PADANG-Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Sumatera Barat kembali mempercayakan Lindawati untuk memimpin organisasi pada periode 2026–2028. Keputusan tersebut diambil dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) FLP Sumatera Barat yang berlangsung pada Ahad (28/6/2026) di Palanta Rumah Dinas Wali Kota Padang, Jalan Ahmad Yani.
Mengusung tema “Gerakan Literasi Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045: Melompat Lebih Tinggi, Berlari Lebih Jauh”, Musyawarah Wilayah tidak hanya menjadi forum tertinggi organisasi untuk mengevaluasi kepengurusan dan menetapkan arah kepemimpinan dua tahun ke depan, tetapi juga menjadi momentum memperkuat komitmen FLP sebagai rumah bagi para penulis sekaligus penggerak literasi di Sumatera Barat.
Kegiatan ini dihadiri oleh pengurus wilayah, pengurus cabang, dan anggota FLP dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Barat. Rangkaian Muswil diperkaya dengan Seminar Literasi, peluncuran buku antologi cerpen Singkarak, Riang dan Sendunya karya Ragdi F. Daye, serta penganugerahan FLP Award kepada anggota yang dinilai paling produktif berkarya selama periode kepengurusan.
Hadir langsung dalam kegiatan tersebut Ketua Umum Forum Lingkar Pena, Nafi’ah Al Ma’rab, yang dalam sambutannya mengingatkan kembali jati diri FLP sebagai organisasi kepenulisan yang bertumpu pada kualitas.
“Poin penting Forum Lingkar Pena adalah mengutamakan kualitas dalam berkarya melalui tiga pilar yaitu kepenulisan, keorganisasian, dan keislaman. Salah satu indikasi literat yaitu bisa menghasilkan karya di bidang yang kita tekuni,” ujar Nafi’ah.
Salah satu agenda utama Musyawarah Wilayah adalah penyampaian laporan pertanggungjawaban kepengurusan FLP Sumatera Barat periode 2024–2026. Dalam laporannya, Lindawati menyampaikan bahwa setiap kepengurusan sejatinya merupakan bagian dari perjalanan panjang organisasi yang saling menyambung dari satu periode ke periode berikutnya.
“Saya meyakini bahwa setiap kepengurusan hanyalah bagian dari mata rantai perjuangan yang akan terus berlanjut. Apa yang telah kita bangun bersama selama ini tentu masih jauh dari sempurna, namun saya percaya fondasi yang telah diletakkan akan menjadi pijakan bagi kepengurusan berikutnya untuk melangkah lebih jauh,” ungkapnya.
Pandangan tersebut menjadi refleksi bahwa membangun organisasi literasi bukanlah pekerjaan yang selesai dalam satu periode kepengurusan. Setiap pengurus hanya mengambil peran untuk memperkuat fondasi yang nantinya akan dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
Melalui sidang pleno yang berlangsung dalam suasana musyawarah mufakat, peserta kemudian kembali memberikan amanah kepada Lindawati untuk memimpin FLP Sumatera Barat periode 2026–2028. Kepercayaan yang kembali diberikan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kepemimpinannya selama periode sebelumnya sekaligus harapan agar FLP Sumatera Barat semakin berkembang dan mampu menjangkau lebih banyak komunitas literasi di berbagai daerah.
Usai ditetapkan sebagai ketua terpilih, Lindawati menegaskan komitmennya untuk melanjutkan sekaligus memperkuat berbagai program organisasi.
“Tentunya kita akan melanjutkan program-program sebelumnya, meningkatkan kerja sama dengan internal pengurus, mengokohkan lagi struktur organisasi, serta memperkuat eksistensi berkarya,” ujarnya.
Ke depan, kepengurusan baru diharapkan mampu melahirkan lebih banyak penulis, meningkatkan produktivitas penerbitan buku, memperluas kolaborasi dengan berbagai pihak, serta menghadirkan gerakan literasi yang semakin berdampak bagi masyarakat Sumatera Barat.

Selain agenda organisasi, peserta juga mengikuti Seminar Literasi yang menghadirkan enam narasumber, yakni Azwar, Lindawati, Ragdi F. Daye, Alizar Tanjung, Nafi’ah Al Ma’rab, dan Elly Delvia.
Melalui perspektif pendidikan, sosial budaya, kepenerbitan, organisasi, hingga kemahasiswaan, para narasumber membedah tema besar “Gerakan Literasi Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045: Melompat Lebih Tinggi, Berlari Lebih Jauh.”
Dalam salah satu sesi seminar, Lindawati menegaskan bahwa budaya literasi harus ditanamkan sejak lingkungan terkecil.
“Memberdayakan literasi dimulai dari keluarga oleh seorang ibu, dan di kelas oleh guru dengan tujuan membumikan literasi dan melangitkan karya,” tuturnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa gerakan literasi merupakan tanggung jawab bersama. Keluarga menjadi ruang pertama untuk menanamkan kecintaan terhadap membaca, sementara sekolah dan komunitas berperan memperkuatnya hingga melahirkan generasi yang gemar berkarya.
Semangat berkarya itu juga diwujudkan melalui peluncuran buku antologi cerpen Singkarak, Riang dan Sendunya karya Ragdi F. Daye. Buku tersebut menghadirkan kisah-kisah yang mengangkat kekayaan lokal Sumatera Barat dari berbagai sudut pandang, mulai dari keindahan alam, sejarah, budaya, tradisi, hingga dinamika kehidupan masyarakat di sekitar Danau Singkarak. Peluncuran buku ini menjadi salah satu bentuk komitmen FLP dalam mendokumentasikan kekayaan lokal melalui karya sastra sekaligus memperkaya khazanah literasi daerah.
Ragdi F. Daye sendiri merupakan penulis produktif yang telah melahirkan sejumlah karya, antara lain Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu (2010), Rumah yang Menggigil (2016), Esok yang Selalu Kemarin (2019), dan Singkarak, Riang dan Sendunya (2026). Penulis yang kini menetap di Kota Padang tersebut juga pernah menjadi peserta Ubud Writers and Readers Festival 2011.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap semangat berkarya para anggotanya, kegiatan Muswil juga diwarnai dengan menyerahkan FLP Award kepada penulis yang dinilai paling produktif selama periode kepengurusan. Penghargaan diberikan dalam tiga kategori, yaitu Penulis Teraktif Kategori Paling Banyak Menerbitkan Buku, Penulis Teraktif Kategori Paling Banyak Menjuarai Lomba Menulis, dan Penulis Teraktif Kategori Paling Banyak Menulis di Media Daring. Penghargaan tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh anggota untuk terus meningkatkan kualitas karya sekaligus memperluas kontribusi literasi bagi masyarakat.
Musyawarah Wilayah tahun ini bukan sekadar memilih seorang ketua. Lebih dari itu, Muswil menjadi ruang untuk meneguhkan kembali arah perjuangan Forum Lingkar Pena di Sumatera Barat: membangun organisasi yang sehat, melahirkan karya-karya bermutu, serta memperluas gerakan literasi hingga menjangkau lebih banyak masyarakat.
Dengan semangat “Melompat Lebih Tinggi, Berlari Lebih Jauh”, FLP Sumatera Barat berharap dapat terus menjadi rumah yang menumbuhkan penulis, merawat budaya membaca, memperkokoh persaudaraan dalam berkarya, dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. []
