,” ungkap Helvy.
Pada kata pengantar bukunya, Helvy menulis, “Bagi saya, sastra Indonesia memiliki peran yang melampaui estetika. Ia adalah bentuk diplomasi nurani, diplomasi budaya. Dalam sejarahnya, sastra Indonesia lahir dari pengalaman penjajahan, pengasingan, dan perlawanan. Keberpihakan sastra Indonesia kepada Palestina bukanlah sikap impor, melainkan kelanjutan dari ingatan kolektif kita sendiri sebagai bangsa yang pernah dirampas hak hidupnya.”
Acara Meet and Greet juga menghadirkan Tere, mantan penyanyi dan anggota DPR RI yang kini berkiprah sebagai aktivis kemanusiaan. Tere mengaku banyak mendapat inspirasi dari buku Gaza. Ia menganggap buku tersebut adalah buku penting sebagai cermin dari hati seseorang: Apa reaksi saya? Bagaimana hati saya?

“Buku Gaza bukan sekadar tulisan, tetapi energi yang dipancarkan penulis untuk memvibrasi hati yang belum mati. Pembaca dapat merasakan energi itu,” kata Tere.
Pada acara itu, Tere juga membacakan salah satu cerpen dalam buku Gaza.
Helvy tak ketinggalan mendeklamasikan puisi Palestina-nya. Energi Helvy seolah tidak pernah habis. Ia terus menjadi inspirasi bagi penulis dan pembaca di Indonesia, terutama bagi anggota Forum Lingkar Pena.

