Minggu, Juni 21Literasi Berkeadaban - Berbakti, Berkarya, Berarti

Tumbuhkan Cinta Baca Melalui Read Aloud, Divisi Rumah Cahaya Gelar Pelatihan Read Aloud

JAKARTA-Ada banyak cara menumbuhkan minat baca pada anak. Satu metode yang relatif sederhana, murah, dan dapat dilakukan siapa saja adalah read aloud atau membacakan nyaring. Berangkat dari keyakinan bahwa kegiatan sederhana ini memiliki dampak besar dalam membangun budaya literasi, Divisi Rumah Cahaya Badan Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena (BPP FLP) menggelar Pelita Cahaya: Pelatihan Read Aloud pada Sabtu (20/6/2026) secara daring melalui Zoom Meeting.

PELITA CAHAYA merupakan singkatan dari Pelatihan Literasi Rumah Cahaya, salah satu program unggulan Divisi Rumah Cahaya BPP FLP periode 2025–2029 yang bertujuan meningkatkan kapasitas pengelola Rumah Cahaya, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), pegiat literasi, guru, maupun orang tua dalam mengembangkan kegiatan literasi di lingkungan masing-masing.

Kegiatan yang berlangsung selama dua jam, mulai pukul 20.00 hingga 22.00 WIB tersebut dipandu oleh Sukmawati dari FLP Kota Bandung sebagai pembawa acara dan dimoderatori oleh Amrullah dari FLP Sumatera Barat. Hadir sebagai narasumber Kiki Masduki, pengelola TBM Semesta Hikmah Ciamis, Jawa Barat, yang selama ini dikenal aktif mengembangkan praktik read aloud di lingkungan keluarga maupun komunitas literasi.

Dalam sambutannya, Ketua Umum Forum Lingkar Pena, Sugiarti atau yang lebih dikenal dengan nama pena Nafi’ah Al Ma’rab, menegaskan bahwa membaca nyaring merupakan salah satu keterampilan dasar yang penting dimiliki oleh para pegiat literasi.

Sugiarti yang juga merupakan Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Kota Pekanbaru juga mengingatkan bahwa mengelola Rumah Cahaya atau TBM pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan mengelola sebuah organisasi. Dibutuhkan perencanaan, pengelolaan program, serta kemampuan menghadirkan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Rumah Cahaya adalah sebuah organisasi yang memiliki struktur dan manajemen sebagaimana Forum Lingkar Pena. Karena itu, pelatihan seperti ini diharapkan dapat membantu para pengelola Rumah Cahaya agar semakin baik dalam mengelola program dan kegiatan literasi ke depan,” tuturnya.

Memasuki sesi utama, Kiki Masduki mengawali pemaparannya dengan berbagi pengalaman pribadi mengenai read aloud. Ketertarikannya terhadap metode ini bahkan sudah dimulai sejak anaknya masih berada dalam kandungan. Pengalaman tersebut kemudian terus berkembang, baik dalam kehidupan keluarga maupun di ruang kelas tempat ia mengajar. Bahkan saat ini ia tengah menyelesaikan skripsi yang mengangkat tema read aloud sebagai objek penelitian.

Menurut Kiki, manfaat membaca nyaring tidak hanya terbatas pada upaya memperkenalkan buku kepada anak-anak.

“Read aloud tidak hanya mendekatkan anak dengan buku, tetapi yang lebih penting adalah membangun ikatan antara anak dan orang tua. Salah satu momen terbaik untuk membangun bonding antara anak dan orang tua adalah saat melakukan read aloud,” paparnya.

Dalam pelatihan tersebut, Kiki menjelaskan sejumlah langkah penting yang perlu diperhatikan sebelum melakukan kegiatan membaca nyaring. Tahap pertama adalah persiapan, terutama dalam memilih bahan bacaan yang sesuai dengan usia dan karakteristik pendengar.

“Buku yang dibacakan untuk anak usia PAUD tentu berbeda dengan buku untuk anak kelas satu, kelas dua, dan seterusnya. Karena itu kita harus memahami siapa pendengar kita sebelum menentukan bacaan,” jelasnya.

Selain pemilihan buku, ia juga menekankan pentingnya penggunaan intonasi, ekspresi, dan interaksi selama proses membaca berlangsung. Menurutnya, read aloud bukanlah aktivitas membaca satu arah, melainkan komunikasi dua arah yang melibatkan anak secara aktif.

Karena itu, setelah sesi membaca selesai, anak-anak perlu diajak berdialog kembali. Mereka bisa diminta menceritakan ulang isi cerita, menjawab pertanyaan sederhana, atau menyampaikan pendapat mengenai tokoh dan peristiwa dalam buku yang dibacakan.

“Kegiatan lanjutan setelah membaca juga penting. Selain melatih pemahaman, hal itu membantu anak belajar berbicara, mengungkapkan pendapat, dan membangun rasa percaya diri,” ujarnya.

Untuk menambah semangat anak-anak, Kiki juga menyarankan agar pengelola TBM, guru, maupun orang tua menyiapkan bentuk apresiasi sederhana seperti permen, cokelat, atau hadiah kecil lainnya.

Pelatihan ini diikuti puluhan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka berasal dari beragam latar belakang, mulai dari pengelola Rumah Cahaya, pegiat TBM, guru, hingga orang tua yang ingin memperkenalkan budaya membaca kepada anak-anak mereka.

Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung hangat. Berbagai pertanyaan diajukan, mulai dari teknik pelaksanaan hingga usia ideal untuk memulai kegiatan membaca nyaring.

Salah satu peserta, Yosi Gumala dari FLP Sumatera Barat, menanyakan sejak usia berapa read aloud dapat dilakukan kepada anak. Menjawab pertanyaan tersebut, Kiki menegaskan bahwa membaca nyaring dapat dimulai sejak sangat dini.

“Read aloud bisa dilakukan sejak anak berusia nol bulan, bahkan sejak masih berada dalam kandungan. Aktivitas ini memberikan stimulasi positif yang baik bagi perkembangan anak,” jelasnya.

Pertanyaan lain datang dari Hanny Kurnia Lestari yang menanyakan bagaimana cara menumbuhkan kebiasaan membaca pada anak. Menurut Kiki, langkah pertama adalah menyediakan buku di rumah dan menjadikan buku sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Selain itu, orang tua juga perlu menjadwalkan aktivitas keluarga yang berkaitan dengan literasi, seperti berkunjung ke perpustakaan atau toko buku. Ia juga mengingatkan pentingnya membatasi penggunaan gawai dan memberikan teladan kepada anak.

“Anak akan lebih mudah mencintai buku jika melihat orang tuanya juga membaca. Karena itu, orang tua harus menjadi contoh terlebih dahulu,” katanya.

Kiki turut menyarankan agar orang tua mencari versi buku dari tontonan yang disukai anak. Dengan cara itu, anak dapat beralih dari sekadar menikmati cerita melalui layar menjadi mengenal cerita melalui buku.

Menariknya, sesi diskusi tidak hanya diisi pertanyaan. Sejumlah peserta juga berbagi pengalaman pribadi mengenai manfaat read aloud yang mereka rasakan. Salah seorang peserta menceritakan bagaimana kebiasaan membaca nyaring sejak anaknya masih bayi berdampak positif terhadap kemampuan belajar, konsentrasi, dan kecintaan anak terhadap buku.

Melalui kegiatan ini, Divisi Rumah Cahaya BPP FLP berharap semakin banyak pengelola Rumah Cahaya, TBM, guru, dan orang tua yang memahami pentingnya read aloud sebagai salah satu pintu masuk menumbuhkan budaya baca. Karena sesungguhnya, di balik kegiatan yang tampak sederhana ini tersimpan dampak yang besar. Dari sebuah cerita yang dibacakan dengan penuh kehangatan, bisa tumbuh kecintaan terhadap buku. Dari kecintaan terhadap buku, lahirlah pembelajar sepanjang hayat. Dan dari sana pula, bukan tidak mungkin akan tumbuh penulis, pendidik, maupun penggerak literasi di masa depan. []

*) Uda Agus, Koordinator Divisi Rumah Cahaya BPP FLP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest

Share This